AS Tak Bisa Diandalkan Hadapi Houthi, Saudi Bergantung pada Pakistan
Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry, direktur jenderal divisi media militerPakistan, mengatakan kepada surat kabar Saudi Arab News bahwa Islamabad mendukung Arab Saudi, baik secara diplomatik maupun fisik.
"Saya ingin menekankan kata 'fisik' di sini," ujar Chaudhry. "Kami akan melakukan segala upaya yang diperlukan."
Pekan lalu, Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan bahwa belum ada pembahasan mengenai peluncuran respons militer berdasarkan perjanjian Mekkah menyusul serangan Houthi terhadap Arab Saudi.
Kendati demikian, Islamabad menegaskan kembali komitmennya terhadap perjanjian tersebut. Pakistan menyatakan akan bertindak ketika "saatnya tiba", tanpa merinci situasi apa yang akan memicu tindakan semacam itu.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif awal bulan ini mengatakan bahwa setiap serangan terhadap Arab Saudi dapat mengaktifkan Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah.
"Kami terikat oleh syarat dan ketentuan pakta ini, dan... kami akan memenuhinya jika diperlukan," ujarnya dalam sebuah wawancara pada 8 September.Pasukan koalisi pimpinan Saudi pada hari Sabtu menyatakan bahwa kelompok Houthi menembakkan rudal balistik ke arah Riyadh saat fajar, sebelum rudal tersebut dicegat dan dihancurkan.
"Houthi juga berupaya menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil di Bisha, Taif, Farasan, dan Yanbu," tulis juru bicara pasukan koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, di platform X. Ia menambahkan bahwa serangan-serangan tersebut berhasil digagalkan oleh sistem pertahanan udara kerajaan. Sementara itu, di lapangan di Yaman, angkatan bersenjata pemerintah yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi menyatakan bahwa pasukan mereka menggagalkan upaya infiltrasi Houthi di sektor al-Fuliahan, Marib selatan, pada hari Sabtu, menewaskan 12 petempur Houthi dan melukai sejumlah lainnya.
Setelah merebut kota pelabuhan Laut Merah, Mocha, kelompok Houthi terus bergerak maju menuju Marib—sebuah provinsi kaya minyak yang masih berada di bawah kendali pemerintah yang didukung Arab Saudi.
Di tengah kemajuan militer Houthi, Wakil Presiden JD Vance pada hari Senin menyatakan bahwa Washington menjalin komunikasi erat dengan Arab Saudi dan telah melakukan pembicaraan langsung dengan pihak Houthi.
Kapal Induk Nuklir George Washington AS Sudah Tiba di Timur Tengah untuk Perang Melawan Iran
Eskalasi saat ini menandai pertempuran paling serius yang melibatkan Houthi dan pasukan pro-Saudi sejak gencatan senjata yang ditengahi PBB menghentikan permusuhan berskala besar di Yaman pada tahun 2022. Houthi telah berhasil menguasai wilayah di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman, termasuk di sekitar Selat Bab al-Mandeb yang memiliki nilai strategis penting.Bab al-Mandeb merupakan jalur utama yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden; arti penting selat ini semakin meningkat di saat pelayaran melalui Selat Hormuz masih mengalami gangguan.
Kelompok tersebut juga telah meningkatkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) terhadap Arab Saudi, dengan sasaran kota-kota serta infrastruktur energi.
Sejauh ini, Presiden AS Donald Trump enggan mengambil tindakan militer langsung terhadap Houthi.
Pekan lalu, kantor berita Reuters—mengutip sejumlah sumber—melaporkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman telah meminta bantuan militer kepada presiden AS untuk memerangi Houthi.
Nasib Pria Kosovo: Jadi Mata-mata CIA hingga Menyusup ke al-Qaeda, tapi Kini Bakal Diusir AS
Trump tidak menyetujui serangan AS terhadap kelompok tersebut, namun Washington menyampaikan kepada Riyadh bahwa mereka akan memberikan bantuan berupa pertukaran intelijen dan penentuan target serangan, tambah sumber-sumber tersebut.Sikap ini kontras dengan kampanye Washington melawan Houthi pada tahun lalu, ketika pasukan AS membombardir kelompok tersebut selama dua bulan sebelum kedua belah pihak menyepakati gencatan senjata.
Kendati demikian, pemerintahan Trump tetap melanjutkan hubungan pertahanan yang lebih luas dengan Riyadh. Pada hari Kamis, Departemen Luar Negeri AS menyetujui potensi penjualan 48 jet tempur F-35 ke Arab Saudi dalam kesepakatan senilai 24,3 miliar dolar AS, meskipun penjualan tersebut masih memerlukan persetujuan Kongres.
William Lawrence, seorang mantan diplomat AS, mengatakan bahwa Washington kemungkinan besar akan terlibat dalam konflik tersebut. "Menurut saya, pada akhirnya mereka akan melakukannya," ujar Lawrence, seorang profesor hubungan internasional di American University, kepada Al Jazeera.
"Di masa lalu, mereka telah menunjukkan kesediaan untuk terlibat dalam masalah Yaman ketika hal itu menyangkut kepentingan mereka sendiri."
Ia menyoroti kaitan antara konflik di Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb dengan ekonomi global, serta komitmen keamanan AS terhadap Arab Saudi.Lawrence mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir, muncul pandangan yang kian menguat di AS bahwa negara itu "perlu melakukan sesuatu" untuk membantu melind...
untuk mempengaruhi Arab Saudi dan mencegah Houthi mengkonsolidasikan kemenangan mereka.
“Bentuknya seperti apa belum jelas,” katanya.
Namun Lawrence mengatakan Washington sudah sangat terlibat, dengan sekitar 100 penasihat militer AS di Arab Saudi dan dukungan intelijen, pengawasan, dan pengintaian yang ekstensif.
“Jadi, tidak akan terlalu sulit bagi Amerika untuk terlibat lebih jauh,” katanya.









