Meski Jadi Sekutu, Korea Selatan Tolak Tekanan AS untuk Kerahkan Militer ke Selat Hormuz

Meski Jadi Sekutu, Korea Selatan Tolak Tekanan AS untuk Kerahkan Militer ke Selat Hormuz

Global | sindonews | Minggu, 20 September 2026 - 11:06
share

Korea Selatan (Korsel) telah menjadi salah satu sekutu utama Amerika Serikat (AS) di Asia. Namun, Seoul menolak tekanan dari Washington untuk mengerahkan Angkatan Laut-nya ke Selat Hormuz.

Penolakan itu disampaikan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung. Dia menegaskan tidak akan membiarkan negaranya diseret dalam perang AS melawan Iran yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Iran Kirim 7 Syarat ke Trump, Ancam Ubah Doktrin Nuklir

"Tidak akan ada pengerahan yang terlibat atau terjun ke dalam perang. Saya bisa tegaskan hal itu dengan sangat jelas," ujarnya dalam konferensi pers. "Kami tidak akan mengerahkan aset militer dalam bentuk apa pun untuk tujuan tersebut," ujarnya.

Lee memberikan catatan tambahan pada pernyataannya, dengan mengatakan bahwa Korea Selatan sedang mempertimbangkan untuk berperan dalam menjamin kebebasan navigasi di kawasan tersebut hanya untuk kepentingannya sendiri.

"Jelas pula bahwa kami harus melakukan langkah minimal—seperti yang dilakukan negara-negara lain—untuk melindungi pelayaran komersial dan pengiriman minyak mentah kami, serta keselamatan rakyat kami," katanya, seperti dikutip dari The New Arab, Minggu (20/9/2026).Pernyataan Lee muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap pelayaran komersial di sekitar Timur Tengah, khususnya di Teluk dan Laut Merah, akibat tindakan Iran dan kelompok Houthi. Tindakan tersebut merupakan upaya untuk menekan ekonomi global sebagai respons terhadap perang AS-Israel yang dimulai pada bulan Februari.

Perang tersebut telah berdampak langsung pada Korea Selatan, yang sebelum pecahnya perang mengimpor 70 minyaknya dari wilayah Teluk, serta sebagian besar kebutuhan LNG-nya.

Situasi ini juga terjadi di tengah ancaman dari Presiden AS Donald Trump, yang pada bulan Agustus meminta Korea Selatan untuk membantu Amerika terkait masalah Iran, dan kemudian menyatakan akan mengurangi latihan militer setelah Korea Selatan menolak permintaan tersebut.

Dia juga mempertanyakan alasan Korea Selatan menolak, mengingat puluhan ribu tentara AS ditempatkan di negara tersebut. "Kami menempatkan 39.000 tentara di sana untuk melindungi Anda dari Kim Jong-un, tetangga Anda. Namun, Anda tidak mau membantu kami dalam operasi militer yang sangat mudah di Iran? Itu aneh," ujarnya.

Trump dan jajaran pemerintahannya juga mengkritik sekutu-sekutu Eropa karena tidak terlibat dalam perang melawan Iran.AS menempatkan 28.500 personel militer di Korea Selatan. Ini merupakan salah satu penempatan militer AS terlama yang berlangsung tanpa henti, mengingat pasukan tersebut telah berada di sana sejak tahun 1957.

Sejak dimulainya perang melawan Iran, AS telah memindahkan sebagian peralatan militer canggihnya keluar dari Korea Selatan, terutama baterai rudal Patriot dan THAAD yang diperlukan untuk mencegat rudal balistik Iran.

Bersamaan dengan pernyataan Lee tersebut, Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyatakan bahwa Cho telah menjelaskan kepada Rubio bahwa negaranya akan berkontribusi dalam memulihkan kebebasan navigasi, meskipun tidak merinci bentuk kontribusi tersebut.

Topik Menarik