Jepang Lirik Senjata Nuklir, China dan Rusia Ketar-ketir

Jepang Lirik Senjata Nuklir, China dan Rusia Ketar-ketir

Global | sindonews | Jum'at, 21 Agustus 2026 - 07:04
share

Rusia dan China sama-sama menentang militerisasi Jepang yang semakin cepat serta meningkatnya perdebatan mengenai kemungkinan Jepang memiliki senjata nuklir. Duta Besar China untuk Rusia, Zhang Hanhui, mengatakan kebijakan Tokyo tersebut dapat memicu perlombaan senjata baru.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan TASS, Kamis (20/8/2026), Zhang mengatakan Moskow dan Beijing telah mencapai tingkat konsensus yang tinggi mengenai Jepang. “Beijing dan Moskow menilai perlu untuk tetap sangat waspada dan dengan tegas menentang remiliterisasi Jepang yang dipercepat serta upayanya memperoleh senjata nuklir,” tulisnya.

Baca Juga: AS Bicara Kemungkinan Perang Nuklir, Sebut Rusia dan China Lawan Setara

Diplomat Beijing tersebut memperingatkan bahwa jika Tokyo memutuskan untuk membuat senjata nuklir sendiri, keseimbangan strategis di Asia Timur Laut akan terganggu sepenuhnya. "Dan perlombaan senjata nuklir di kawasan dapat meletus kapan saja," paparnya.

“Jika kelompok sayap kanan Jepang terus bermain api dalam kebijakan nuklir, rakyat Jepang pada akhirnya sekali lagi akan mendapati diri mereka berada di kursi pesakitan sejarah,” imbuh Zhang.

Peringatan China tersebut muncul setelah pada Desember 2025 seorang pejabat senior yang terlibat dalam penyusunan kebijakan keamanan Perdana Menteri Sanae Takaichi berpendapat bahwa Jepang perlu mempertimbangkan untuk memiliki senjata nuklir karena payung nuklir Amerika Serikat semakin tidak dapat diandalkan.“Pada akhirnya, kita hanya bisa mengandalkan diri sendiri,” kata pejabat tersebut.

Secara terbuka, Takaichi menegaskan bahwa Jepang masih berpegang pada tiga prinsip non-nuklir, yakni kebijakan lama yang menyatakan Tokyo tidak akan memiliki, memproduksi, ataupun mengizinkan masuknya senjata nuklir ke wilayahnya.

Namun, Takaichi telah mempertanyakan prinsip yang terakhir. Sementara itu, Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi berpendapat: “Salah satu topik yang tidak dapat kita hindari adalah senjata nuklir." Dia menambahkan bahwa masalah tersebut harus dibahas tanpa tabu apa pun.

Dalam konteks tersebut, Zhang menuduh para pemimpin Jepang menyembunyikan ambisi nuklir di balik status negara tersebut sebagai satu-satunya negara yang pernah mengalami serangan bom atom dalam perang. Dia mengatakan para pemimpin Jepang telah memulai eksperimen berbahaya dalam kebijakan nuklir sambil berupaya menghidupkan kembali semangat militerisme.

Diplomat tersebut juga menyinggung kemampuan nuklir Jepang dengan mengingatkan bahwa negara itu memiliki sekitar 44,4 ton plutonium sipil yang telah dipisahkan.

“Jumlah ini cukup untuk memproduksi sekitar 5.500 hulu ledak nuklir,” katanya. “Dengan adanya keinginan dan kemampuan yang memadai, Jepang menjadi kekuatan nuklir tidak lagi terlihat sebagai sesuatu yang hanya fantasi," paparnya.

Rusia juga telah menyampaikan kekhawatiran serupa. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyebut perdebatan mengenai revisi prinsip non-nuklir Jepang sebagai “sinyal serius”, sementara Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrey Rudenko memperingatkan bahwa meninggalkan kebijakan tersebut akan memperburuk situasi keamanan di Asia Timur Laut.

Topik Menarik