Israel Gelisah AS Jual 48 Jet Tempur Siluman F-35 ke Arab Saudi, Minta Kompensasi Senjata Canggih

Israel Gelisah AS Jual 48 Jet Tempur Siluman F-35 ke Arab Saudi, Minta Kompensasi Senjata Canggih

Global | sindonews | Minggu, 20 September 2026 - 13:06
share

Israel telah menyuarakan kegelisahannya setelah pemerintah Amerika Serikat (AS) menyetujui penjualam 48 unit jet tempur siluman F-35 ke Arab Saudi. Menurut laporan media Zionis, Tel Aviv berencana meminta tambahan persenjataan canggih dari Washington sebagai bentuk "kompensasi".

Situs berita Walla yang berbasis di Israel melaporkan bahwa Tel Aviv akan berupaya membeli sistem persenjataan canggih yang sebelumnya tidak disetujui oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Baca Juga: AS Akhirnya Jual 48 Jet Tempur Siluman F-35 ke Arab Saudi meski Khawatir Teknologinya Dicuri China

Permintaan tersebut mencakup senjata berbasis antariksa, kemampuan intersepsi pesawat, serta perluasan pengembangan dan produksi sistem pencegat oleh Israel.

"Senjata yang direncanakan akan diminta oleh Israel juga mencakup amunisi penghancur bunker dan sistem bawah tanah yang mampu beroperasi jauh di dalam pegunungan berbatu," tulis media Zionis tersebut dalam laporannya, yang dikutip Middle East Monitor, Minggu (20/9/2026).

Pada hari Kamis, Departemen Luar Negeri AS menyetujui potensi penjualan paket persenjataan, termasuk 48 unit jet tempur F-35, ke Arab Saudi senilai USD24,3 miliar. Menurut dokumen pemberitahuan kepada Kongres AS, selain puluhan pesawat tempur, paket itu juga mencakup 49 mesin Pratt & Whitney F135-PW-100, peralatan kriptografi, dukungan peperangan elektronik, serta paket pelatihan dan logistik.Jika terealisasi, kesepakatan ini akan menjadikan Arab Saudi sebagai negara Arab pertama yang memiliki jet tempur F-35, sementara saat ini Israel merupakan satu-satunya operator pesawat tersebut di Timur Tengah.

"Penjualan yang diusulkan ini akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi dalam menangkal ancaman saat ini maupun di masa depan dengan memperkuat pertahanan wilayahnya serta meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan Amerika Serikat," kata Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan.

"Kesepakatan tersebut juga akan menambah armada pesawat operasional Arab Saudi serta meningkatkan kemampuan pertahanan udara-ke-udara dan udara-ke-darat," lanjut pernyataan itu.

Kesepakatan itu masih membutuhkan persetujuan para anggota parlemen AS. Washington belum memberikan jadwal pengiriman jet-jet tersebut.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan penjualan F-35 tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan, sejalan dengan kebijakan lama Washington yang mengharuskan Israel tetap memiliki keunggulan militer atas negara-negara yang berpotensi menjadi rival di kawasan. Sejauh ini, Amerika Serikat hanya mengizinkan penjualan F-35 kepada sekutu-sekutu terdekatnya, termasuk sejumlah negara anggota NATO di Eropa dan Israel.

Para pejabat Israel sebelumnya telah berulang kali mengkritik Arab Saudi karena penolakannya untuk menormalisasi hubungan dengan Tel Aviv sebelum berdirinya negara Palestina berdasarkan perbatasan tahun 1967—sebuah syarat yang didukung oleh komunitas internasional namun terus ditolak oleh Israel. Negara Timur Tengah lainnya yang nyaris memiliki F-35 adalah Turki. Namun, Washington mengeluarkan Turki dari program F-35 pada 2019 setelah Ankara membeli sistem pertahanan udara S-400 Rusia. Keputusan itu diambil karena AS khawatir Moskow dapat memperoleh akses terhadap teknologi jet tempur tersebut.

Keputusan terbaru Washington untuk Riyadh diambil meski komunitas intelijen Amerika khawatir China dapat mencuri rahasia teknologi jet tempur F-35 melalui aktivitas spionase atau melalu kemitraan Beijing dengan Riyadh. Kekhawatiran itu telah diungkap The New York Times dalam laporannya.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS Raja Krishnamoorthi, politikus Partai Demokrat yang duduk di Komite Intelijen DPR, menyatakan menentang penjualan F-35 tersebut dengan alasan kekhawatiran dari komunitas intelijen.

"Kesepakatan tersebut seharusnya tidak dilanjutkan ketika komunitas intelijen kita sendiri memperingatkan bahwa hal itu dapat menempatkan mahkota teknologi militer Amerika yang paling berharga dalam jangkauan Partai Komunis China," kata Krishnamoorthi dalam sebuah pernyataan.

Topik Menarik