Nasib Pria Kosovo: Jadi Mata-mata CIA hingga Menyusup ke al-Qaeda, tapi Kini Bakal Diusir AS

Nasib Pria Kosovo: Jadi Mata-mata CIA hingga Menyusup ke al-Qaeda, tapi Kini Bakal Diusir AS

Global | sindonews | Jum'at, 21 Agustus 2026 - 08:02
share

Seorang pria kelahiran Kosovo mengaku telah bertahun-tahun bekerja secara rahasia untuk Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat (AS) dan membantu pihak berwenang memburu para teroris. Namun, dia sekarang menghadapi ancaman deportasi dari AS.

Menurut laporan CBS News, Jumat (21/8/2026), Blerim Skoro (55), ayah tiga anak, ditangkap oleh Immigration and Customs Enforcement (ICE) pada 3 Agustus ketika berada di kantor imigrasi di New Jersey untuk memperbarui dokumen keimigrasiannya.

Baca Juga: Iran Berhasil Serang Situs CIA, Amerika Curiga Rusia Terlibat

Tim pengacara Skoro telah membawa kasus tersebut ke pengadilan federal untuk menghentikan deportasinya ke Kosovo. Mereka berpendapat bahwa pemerintah AS sebelumnya telah melindunginya dari deportasi karena adanya bahaya yang mungkin dihadapinya di Kosovo akibat dugaan pekerjaannya untuk sejumlah badan AS.

Istri Skoro, Susan, berada bersamanya ketika dia ditangkap di kantor imigrasi New Jersey. Dia mengatakan petugas ICE segera bergerak setelah Skoro melakukan registrasi di meja depan.

“Mereka mengkhianatinya. Dia sudah menjalani hukumannya. Dia hampir kehilangan nyawanya, dan tidak ada seorang pun yang peduli. Dia pantas mendapatkan pengampunan,” katanya.

“Dia tidak bisa dideportasi ke mana pun dengan aman. Kami selalu melihat ke belakang,” ujarnya.Skoro, yang kini bekerja sebagai sopir taksi di Staten Island, memiliki istri dan anak-anak berkewarganegaraan Amerika. Pengacaranya mengatakan Skoro pada dasarnya pernah dijanjikan kesempatan untuk tetap tinggal di AS karena pekerjaan yang dilakukannya untuk lembaga penegak hukum dan intelijen Amerika.

Pengedar Narkoba yang Jadi Informan Pemerintah AS

Hubungan Skoro dengan otoritas AS dilaporkan bermula setelah dia ditangkap karena menyelundupkan heroin pada 2000.

Dia datang ke AS pada 1994 setelah melarikan diri dari konflik di Kosovo dan mengajukan suaka. Menurut pengakuannya, dia kemudian terlibat dalam perdagangan narkoba karena kesulitan menghidupi keluarganya.

Saat menjalani hukuman di sebuah penjara federal di Pennsylvania, Skoro mengatakan dirinya menjadi dekat dengan kelompok radikal Islam. Catatan Biro Investigasi Federal (FBI) mengidentifikasinya sebagai informan rahasia.

Setelah serangan 11 September 2001 di AS oleh al-Qaeda, Skoro mengatakan CIA melihat peluang untuk memanfaatkan jaringan yang dimilikinya.Antara 2002 hingga 2006, ketika menjalani hukuman di FCI Allenwood, dia memberikan informasi kepada FBI mengenai orang-orang yang dicurigai sebagai teroris, termasuk individu yang terkait dengan Lackawanna Six, jaringan jihad Virginia, dan Hizbullah.

Dokumen FBI tahun 2004 yang telah banyak disensor dan diperoleh CBS News mengidentifikasi Skoro sebagai informan dalam penyelidikan yang berkaitan dengan pendiri dan pemimpin pertama al-Qaeda, Osama bin Laden. Dokumen tersebut menggambarkan sebagian informasi yang diberikannya sebagai “dapat ditindaklanjuti” dan “dapat dipercaya”, termasuk informasi intelijen mengenai sebuah “kamp pelatihan di Suriah”.

Menyusup ke al-Qaeda

Bahkan setelah keluar dari penjara, pekerjaannya disebut belum berakhir. Setelah dideportasi ke Kosovo pada 2007, dia mengaku CIA memintanya menyusup ke jaringan al-Qaeda dari kawasan Balkan.

Menurut pernyataan hukum yang pernah dibuat sebelumnya, dia bertahun-tahun menjalankan operasi penyamaran dan bepergian ke sejumlah negara, termasuk Suriah, Lebanon, Yordania, Pakistan, dan Mesir. Dia mengatakan penugasannya berlanjut hingga 2009.

Pengacaranya mengatakan Skoro bekerja dengan CIA, FBI, dan Drug Enforcement Administration (DEA) selama hampir satu dekade. Mereka menggambarkan pengabdiannya sebagai “pekerjaan yang berdedikasi dan heroik sebagai agen penegak hukum Amerika Serikat”.Joshua Dratel, yang sebelumnya menjadi pengacara Skoro, mengatakan kepada CBS News bahwa kliennya telah menjalani satu dekade terakhir dengan kehidupan yang sepenuhnya taat hukum dan produktif bersama keluarganya setelah pengalaman mengerikan yang dia jalani untuk Amerika Serikat dengan keberanian dan keterampilan luar biasa.

Skoro kembali ke AS pada 2014 setelah mengeklaim penyamarannya terbongkar dan dirinya ditembak di kaki dalam upaya pembunuhan di Kosovo. Dia mengatakan kemudian kembali masuk ke AS melalui Kanada.

ICE menahannya pada 2016 setelah Departemen Polisi New York (NYPD) menangkapnya karena menggunakan kartu transportasi umum putrinya yang memberikan potongan harga.

Pada November 2022, seorang hakim federal memutuskan bahwa Skoro tidak dapat dideportasi ke Kosovo berdasarkan Konvensi Menentang Penyiksaan karena adanya risiko bahwa dia dapat disiksa atau dibunuh di negara tersebut.

Namun, putusan itu tidak memberinya status tinggal permanen secara legal di AS.Kini, pengacaranya, Rene Kathawala dan Amy Greer, berpendapat bahwa perlindungan berdasarkan putusan 2022 berarti ICE tidak bisa begitu saja mendeportasinya tanpa terlebih dahulu mendapatkan izin dari hakim. Mereka mengajukan petisi habeas corpus ke pengadilan federal pada 4 Agustus, sehari setelah penangkapan terbarunya.

“Saya tidak pernah menyangka mereka akan mengkhianati saya seperti ini,” katanya kepada CBS News dari Elizabeth Detention Center di New Jersey.

“Tolong, jika saya meninggal, saya ingin meninggal di negara ini agar anak-anak saya bisa memakamkan saya," ujarnya.

Kasus Skoro muncul ketika pemerintahan Presiden Donald Trump meningkatkan penegakan hukum imigrasi.

Awal bulan ini, ICE mendeportasi sekelompok warga negara Meksiko yang sebelumnya juga mendapatkan penangguhan deportasi berdasarkan Konvensi Menentang Penyiksaan. Deportasi mereka dilakukan setelah Meksiko memberikan jaminan bahwa orang-orang tersebut tidak akan disakiti, menurut laporan The New York Times.

Topik Menarik