Kisah Pengendali Makkah dan Madinah, dari Keturunan Nabi Muhammad SAW Beralih ke Keluarga Penguasa Arab Saudi
Arab Saudi menegaskan perannya sebagai Penjaga Dua Masjid Suci setelah menuduh kelompok Houthi Yaman meluncurkan serangan drone ke arah Makkah. Namun, sekitar satu abad lalu, pemegang kekuasaan atas Makkah dan Madinah adalah keturunan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana ceritanya kendali atas dua kota suci umat Islam itu sekarang berada di tangan keluarga penguasa Arab Saudi (keluarga al-Saud)?
Kisahnya bermula dari peristiwa September 1924, enam tahun setelah kekuatan Sekutu mengalahkan Kesultanan Utsmaniyah (Turki Utsmani). Saat itu, pihak pemenang perang mulai membentuk kembali wilayah Arab yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Turki Utsmani.
Baca Juga: Arab Saudi Akui Ibu Kotanya Diserang Rudal Houthi, Perang Makin Meluas
Kala itu, Syarif Makkah sekaligus Raja Hijaz, Hussein bin Ali, seorang keturunan Nabi Muhammad SAW dari keluarga Hashemite (Hashimiyah), menghadapi ancaman yang datang dari wilayah yang lebih dekat.
Pasukan Ikhwan milik penguasa Najd, Abdulaziz Ibn Saud, sebuah kelompok milisi religius-militer, telah menyerbu Hijaz dan merebut kota Taif. Mereka kemudian bergerak menuju Makkah, mengancam kekuasaan Hussein atas dua kota paling suci dalam Islam, Makkah dan Madinah.Menurut laporan dari India Today, Minggu (20/9/2026), ketika posisinya semakin terdesak, Hussein meminta bantuan Sekutu yang delapan tahun sebelumnya telah mempersenjatai dan membiayai pemberontakannya melawan Utsmaniyah. Sekutu itu adalah Inggris.
Hussein meminta London membantu menghadapi pasukan Ibn Saud yang terus bergerak maju. Namun, Inggris menolak.
Keputusan tersebut menjadi ironi besar. Inggris sebelumnya menjalin hubungan dengan kedua rival di Jazirah Arab.
Menurut penulis sekaligus jurnalis Amerika Serikat; James Wynbrandt, dalam bukunya A Brief History of Saudi Arabia, Inggris menandatangani perjanjian dengan penguasa Najd, Ibn Saud, pada 1915. London membayarnya 20.000 pound, memasok 1.000 senapan, dan kemudian memberikan subsidi 5.000 pound per bulan.
Di sisi lain, Raja Hashemite Syarif Hussein juga menerima 125.000 pound per bulan dalam bentuk emas Inggris, selain senjata dan penasihat militer.
Pada akhir 1925, Makkah, Madinah, dan Jeddah berada di bawah kendali Ibn Saud.
Ibn Saud kemudian menyatukan wilayah tersebut untuk membentuk negara yang kini dikenal sebagai Kerajaan Arab Saudi sekaligus mendirikan Wangsa Saud, keluarga yang hingga kini memerintah kerajaan kaya minyak tersebut.
Namun, dinasti Hashemite milik Hussein tidak lenyap.
Putra-putranya ditempatkan dalam tatanan baru yang dibangun Inggris setelah runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah. Pangeran Hashemite Faisal bin Hussein menjadi penguasa Irak, sementara Pangeran Abdullah bin Hussein muncul sebagai penguasa Transyordania—wilayah di sebelah timur Sungai Yordan yang kini menjadi Yordania.
Mengapa Kisah 100 Tahun Lalu Kembali Relevan?
Kisah yang telah berusia satu abad tersebut kembali menjadi sorotan karena konflik terbaru di Timur Tengah.Pada 15 September, Kerajaan Arab Saudi—yang didirikan Ibn Saud dan hingga kini diperintah keturunannya—mengatakan pertahanan udaranya mencegat sebuah drone Houthi di selatan Makkah sebelum drone tersebut memasuki wilayah udara terbatas kota suci itu.
Kelompok Houthi yang didukung Iran membantah tuduhan tersebut.
Juru bicara Koalisi Arab Saudi untuk Memulihkan Legitimasi di Yaman, Mayor Jenderal Turki al-Malki, menyebut keamanan dua masjid suci dan para jamaah sebagai "garis merah".
Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang didominasi negara-negara Muslim termasuk Arab Saudi, mengecam apa yang disebutnya sebagai serangan yang melanggar kesucian situs-situs suci.
Pakistan, yang telah menandatangani Perjanjian Pertahanan Makkah dengan Arab Saudi, juga menegaskan kembali posisi Arab Saudi sebagai penjaga situs-situs paling suci dalam Islam.Mekkah merupakan lokasi Masjidil Haram dan Kakbah. Sementara Madinah, tempat Nabi Muhammad berhijrah, menjadi lokasi Masjid Nabawi. Keduanya merupakan dua kota paling suci dalam Islam.
Raja Arab Saudi saat ini menyandang gelar "Penjaga Dua Masjid Suci" atau Khadim al-Haramayn al-Sharifayn.
Raja Fahd bin Abdulaziz secara resmi mengadopsi gelar tersebut pada 1986, beberapa dekade setelah ayahnya, Ibn Saud, menaklukkan Hijaz.
Peran Arab Saudi sebagai Penjaga Dua Masjid Suci kembali ditekankan untuk menggalang dukungan terkait kesucian dan perlindungan situs-situs paling suci dalam Islam.
Namun, bagaimana sebuah dinasti yang berpusat di Riyadh bisa menguasai Makkah dan Madinah yang berada di Hijaz? Dan bagaimana keluarga Hashemite, keturunan Nabi Muhammad SAW yang sebelumnya menguasai Makkah, akhirnya memerintah Yordania?
Jawabannya tak hanya berkaitan dengan perang dan penaklukan, tetapi juga uang Inggris, perjanjian, harapan yang pupus setelah perang, serta upaya London membangun tatanan baru di Timur Tengah dari reruntuhan Kesultanan Utsmaniyah setelah Perang Dunia I.
Jauh sebelum pendiri Arab Saudi, Abdulaziz Ibn Saud, menguasai Makkah, kota suci tersebut memiliki penguasa sendiri yang disebut Syarif Makkah.
Sejarawan Timur Tengah asal Amerika Serikat, Mary C. Wilson, dalam bukunya King Abdullah, Britain and the Making of Jordan, menulis bahwa jabatan Syarif Makkah telah ada sebelum penaklukan Hijaz oleh Kesultanan Utsmaniyah pada abad ke-16.
Di bawah pemerintahan Utsmaniyah, Syarif tetap memiliki kewenangan lokal yang cukup besar. Sementara itu, sultan Utsmaniyah menyandang gelar Khadim al-Haramayn, yang berarti Pelayan atau Penjaga Dua Masjid Suci.
Hubungan keluarga Hashemite dengan Makkah bahkan lebih dalam daripada sekadar menduduki jabatan politik tertinggi di kota tersebut.
Syarif Hussein bin Ali, Raja Hijaz, berasal dari keluarga Hashemite. Keluarga ini memiliki silsilah dari Nabi Muhammad SAW.
Putranya, Abdullah bin Hussein—yang kemudian menjadi penguasa Yordania—lahir di Makkah pada 1882 dari garis keturunan Syarif tersebut.
Sejarawan Mary C. Wilson mencatat bahwa kedua orang tua Abdullah juga menyandang gelar Syarif, yang menunjukkan garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW.
Dengan demikian, keluarga yang memerintah Yordania tersebut masih memiliki akar yang sangat kuat di Makkah pada masa itu.
Sementara itu, Wangsa Saud berpusat di Najd, wilayah Arabia bagian tengah.
Kedua keluarga tersebut akhirnya menjadi rival dalam perebutan kekuasaan di Jazirah Arab.
Di Arabia tengah, penguasa Najd Abdulaziz Ibn Saud terus memperluas dan mengonsolidasikan kekuasaannya. Di sisi lain, Syarif Hussein bin Ali menguasai Hijaz beserta kota-kota sucinya, Makkah dan Madinah.
Ambisi kedua pihak bahkan telah berkembang menjadi konflik terbuka pada 1918-1919, ketika pasukan Ibn Saud mengalahkan pasukan Hashemite yang dipimpin putra Hussein, Pangeran Abdullah, di Turabah.Kekalahan tersebut melemahkan keluarga Hashemite dan memperkuat posisi Ibn Saud.
Namun, intervensi Inggris saat itu mencegah pasukan Ibn Saud bergerak lebih jauh ke Hijaz menuju Makkah.
Inggris Mendekati Kedua Rival Arab
Perang Dunia I mengubah persaingan kekuasaan di Jazirah Arab. Kedua keluarga rival tersebut masuk dalam strategi perang Inggris melawan Kesultanan Utsmaniyah, meski dengan peran dan kesepakatan yang berbeda.Ketika Utsmaniyah bergabung dengan kubu Jerman, Menteri Perang Inggris Lord Kitchener mendekati Syarif Hussein untuk meminta dukungannya.
Menurut buku Wynbrandt, A Brief History of Saudi Arabia, Inggris menawarkan untuk mengakui Hussein sebagai Syarif dan mendukung berdirinya kerajaan Arab merdeka jika dia berpihak kepada London.
Pada Juni 1916, Syarif Hussein melancarkan Pemberontakan Arab melawan kekuasaan Utsmaniyah.
Putranya, Pangeran Abdullah dan Pangeran Faisal, memimpin pasukan Arab, sementara kekuatan laut Inggris, senjata, uang, dan para penasihat militer mendukung pemberontakan tersebut.
Namun pada saat yang sama, Inggris juga membangun hubungan dengan penguasa Najd, Ibn Saud, rival Syarif Hussein di Jazirah Arab bagian tengah.
Wynbrandt menulis bahwa Perjanjian Darin Desember 1915 mengakui Najd serta wilayah timur Qatif dan Jubail sebagai daerah kekuasaan Ibn Saud.
Perjanjian itu juga membatasi penguasa Najd Abdulaziz Ibn Saud agar tidak membuat kesepakatan dengan kekuatan asing lain tanpa nasihat Inggris atau menyerang emirat-emirat pesisir yang berada di bawah perlindungan Inggris—wilayah yang kemudian menjadi bagian dari Uni Emirat Arab.
Sebagai imbalannya, menurut Wynbrandt, Ibn Saud menerima 20.000 pound dan 1.000 senapan dari Inggris. London juga setuju memberikan tambahan 5.000 pound setiap bulan kepada Najd mulai 1916.
Pada masa itu Inggris belum membayar kedua penguasa Arab tersebut untuk saling berperang.
Dana untuk Syarif Hussein terutama ditujukan untuk menopang pemberontakan melawan Utsmaniyah.
Namun, London telah membangun hubungan strategis dengan kedua keluarga yang kelak bersaing memperebutkan Jazirah Arab setelah kekuasaan Utsmaniyah runtuh.
Bagaimana Keturunan Nabi Muhammad Ditempatkan di Irak dan Yordania?
Kekalahan Utsmaniyah dalam Perang Dunia I tidak menghasilkan kerajaan Arab merdeka yang luas seperti yang diharapkan Raja Hijaz Hussein bin Ali.Sebaliknya, Inggris dan Prancis membentuk mandat serta wilayah pengaruh di sebagian besar kawasan tersebut.
Sementara itu, London menerapkan apa yang disebut sejarawan Timothy J. Paris sebagai "Sherifian Solution"—mendukung Hussein di Hijaz, putranya Pangeran Faisal bin Hussein sebagai penguasa Irak di bawah mandat Inggris, dan putranya yang lain, Pangeran Abdullah bin Hussein, sebagai penguasa Transyordania.
Menurut Paris, pengaturan tersebut dimaksudkan untuk "mendamaikan tuntutan nasionalis Arab dengan kepentingan strategis dan ekonomi Inggris di kawasan tersebut".Pejabat Inggris bahkan cukup terbuka mengenai kepentingan mereka.
Wilson mencatat bahwa ketika pejabat Inggris sebelumnya mempertimbangkan Pangeran Abdullah untuk Irak, Menteri Luar Negeri Inggris untuk India, Edwin Montagu, mengatakan bahwa jika penilaian buruk terhadap Abdullah benar, dia justru akan menjadi "orang yang ideal" karena akan membiarkan administrator Inggris menjalankan pemerintahan.
Dalam pembahasan Inggris lainnya, mereka mencari seorang penguasa untuk negara Arab "yang pangerannya tidak akan memerintah".
Pada akhirnya, Pangeran Hashemite Faisal dan Abdullah masing-masing mendapatkan Irak dan Transyordania.
Kisah bagaimana keluarga Hashemite dari Makkah akhirnya memerintah Yordania dimulai ketika Abdullah meninggalkan kota suci tersebut.
Pada 27 September 1920, Pangeran Hashemite Abdullah bin Hussein meninggalkan Makkah dengan karavan unta bersama sekitar 500 hingga 1.000 anggota suku, menurut Wilson.
Setelah melewati Madinah, dia tiba di kota Ma'an. Dari sana, dia berharap dapat menantang kekuasaan Prancis di Suriah dan memulihkan posisi keluarga Hashemite.
Namun, Inggris memiliki kepentingan lain. London tidak ingin kekuasaan Prancis meluas ke selatan menuju Palestina dan jalur menuju Terusan Suez.
Kesepakatan politik yang kemudian tercapai membuat pangeran kelahiran Mekkah tersebut menjadi penguasa Transyordania di bawah naungan Inggris.
Wilson menggambarkan perubahan tersebut secara tajam. Abdullah, yang lahir di Makkah dalam lingkungan elite Syarif, menjadi "anak didik Inggris" setelah menerima kepemimpinan Transyordania di bawah mandat Inggris.
Nenek moyang monarki Hashemite Yordania saat ini pun berpindah dari kota suci di wilayah yang kini menjadi Arab Saudi menuju sebuah negara baru.
Inggris Membiarkan Ibn Saud Bergerak Menuju Makkah dan Madinah
Kembali ke Jazirah Arab, posisi Raja Hussein semakin memburuk.
Hubungannya dengan Inggris memburuk, sementara penguasa Najd Abdulaziz Ibn Saud semakin kuat secara militer. James Wynbrandt menulis bahwa "hubungan antara Syarif Hussein dan Inggris memburuk antara 1922 dan 1925".
Dia menyebut sejumlah faktor, termasuk "kelemahan militer" Hussein, "permintaan bantuan berulang kali dalam pertempurannya melawan pasukan Saud", serta keengganannya menandatangani perjanjian pascaperang yang mengakui "hegemoni Inggris di Palestina dan Irak".
Menurut Wynbrandt, berbagai faktor tersebut "menyebabkan hilangnya dukungan Inggris" terhadap penguasa yang sebelumnya didukung London dalam Pemberontakan Arab.
Kembali ke titik awal cerita pada 1924, penguasa Najd Abdulaziz Ibn Saud melancarkan kampanye ke arah barat dari Arabia tengah menuju Hijaz. Pasukannya bergerak menuju kota Taif dan kemudian Makkah.
Setelah pasukan Ikhwan Ibn Saud dan para pengikut gerakan keagamaan Wahhabi yang ketat merebut Taif, laporan mengenai pembunuhan menyebarkan ketakutan di Makkah.Wynbrandt menulis bahwa para milisi tersebut melakukan "aksi penjarahan dan pembunuhan terhadap ratusan penduduk". Berita mengenai pembunuhan itu "menyebabkan banyak warga Makkah melarikan diri dan melumpuhkan pemerintahan kota".
Hussein meminta bantuan Inggris. Namun, Inggris menolak.
Sebuah arsip pemerintah Inggris mengenai invasi 1924 menggambarkan posisi London sebagai "netral sepenuhnya mengenai masa depan Kota-Kota Suci", ketika pasukan Wahhabi di bawah Ibn Saud menyerbu Kerajaan Hijaz.
Inggris tidak menyerahkan Makkah dan Madinah kepada Ibn Saud. Inggris juga tidak menaklukkan kedua kota tersebut untuknya. Pasukan Saud-lah yang menaklukkan Hijaz.
Namun, setelah bertahun-tahun membantu sekutu Hashemite mereka, Inggris memilih tidak mendukungnya ketika konfrontasi penentu akhirnya tiba.
Sejarawan Timur Tengah Joshua Teitelbaum, dalam makalahnya The Rise and Fall of the Hashemite Kingdom of Arabia, mencatat bahwa Inggris meninggalkan sekutu masa perang mereka tersebut dengan mengatakan, "Mereka meninggalkannya ketika Ibn Saud menyerbu."
Raja Hussein turun takhta pada 6 Oktober 1924. Makkah menyerah pada akhir bulan tersebut, dan Ibn Saud memasuki kota itu pada Desember.
Pada akhir 1925, Madinah dan Jeddah juga telah jatuh ke tangan Ibn Saud. Dalam istilah Wynbrandt, Ibn Saud kini menjadi "pelindung kota-kota suci Makkah dan Madinah".
Pada Januari 1926, para tokoh terkemuka Makkah menyatakan kesetiaan kepada Sultan Najd, Abdulaziz Ibn Saud, yang kemudian menjadi Raja Hijaz—wilayah yang mencakup Makkah, Madinah, Jeddah, dan kawasan pesisir Laut Merah bagian barat.
Enam tahun kemudian, seluruh wilayah kekuasaannya disatukan menjadi Kerajaan Arab Saudi.
Gelar keagamaan yang kembali menjadi sorotan setelah klaim soal serangan Houthi ke Mekkah muncul jauh kemudian.
Pada 1986, Raja Fahd secara resmi mengganti gelar "Yang Mulia" menjadi "Penjaga Dua Masjid Suci". Gelar tersebut kemudian terus digunakan oleh Raja Salman bin Abdulaziz, raja Arab Saudi saat ini.
Monarki Hashemi di Irak, yang juga merupakan keturunan Nabi Muhammad, digulingkan pada 1958. Namun, keluarga Raja Abdullah tetap berkuasa di Yordania hingga sekarang.
Raja Yordania saat ini, Abdullah II, merupakan cicit Pangeran Abdullah bin Hussein, yang meninggalkan Makkah menuju Transyordania pada 1920 dan kemudian mendirikan monarki Hashemite yang hingga kini masih diperintah keluarganya.
Dengan demikian, kisah tersebut bermula dari dua keluarga yang bersaing di Jazirah Arab dan berakhir dengan keduanya tetap bertahan, tetapi di wilayah yang berbeda.
Wangsa Saud merebut Makkah dan Madinah lalu membangun Arab Saudi berdasarkan penaklukan mereka di Jazirah Arab.
Sementara keluarga Hashemite—keturunan Nabi Muhammad SAW—kehilangan kota-kota suci tersebut.
Namun, perjalanan Pangeran Abdullah ke utara melahirkan sebuah dinasti di Yordania yang hingga kini dipimpin oleh cicitnya.









