32 Bos Militer NATO Pegang 4.000 Halaman Rencana Perang, Siaga Hadapi Serangan False Flag Rusia

32 Bos Militer NATO Pegang 4.000 Halaman Rencana Perang, Siaga Hadapi Serangan False Flag Rusia

Global | sindonews | Minggu, 20 September 2026 - 09:11
share

Sebanyak 32 kepala militer negara anggota NATO telah menggelar pertemuan di Kopenhagen. Mereka telah siaga menghadapi potensi serangan bendera palsu (false flag) Rusia, dan bahkan telah memiliki 4.000 halaman rencana perang untuk melindungi sayap timur aliansi.

Ketua Komite Militer NATO Laksamana Giuseppe Cavo Dragone mengatakan pada hari Sabtu (19/9/2026) bahwa aliansi siap merespons kemungkinan eskalasi Rusia di sayap timur Eropa.

Baca Juga: Polandia Beber Data Intelijen: Rusia Hendak Serang Negara-negara NATO Pendukung Ukraina

“Aliansi siap, strukturnya siap, para prajurit...senjatanya siap,” kata Dragone kepada wartawan dalam pertemuan rutin 32 bos militer aliansi tersebut.

Dia menambahkan bahwa NATO terus meningkatkan kekuatan militernya, baik dari sisi jumlah maupun kecanggihan.

Pernyataan Dragone muncul setelah sejumlah pemimpin Eropa semakin sering memperingatkan kemungkinan eskalasi Rusia di Eropa.Pada Kamis lalu, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengatakan Moskow dapat mengirim drone atau rudal ke negara anggota NATO yang berada di garis depan dalam beberapa bulan ke depan sebagai sebuah provokasi yang direkayasa untuk menguji respons aliansi. Kekhawatiran serupa kemudian disampaikan Prancis dan Belanda.

Dalam beberapa pekan terakhir, Eropa menghadapi semakin banyak pelanggaran wilayah udara dan upaya sabotase, seiring meningkatnya ketegangan dengan Rusia akibat perang skala penuh di Ukraina.

Pada Agustus lalu, laporan intelijen Amerika Serikat memperingatkan bahwa Moskow sedang merencanakan serangan terbatas terhadap salah satu negara NATO dalam beberapa tahun mendatang.

Dragone mengatakan para kepala militer aliansi dalam pertemuan hari Sabtu tidak membahas peringatan terbaru tersebut.

Namun, dia menegaskan bahwa NATO telah memiliki “4.000 halaman” rencana militer untuk melindungi sayap timur aliansi. "Termasuk skenario yang dimulai dari krisis atau gangguan minimal di wilayah kami," katanya, seperti dikutip dari Politico.Negara-negara anggota NATO menyepakati tiga rencana pertahanan regional operasional pada 2023, menyusul invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina.

“Sekutu siap jika terjadi eskalasi,” kata Dragone. “Jika terjadi serangan, kami tahu apa yang harus dilakukan.”

“Perilaku Rusia yang sembrono dalam beberapa pekan dan bulan terakhir...terus menguji tekad para sekutu,” ujar Dragone.

Menurutnya, tindakan tersebut bertujuan “merusak kepercayaan dan melemahkan persatuan” NATO.

“Saya ingin menegaskan—upaya-upaya ini tidak memecah belah kami. Sebaliknya, upaya tersebut mempertajam perangkat kami, membuat kami jauh lebih bersatu dan bertekad,” kata Dragone.

Rusia sendiri telah berkali-kali menyangkal memiliki rencana untuk menyerang negara-negara NATO. Menurut Moskow, klaim itu hanya dijadikan dalih negara-negara aliansi untuk meningkatkan belanja militer.

Topik Menarik