Arab Saudi Akui Ibu Kotanya Diserang Rudal Houthi, Perang Makin Meluas
Kerajaan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa kelompok Houthi Yaman telah menyerang Riyadh dengan rudal balistik. Ini merupakan serangan pertama yang menargetkan ibu kota kerajaan tersebut, dan menandai meluasnya pertempuran yang secara tidak langsung menjadi imbas dari perang Iran.
Konfirmasi itu disampaikan koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi Houthi pada hari Sabtu, tak lama serangan terjadi saat fajar. Koalisi mengeklaim rudal yang ditembakkan Houthi berhasil dicegat.
Baca Juga: Setelah Makkah, Riyadh Jadi Target Pertama Serangan Drone Houthi
Sejumlah suara ledakan terdengar di Riyadh dan gangguan besar dilaporkan terjadi di Bandara Internasional King Khalid pada Sabtu pagi. Situs pelacak penerbangan FlightRadar24 melaporkan sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan dan pembatalan.
Sejumlah warga di Riyadh mengaku mendengar suara ledakan. Tak lama kemudian, beberapa warga melihat kepulan asap di dekat bandara. Tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan."Saya mendengar alarm, kemudian jendela rumah saya bergetar," kata seorang warga berusia 27 tahun di Riyadh bagian utara. "Itu benar-benar menakutkan. Saya tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi," katanya lagi, yang dikutip BBC, Minggu (20/9/2026) tanpa disebutkan identitasnya.Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi mengirimkan peringatan melalui telepon pada malam hari yang memperingatkan potensi bahaya di Riyadh dan sejumlah wilayah lainnya. Peringatan tersebut kemudian dinyatakan berakhir pada Sabtu pagi.
Koalisi juga menyatakan Houthi berupaya menyerang infrastruktur sipil di kota pelabuhan Yanbu di Laut Merah—lokasi berakhirnya salah satu jaringan pipa minyak penting Arab Saudi—serta di Taif, Baysh, dan Farasan. Namun, seluruh upaya tersebut berhasil digagalkan. Koalisi tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Konfirmasi dari Arab Saudi muncul setelah kelompok Houthi mengeklaim telah menargetkan sejumlah situs sensitif di Riyadh dan fasilitas perusahaan minyak raksasa Arab Saudi, Aramco, di Yanbu. Menurut mereka, serangan tersebut memicu kebakaran besar.
Aramco, perusahaan minyak terbesar di dunia, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, mengeklaim kelompoknya melancarkan serangan menggunakan rudal jelajah, rudal balistik, dan drone. Dia juga mengatakan Arab Saudi sebelumnya berupaya menyerang kota Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai Houthi, tanpa memberikan rincian mengenai serangan tersebut.Sebelumnya, Saree menuduh Arab Saudi melancarkan 300 serangan udara di berbagai wilayah Yaman selama sepekan terakhir.
Houthi saat ini terlibat perang saudara dengan pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan mendapat dukungan Arab Saudi.
Dalam beberapa bulan terakhir, Houthi telah beberapa kali menyerang sasaran di wilayah Arab Saudi. Pekan ini, kelompok tersebut juga mengeklaim bertanggung jawab atas jatuhnya sebuah jet tempur F-15 Arab Saudi di atas wilayah Yaman.
Pada hari Rabu, Arab Saudi mengatakan Houthi berupaya menyerang Makkah, kota suci umat Islam, menggunakan drone yang kemudian berhasil dicegat. Riyadh menyebut keamanan kota kelahiran Nabi Muhammad SAW tersebut sebagai "garis merah".
Namun, Houthi membantah keras tuduhan tersebut. Kelompok itu mengatakan Arab Saudi telah menyebarkan kebohongan dan justru pihak kerajaan yang telah menodai kota suci umat Islam.Menurut laporan AFP, yang mengutip sumber militer dari kedua pihak dalam perang saudara Yaman, pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi menewaskan 48 orang pada hari Sabtu.
Menurut kantor berita tersebut, Houthi mengatakan 31 milisinya tewas, sementara sumber pemerintah Yaman menyebut pihak mereka kehilangan 17 tentara.
Pada Jumat, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), melaporkan jumlah warga yang mengungsi akibat pertempuran terbaru telah mencapai lebih dari 104.796 orang.









