China Menentang Ancaman Trump soal Perang Ekonomi terhadap Iran
China mengecam kampanye "D-Day ekonomi" yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran. Beijing menyatakan penambahan sanksi tidak akan membantu menyelesaikan masalah yang ada.
"Pemberlakuan sanksi dan tekanan tidak membantu menyelesaikan masalah ini," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, kepada para wartawan di Beijing.
Dia menegaskan, "China mendesak pihak-pihak terkait untuk mengambil langkah-langkah yang bertanggung jawab dan menyelesaikan masalah melalui jalur diplomatik dan politik."
China akan sangat terdampak oleh langkah-langkah tersebut, mengingat negara itu membeli lebih dari 80 minyak yang dikirimkan Iran, sebagaimana ditunjukkan data tahun 2025 dari perusahaan analisis Kpler.
Paul Musgrave, profesor madya bidang pemerintahan di Georgetown University di Qatar, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pengumuman sanksi menyeluruh terhadap Iran oleh Presiden Trump "jelas ditujukan kepada China".Dia mengungkap, "Menurut saya, ini adalah cara bagi Amerika Serikat untuk menemukan front baru atau memperluas upayanya di bidang ekonomi."
China merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi Iran, yang mencakup 26 dari total impor dengan nilai sekitar USD17,8 miliar. Beijing juga bergantung pada Iran untuk pasokan bahan bakar mineral dan minyak, bahan kimia organik, serta plastik.
Setelah UEA menangguhkan seluruh transaksi perdagangan dan keuangan dengan Iran, Beijing menjadi mitra dagang terbesar negara tersebut.
"Jika Presiden Trump benar-benar mulai menerapkan sanksi sekunder yang agresif terhadap China, maka ada kemungkinan nyata bahwa dampaknya akan meluas," kata Musgrave.
"Tentu saja China telah mengisyaratkan bahwa mereka tidak ingin berpartisipasi dalam bentuk sanksi yang lebih luas, namun mereka juga tidak membantu Iran," tambahnya.
Analis tersebut juga menyoroti Presiden Trump kemungkinan tidak ingin "mempertaruhkan hubungan ekonomi" antara AS dan China, mengingat kedua negara saat ini sedang berada dalam situasi yang menyerupai "perang dingin ekonomi".
Baca juga: Kerajaan Islam Bersiap Rayakan Peringatan 2.000 Tahun Pembaptisan Yesus










