Kiriman Komponen Sensitif Jet Tempur Siluman F-35 Dialihkan ke Hong Kong, AS Khawatir Jatuh ke Tangan China
Pengiriman komponen jet tempur siluman F-35 yang sangat sensitif dilaporkan dialihkan ke Hong Kong saat dalam perjalanan dari Australia menuju Amerika Serikat (AS). Insiden ini memicu penyelidikan AS karena kekhawatiran komponen tersebut bisa jatuh ke tangan otoritas China.
Kiriman tersebut mencakup kanopi F-35, komponen penting dalam sistem siluman pesawat tempur tersebut. Peralatan itu dikirim melalui sebuah perusahaan perantara, tetapi belum diketahui secara pasti ke mana kiriman tersebut dialihkan atau siapa yang kini menguasai komponen tersebut.
Baca Juga: AS Akhirnya Jual 48 Jet Tempur Siluman F-35 ke Arab Saudi meski Khawatir Teknologinya Dicuri China
Insiden tersebut telah memicu penyelidikan oleh Pentagon serta penyelidikan di Kongres AS, sebagaimana dikutip dari Politico, Minggu (20/9/2026).
Pejabat Departemen Luar Negeri AS dan Pentagon mulai memberikan pengarahan kepada staf komite-komite Kongres yang menangani keamanan nasional pada Juni. Menurut sejumlah sumber yang mengetahui masalah tersebut dan dikutip Politico, pengarahan itu masih berlangsung dan pertemuan lanjutan diperkirakan akan digelar.Kantor Program Gabungan F-35 mengonfirmasi bahwa mereka mengetahui adanya "masalah pengiriman" yang melibatkan komponen pesawat F-35 Lightning II."Otoritas AS bekerja sama dengan mitra industri untuk mengambil kembali komponen tersebut, menyelidiki insiden, dan menerapkan langkah-langkah pengamanan guna mencegah kejadian serupa terulang," kata kantor tersebut.
Komponen sensitif tersebut bukan sekadar pelindung kokpit pilot. Kanopi F-35 berbentuk seperti gelembung yang terbuat dari bahan akrilik dan dipasang di atas kokpit.
Kanopi tersebut dilapisi lapisan tipis material transparan penyerap radar. Lapisan itu merupakan bagian dari desain siluman F-35 karena membantu mengurangi jejak radar pesawat.
Lapisan itu dapat mengalami kerusakan seiring waktu sehingga kanopi perlu diperbaiki atau diganti seiring bertambahnya jumlah armada F-35. Hingga kini, lebih dari 1.300 unit F-35 telah diproduksi untuk Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya.
Australia memiliki fasilitas pemeliharaan F-35. Namun, menurut laporan tersebut, belum ada fasilitas di Australia yang saat ini memiliki kemampuan untuk memperbaiki kanopi F-35.Program F-35 bergantung pada jaringan fasilitas global untuk menyimpan, memindahkan, dan memperbaiki berbagai komponennya. Lockheed Martin, produsen F-35, mengelola rantai pasok program secara keseluruhan dan menggunakan perusahaan jasa pengiriman komersial untuk mengangkut berbagai suku cadang.
Lockheed Martin mengatakan kepada Politico bahwa mereka tidak dapat membahas pengiriman tertentu karena alasan keamanan. Namun, perusahaan tersebut menyatakan selalu mematuhi peraturan AS yang mengatur pemindahan komponen pesawat.
"Tim kami menangani setiap pengiriman dengan ketelitian dan pengamanan maksimal untuk memastikan integritas program F-35 serta keamanan negara-negara sekutu kami," kata perusahaan tersebut.
Insiden terbaru ini terjadi di tengah kekhawatiran yang telah lama muncul mengenai kemampuan pemerintah AS dalam melacak suku cadang F-35.
Laporan Kantor Akuntabilitas Pemerintah (GAO) pada 2023 menemukan bahwa lebih dari 1 juta suku cadang F-35 senilai lebih dari USD85 juta telah hilang dari salah satu kontraktor utama sejak Mei 2018.Menurut lembaga pengawas tersebut, Kantor Program Gabungan F-35 hanya meninjau kurang dari 2 persen dari kasus kehilangan tersebut.
GAO juga menemukan bahwa lebih dari 900.000 suku cadang tambahan senilai lebih dari USD66 juta belum dilaporkan kepada kantor program untuk ditinjau hingga Oktober 2022.
Masalah tersebut sebagian berasal dari cara pengelolaan kumpulan suku cadang global F-35. Pentagon memiliki suku cadang tersebut, sementara kontraktor utama mengelola sebagian besar inventaris. Kondisi ini menciptakan celah dalam kemampuan pemerintah untuk melacak lokasi dan kehilangan komponen.
GAO mengatakan kumpulan suku cadang global tersebut tersebar di lebih dari 50 fasilitas di Amerika Serikat dan berbagai negara lainnya.
Lembaga pengawas tersebut masih terus menyoroti masalah rantai pasok dan pemeliharaan F-35. Dalam laporan Juni 2026, GAO menyatakan Pentagon masih menghadapi berbagai kendala terkait ketersediaan suku cadang dan ketergantungan yang tinggi terhadap kontraktor.









