China Temukan Tambang Emas Raksasa di Dasar Pasifik, Kadarnya Capai 15,4 Gram Per Ton
Tim ilmuwan China mengeklaim telah menemukan deposit mineral bawah laut berukuran sangat besar di wilayah Pasifik bagian barat. Deposit mineral tersebut memiliki kandungan emas dan perak sangat tinggi.
Menurut laporan stasiun televisi pemerintah China, CCTV, penemuan tersebut terjadi selama ekspedisi ilmiah bersama yang melibatkan sejumlah lembaga akademik China.
Baca Juga: Sejumlah Negara Pindahkan Emas dari AS, Benarkan Dunia Mulai Tak Percaya pada Amerika?
Bijih mineral yang ditemukan di ladang hidrotermal dasar laut tersebut—wilayah tempat air panas kaya mineral menyembur keluar dari celah-celah dasar samudra—memiliki kandungan logam mulia yang luar biasa tinggi.
Pada kadar tertingginya, kandungan perak mencapai lebih dari 1 kilogram (2,2 pon) per ton bijih. Sementara itu, kandungan logam rata-ratanya disebut lebih tinggi dibandingkan deposit mineral pada umumnya yang ditemukan di daratan.Nasib Pria Kosovo: Jadi Mata-mata CIA hingga Menyusup ke al-Qaeda, tapi Kini Bakal Diusir AS
“Wilayah pertambangan dasar laut yang luas ini memiliki nilai eksploitasi yang sangat tinggi,” kata Song Shiji, wakil dekan Institute for Ocean Engineering di Tsinghua University sekaligus salah satu ilmuwan utama dalam proyek tersebut, sebagaimana dikutip dari South China Morning Post, Senin (14/9/2026).Tim survei juga melibatkan para peneliti dari Qingdao Institute of Marine Geology dan Shanghai Jiao Tong University. Ekspedisi tersebut berangkat dari Shenzhen pada 10 Agustus menggunakan kapal Xiang Yang Hong 10, salah satu kapal riset oseanografi raksasa yang dirancang dan dibangun secara domestik oleh China.
Logam-logam mulia tersebut ditemukan di sebuah ladang hidrotermal bersuhu tinggi yang membentang luas dan terkonsentrasi dalam endapan yang dikenal sebagai bijih sulfida hidrotermal.
Deposit logam multijenis ini terbentuk ketika air yang sangat panas dan kaya logam menyembur dari dasar laut lalu bertemu dengan air laut yang suhunya hampir membeku. Pendinginan secara tiba-tiba membuat logam berikatan dengan sulfur dan mengendap menjadi mineral sulfida padat—sebagian besar berupa tembaga, seng, dan timbal, tetapi sering kali juga mengandung emas dan perak.
Ekspedisi selama 18 hari tersebut mencakup tujuh kali penyelaman ke laut dalam. Media pemerintah China melaporkan bahwa deposit itu berada di sebuah cekungan busur belakang (back-arc basin) di Pasifik bagian barat, yang disebut berada dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE) China. Namun, koordinat pastinya tidak diungkapkan.
Menurut platform pelacakan kapal Shipxy, kapal penelitian tersebut berlayar melalui perairan di sebelah utara dan timur Taiwan serta di sebelah utara Filipina.Ladang hidrotermal mencakup sebagian besar wilayah Pasifik bagian barat, membentang dari Kepulauan Kuril di sebelah utara Jepang hingga perairan timur laut Selandia Baru, berdasarkan sebuah makalah ilmiah yang diterbitkan pada 2016 dalam Journal of Jilin University oleh para ilmuwan kelautan dari Qingdao, China timur.
Sebelum ekspedisi terbaru, tim peneliti telah melakukan lebih dari selusin survei pendahuluan di wilayah tersebut. CCTV melaporkan bahwa misi-misi sebelumnya menemukan puluhan ventilasi hidrotermal bersuhu tinggi pada kedalaman antara 700 hingga 1.500 meter, dengan suhu cairan yang mencapai lebih dari 315 derajat Celsius.
Berdasarkan penelitian sebelumnya tersebut, tim berhasil menemukan wilayah pertambangan hidrotermal “baru dan sangat luas” di dalam cekungan tersebut.
Deposit yang terkait dengan wilayah itu terdiri dari tiga gundukan sulfida berukuran sangat besar dan berbentuk kerucut.
Analisis laboratorium awal menunjukkan bahwa tubuh bijih tersebut sebagian besar terdiri dari mineral yang memiliki nilai ekonomi penting, seperti kalkopirit, pirit, dan sfalerit.CCTV melaporkan bahwa rata-rata konsentrasi emas dan perak di deposit tersebut secara signifikan lebih tinggi dibandingkan deposit yang berada di daratan.
Kadar emas mencapai 15,4 gram per ton bijih, atau sekitar 0,5 troy ounce. Sementara itu, kadar perak mencapai 1,27 kilogram per ton bijih.
Song juga mengatakan bahwa ladang hidrotermal aktif tersebut menjadi habitat bagi komunitas biologis unik yang mampu beradaptasi dengan kondisi laut dalam. Penemuan tersebut memberikan wawasan ilmiah mengenai bagaimana kehidupan dapat bertahan di lingkungan ekstrem.










