Irak Sita Peluncur Drone yang Menarget Pipa Minyak Arab Saudi, Apakah Iran Terlibat?

Irak Sita Peluncur Drone yang Menarget Pipa Minyak Arab Saudi, Apakah Iran Terlibat?

Global | sindonews | Minggu, 13 September 2026 - 16:37
share

Otoritas Irak menyatakan bahwa pasukan keamanan mereka telah menemukan dan menyita platform peluncur drone yang diduga digunakan dalam serangan terhadap pipa minyak Timur-Barat (East-West) milik Arab Saudi.

Dalam pernyataan yang diterbitkan oleh kantor berita negara Irak (INA) pada hari Sabtu, Letnan Jenderal Saad Maan, kepala Sel Media Keamanan Irak, mengatakan bahwa satuan tugas intelijen dan keamanan telah melacak dan menyita peralatan peluncur tersebut.

Ia juga mengatakan bahwa para ahli forensik dan teknis terus berupaya mengidentifikasi pihak-pihak di balik serangan tersebut, dan bahwa panglima tertinggi Irak telah menyetujui permintaan Iran untuk bergabung dalam penyelidikan serta meninjau temuan-temuannya.

Baghdad terus menjalin komunikasi langsung dengan otoritas Saudi untuk berbagi informasi intelijen, ujar Maan. "Irak menganut prinsip 'kedaulatan preventif', yang berarti tidak hanya mencegah serangan terhadap wilayah kami, tetapi juga tidak membiarkan wilayah kami menjadi landasan peluncuran serangan terhadap negara lain, ataupun membiarkan Irak menjadi bagian dari perang proksi," ujarnya, sebagaimana dikutip oleh INA.

Sejumlah orang terluka setelah beberapa pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan dari Irak menghantam jalur pipa Timur-Barat di wilayah Riyadh dan Madinah pada hari Kamis, menurut keterangan otoritas Arab Saudi. Jalur pipa tersebut—yang mengalirkan sekitar 4 hingga 5 persen pasokan minyak global dan memungkinkan Arab Saudi menghindari Selat Hormuz—sempat ditutup sebagai langkah pencegahan.

Pihak kerajaan juga menyatakan telah memutuskan untuk tidak melakukan pembalasan untuk saat ini, menyusul permintaan dari Baghdad.

Otoritas Saudi melacak lokasi peluncuran hingga ke Provinsi Maysan di Irak tenggara, sebuah wilayah dekat perbatasan Iran tempat milisi yang berafiliasi dengan Iran telah lama bercokol.

Juru bicara militer Irak, Sabah al-Numan, mengatakan pada hari Sabtu bahwa badan keamanan dan intelijen sedang melakukan operasi untuk menangkap semua pihak yang terlibat.

Dapatkan peringatan dan pembaruan instan berdasarkan minat Anda. Jadilah yang pertama tahu saat peristiwa besar terjadi.Menyusul serangan tersebut, otoritas Irak untuk sementara menutup beberapa perbatasan dengan Iran—termasuk Shalamcheh, Chazabeh, dan Mandali—guna melakukan pemeriksaan keamanan, sebelum kemudian membukanya kembali secara terbatas untuk lalu lintas bantuan kemanusiaan.

Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi merombak jajaran komandan militer di wilayah perbatasan, termasuk di Provinsi Maysan, pasca-serangan tersebut.

Komandan operasi Maysan dan kepala kepolisian provinsi termasuk di antara mereka yang diberhentikan, sementara sejumlah komandan keamanan di provinsi tersebut kini sedang diselidiki terkait serangan itu.

Analis politik Salim Zakhour mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Arab Saudi "tidak mengambil langkah menuju eskalasi langsung di lapangan”, melainkan mengupayakan “pembendungan secara politik melalui pemerintah Irak”.

Ia mengatakan bahwa perkembangan beberapa hari terakhir ini “sangat rumit bagi Arab Saudi”, seraya menyoroti pergerakan maju kelompok Houthi ke arah Bab al-Mandeb serta serangan terhadap jalur pipa minyak Timur-Barat.

Hal ini menempatkan Riyadh dalam posisi defensif yang krusial, sehingga memerlukan “langkah-langkah nyata dan praktis untuk menangkal upaya-upaya tersebut,” tambah Zakhour.

Topik Menarik