Sejumlah Negara Pindahkan Emas dari AS, Benarkah Dunia Mulai Tak Percaya Amerika?
Belanda menjadi negara terbaru yang memindahkan sebagian cadangan emasnya dari Amerika Serikat (AS) dalam beberapa tahun terakhir. Bank Sentral Belanda (De Nederlandsche Bank/DNB) pada Rabu mengumumkan bahwa mereka memindahkan 86 ton cadangan emas yang sebelumnya disimpan di New York dan Kanada ke London, dengan alasan “meningkatnya ketidakstabilan geopolitik”.
“Distribusi cadangan yang lebih seimbang antara Amerika Utara, Inggris, dan Belanda membantu menyebarkan risiko serta membuat cadangan tersebut lebih mudah tersedia untuk digunakan dalam situasi krisis,” kata DNB dalam sebuah pernyataan.
Baca Juga: 3 Negara Eropa Pindahkan Emas dari AS, Ada yang Tarik 300 Ton
Kapal Induk Nuklir George Washington AS Sudah Tiba di Timur Tengah untuk Perang Melawan Iran
Menurut bank sentral Belanda, emas yang disimpan di Bank of England di London harus memenuhi standar perdagangan internasional modern dan dianggap sebagai emas yang paling mudah diperdagangkan di dunia. Karena itu, emas tersebut akan menjadi yang paling mudah digunakan DNB dalam situasi krisis.
“London merupakan pusat penyimpanan dan perdagangan emas yang tak tertandingi, dengan pasar emas batangan yang paling dalam dan paling likuid di dunia. Pernyataan DNB memperjelas hal tersebut dengan menekankan bahwa pemindahan ini bertujuan meningkatkan ‘likuiditas dan kemudahan untuk diperdagangkan’,” kata Adrian Ash, direktur riset BullionVault, platform daring perdagangan emas, perak, platinum, dan paladium fisik untuk investor individu, kepada Newsweek.Sebelum pemindahan tersebut, DNB menyimpan 31,3 persen cadangan emasnya di New York dan 19,7 persen di Ottawa, Kanada. Kini, masing-masing lokasi tersebut menyimpan 18,5 persen cadangan emas Belanda. Sementara itu, porsi emas yang disimpan di London meningkat dari 18,1 persen menjadi 32,1 persen.
Sebanyak 30,8 persen cadangan emas DNB lainnya disimpan di Belanda.
Negara-negara Eropa Memindahkan Emas dari AS
Belanda menjadi negara Eropa kedua tahun ini yang memindahkan cadangan emasnya dari Amerika Serikat, setelah Prancis melakukan langkah serupa pada Januari.Banque de France, bank sentral Prancis, menjual 129 ton emas yang sebelumnya disimpan di Federal Reserve Bank of New York antara Juli 2025 dan Januari 2026. Jumlah tersebut setara sekitar 5 persen dari total cadangan emas Prancis.Dengan hasil penjualan tersebut, bank sentral Prancis membeli emas baru dalam jumlah setara di Eropa yang memenuhi persyaratan atau standar yang berlaku. Emas tersebut kini disimpan di Paris bersama cadangan emas Prancis lainnya, yang totalnya mencapai sekitar 2.437 ton.
Fenomena pemindahan atau pemulangan cadangan emas sebenarnya bukan hal baru.
Pada musim panas 2017, di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump periode pertama, Bundesbank (bank sentral Jerman) menyelesaikan pemindahan 300 ton emas dari Federal Reserve Bank of New York ke Frankfurt.
Langkah tersebut merupakan bagian dari rencana bank sentral Jerman untuk menyimpan mayoritas cadangan emas negara itu di dalam negeri, di fasilitas penyimpanan di Frankfurt.
Setelah pemindahan tersebut, sekitar 36,6 persen cadangan emas Jerman masih disimpan di Federal Reserve Bank of New York. Sementara itu, seluruh 374 ton emas Jerman yang sebelumnya disimpan di Banque de France di Paris telah dipindahkan.
Tahun lalu, Jerman dan Italia menolak tekanan domestik dan politik yang semakin kuat untuk memulangkan sekitar USD245 miliar nilai cadangan emas yang disimpan di brankas Federal Reserve Bank of New York. Tekanan tersebut muncul di tengah ketegangan perdagangan dan kekhawatiran terhadap kebijakan moneter AS di bawah Presiden Donald Trump.
Jerman dan Italia masing-masing memiliki cadangan emas terbesar kedua dan ketiga di dunia, yakni sekitar 3.352 ton dan 2.452 ton. Italia menyimpan sekitar sepertiga cadangan emasnya di New York.Negara dengan cadangan emas terbesar adalah Amerika Serikat sendiri, dengan sekitar 8.133 ton.
Ash mengatakan sulit untuk menganggap bahwa keputusan-keputusan tersebut sama sekali tidak memiliki dimensi politik. Dia membandingkannya dengan perubahan global pada periode 2022–2024, ketika sejumlah bank sentral asing mulai mengurangi penyimpanan emas fisik mereka di Bank of England dan sejumlah tempat penyimpanan di negara-negara Barat lainnya.
“Banyak analis dan pengamat mengatakan penurunan jumlah emas yang disimpan oleh pihak asing di Bank of England antara 2022 dan 2024 didorong oleh kekhawatiran geopolitik. Bank-bank sentral dari negara-negara berkembang dan negara non-Barat kemungkinan khawatir terhadap sanksi Inggris terhadap Rusia, ditambah kasus pemerintah Venezuela yang tidak diakui sehingga emas Venezuela yang disimpan di London tidak dapat diakses,” kata Ash kepada Newsweek.
Dia menambahkan bahwa kedua persoalan tersebut belum terselesaikan.
“Namun, jumlah emas yang dilaporkan berada dalam penyimpanan Bank of England kini telah kembali ke level sebelumnya. Sementara itu, kepemilikan emas yang dialokasikan untuk bank-bank sentral asing di New York kembali menurun mulai pertengahan 2025," paparnya.
“Jadi, jika faktor politik dianggap sebagai penyebab berkurangnya—meskipun hanya sementara dan terlalu dibesar-besarkan—emas yang disimpan di London, sulit untuk tidak berpikir bahwa hal serupa juga terjadi terhadap AS di bawah pemerintahan Trump periode kedua.”
Meski demikian, Ash mengatakan langkah DNB tidak semata-mata harus dilihat sebagai keputusan politik.“Pernyataan DNB memang membuka ruang untuk interpretasi politik dengan menggunakan istilah seperti ‘krisis parah’ dan ‘meningkatnya ketidakstabilan’. Namun, perubahan distribusi tersebut membuat sekitar sepertiga cadangan emas Belanda berada di dalam negeri, sepertiga di Amerika Utara (New York dan Ottawa), dan sepertiga di pusat perdagangan emas dunia, London," lanjut Ash.
“Itu mengulangi diversifikasi geografis yang diterapkan Bundesbank Jerman sekitar satu dekade lalu dan pada dasarnya merupakan kebijakan yang masuk akal untuk menyebarkan risiko," paparnya.
Apa Dampaknya bagi AS?
Menurut Ash, tidak ada “hubungan mekanis” antara suatu negara yang menjadi lokasi penyimpanan cadangan emas dan nilai mata uang negara tersebut.Karena itu, pemindahan sebagian cadangan emas dari AS tidak serta-merta berarti nilai dolar AS akan terdampak.
“Pound Inggris, misalnya, telah lama kehilangan dominasinya di pasar valuta asing (foreign exchange/FX), meskipun Inggris tetap menjadi lokasi pasar emas fisik terkemuka di dunia," katanya.
“Namun, pemerintah China sedang mendorong Hong Kong dan Shanghai sebagai lokasi potensial bagi bank-bank sentral negara lain untuk menyimpan sebagian cadangan emas mereka. Hal tersebut merupakan bagian penting dari ambisi Beijing yang telah dinyatakan secara terbuka untuk meningkatkan penggunaan yuan dalam perdagangan, keuangan, dan pengelolaan cadangan devisa,” kata Ash.
Negara yang Masih Menyimpan Emas di Federal Reserve AS
Berikut sejumlah negara yang menurut laporan tersebut masih menyimpan cadangan emas di Federal Reserve:1. Jerman
Menurut Bundesbank, Jerman masih menyimpan 36,6 persen cadangan emasnya di Federal Reserve Bank of New York.2. Lebanon
Lebanon diperkirakan menyimpan sekitar 40 persen cadangan emasnya di New York, menurut Bunker Blog.3. India
India menyimpan sebagian cadangan emasnya di sejumlah fasilitas penyimpanan di luar negeri, termasuk New York, menurut laporan NDTV.4. Italia
Banca d’Italia, bank sentral Italia, menyimpan lebih dari 43 persen cadangan emasnya di Amerika Serikat, menurut Corriere della Sera.Daftar tersebut tidak lengkap, karena sejumlah negara tidak mengungkapkan secara terbuka lokasi penyimpanan cadangan emas mereka.Hugo Chavez Pulangkan 160 Ton Emas
Di bawah pemerintahan Presiden Hugo Chavez, Venezuela memulangkan sekitar 160 ton cadangan emasnya dari bank-bank asing, termasuk yang berada di Amerika Serikat dan Eropa, ke Caracas hingga Januari 2012.Langkah yang dimulai setahun sebelumnya tersebut dijelaskan Chavez sebagai tindakan untuk menegaskan kedaulatan nasional sekaligus melindungi kekayaan Venezuela dari ketidakstabilan ekonomi global.
“Emas itu kembali ke tempat yang memang seharusnya: brankas Bank Sentral Venezuela,” kata Chavez pada 2011.
Sekitar 31 ton emas Venezuela masih disimpan di brankas Bank of England di London. Upaya Venezuela sebelumnya untuk mengambil kembali emas tersebut terhambat setelah Bank of England tidak mengakui legitimasi pemerintahan mantan Presiden Nicolas Maduro.
Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez, mengatakan bulan lalu bahwa pemerintahan baru berencana menghidupkan kembali upaya untuk mendorong pemulihan aset internasional Venezuela di Bank of England.
Aset-aset tersebut akan digunakan untuk berbagai proyek yang bertujuan membangun kembali perumahan, meningkatkan kapasitas layanan kesehatan, memperluas ketersediaan listrik, serta membersihkan puing-puing akibat gempa bumi baru-baru ini.










