Houthi Klaim Merudal Pangkalan Militer Arab Saudi, Pertempuran Makin Berkobar

Houthi Klaim Merudal Pangkalan Militer Arab Saudi, Pertempuran Makin Berkobar

Global | sindonews | Minggu, 13 September 2026 - 11:19
share

Kelompok Houthi Yaman pada hari Minggu (13/9/2026) mengeklaim telah menggunakan drone dan rudal untuk menyerang sebuah pangkalan militer di Arab Saudi bagian selatan. Klaim tersebut muncul ketika pertempuran dengan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh semakin berkobar, memicu semakin banyak warga sipil meninggalkan rumah mereka.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan serangan menyasar pangkalan Sharurah di wilayah selatan Arab Saudi. "Target serangan adalah depot senjata serta pusat komando dan kendali yang mengatur agresi terhadap bangsa dan rakyat kami," katanya, yang dikutip The Guardian.

Baca Juga: Mengapa 'NATO Islam' Tak Menolong Arab Saudi dari Serangan Houthi Yaman?

Houthi tidak menyebutkan kapan tepatnya serangan tersebut dilakukan.

Pertempuran antara Houthi yang didukung Iran dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi meningkat dalam sepekan terakhir.

Pada Sabtu, pasukan pemerintah Yaman mengatakan mereka menyerang basis kelompok Houthi di kota pelabuhan Mocha di Laut Merah. Mereka kemudian menyerang sejumlah posisi Houthi lainnya di wilayah barat daya Yaman.

“Angkatan Udara Angkatan Bersenjata menargetkan posisi dan barak kelompok teroris Houthi dengan tiga serangan udara” di wilayah Taiz, kata militer Yaman dalam unggahan di X pada hari Minggu.

Sementara itu, situs berita Amerika Serikat (AS); Axios, melaporkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dua kali menelepon Presiden AS Donald Trump pekan lalu untuk meminta serangan terhadap Houthi. Namun, menurut laporan tersebut, permintaan itu ditolak.Pertempuran terbaru terjadi setelah serangan besar-besaran Houthi selama sepekan yang berujung pada penguasaan sisa wilayah pesisir Laut Merah Yaman serta sejumlah pulau strategis.

Perkembangan tersebut semakin memperkuat kendali Houthi atas Selat Bab al-Mandab, jalur strategis di pintu masuk selatan Laut Merah.

Jalur pelayaran tersebut kini menjadi semakin penting bagi ekspor minyak Arab Saudi setelah Iran secara signifikan memutus pengiriman melalui Teluk akibat blokadenya terhadap Selat Hormuz sejak awal perang di Timur Tengah.

Klaim serangan Houthi terhadap Arab Saudi muncul ketika pelacak lalu lintas maritim menerima laporan baru mengenai serangan terhadap sebuah kapal di Selat Hormuz pada Minggu.

Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap ancaman terhadap pasokan energi global yang berkaitan dengan Iran.

Sebelumnya, Arab Saudi menghentikan operasi sebuah jalur pipa minyak penting setelah menuduh drone yang berasal dari Irak sebagai penyebab gangguan.

UKMTO, badan yang berafiliasi dengan Angkatan Laut Inggris, mengatakan telah menerima laporan mengenai sebuah proyektil yang menghantam kapal saat melintas di Selat Hormuz. Hingga Minggu pagi, belum diketahui seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan maupun kondisi awak kapal tersebut.Houthi belakangan juga mengumumkan blokade maritim mereka sendiri terhadap pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi di Laut Merah.

Houthi Klaim Diserang 129 Kali

Kantor berita pemerintah Yaman, Saba, melaporkan pada Sabtu bahwa pasukan pemerintah menghancurkan kendaraan dan senjata serta menewaskan anggota “milisi teroris Houthi” di dekat pelabuhan Mocha.

Seorang juru bicara pasukan pemerintah juga mengatakan mereka menyerang sejumlah target Houthi di luar kota tersebut.

Sementara itu, Houthi pada Sabtu malam mengeklaim bahwa dDalam 48 jam terakhir, pesawat tempur Arab Saudi melakukan 129 serangan udara terhadap wilayah yang mereka kuasai.

Klaim dari kedua pihak tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Perang saudara Yaman bermula pada 2014 setelah Houthi merebut ibu kota Sanaa. Konflik kemudian relatif mereda setelah gencatan senjata pada 2022, tetapi kembali berkobar pada Juli tahun ini.

Arab Saudi pertama kali terjun langsung dalam perang pada 2015 dengan mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Riyadh hingga kini masih mendukung pemerintahan yang berbasis di Aden tersebut.Pada Sabtu malam, otoritas Arab Saudi mengatakan sebuah proyektil Houthi jatuh di wilayah dekat perbatasan. Insiden itu terjadi beberapa jam setelah pemerintah mengeluarkan peringatan mengenai kemungkinan serangan.

Direktorat Pertahanan Sipil Arab Saudi mengatakan insiden tersebut menyebabkan dua orang terluka serta menimbulkan kerusakan material pada sebuah masjid, sejumlah bangunan dan kendaraan.

Perang saudara Yaman telah menyebabkan jutaan orang terusir dari rumah mereka. Pertempuran terbaru kembali memaksa semakin banyak warga meninggalkan tempat tinggalnya.

Jatuhnya Mocha ke tangan Houthi pada hari Kamis mendorong banyak penduduk mengungsi menuju Aden, tempat pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional bermarkas.

Badan migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan pada Sabtu bahwa sekitar 76.000 orang telah melarikan diri dari pertempuran sejak Juli. Jumlah tersebut meningkat empat kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya.

Sekitar 1.400 orang bahkan telah melarikan diri ke Djibouti, kata Menteri Ekonomi dan Keuangan Djibouti Ilyas Moussa Dawaleh pada Sabtu.

Menurut sumber dari kedua pihak yang bertikai, pertempuran yang kembali berkobar di Yaman telah menewaskan lebih dari 500 orang.Di sisi lain, Trump pada Sabtu mengakui telah berbicara dengan pemimpin de facto Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman. Namun, Trump juga mengatakan: "Houthi telah menghubungi kami dan mereka tidak ingin berperang dengan kami."

Trump tidak menjelaskan apakah Washington akan mengambil tindakan tertentu. Dia hanya mengatakan,“Semuanya akan baik-baik saja.”

Pada 2025, AS melancarkan kampanye pengeboman selama tujuh pekan terhadap Houthi sebagai respons atas serangkaian serangan kelompok tersebut terhadap kapal-kapal di Laut Merah. Serangan Houthi saat itu dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap Hamas dalam perang melawan Israel di Gaza.

Kampanye AS tersebut berakhir setelah tercapai gencatan senjata melalui perundingan. Namun, Houthi tetap melancarkan serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel.

Belakangan, kelompok tersebut kembali menyerang kapal-kapal di Laut Merah setelah mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi.

Di ibu kota Yaman, Sanaa, para pendukung Houthi merayakan pembebasan 210 tahanan yang ditahan di wilayah yang jatuh ke tangan kelompok tersebut. Sebagian dari mereka disebut telah mendekam di penjara hingga delapan tahun.

Topik Menarik