Perang Yaman Berkecamuk! Pemberontak Houthi dan Pasukan Pro-Saudi Berebut Sanaa dan Laut Merah
Perang kembali melandaYaman, negara yang pernah digambarkan sebagai lokasi bencana kemanusiaan terburuk di dunia.
Saat ini, negara tersebut sedang mengalami periode pertempuran paling sengit sejak tahun 2022, ketika gencatan senjata yang ditengahi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghentikan perang delapan tahun yang telah menewaskan puluhan ribu orang.
Pekan ini, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melancarkan serangan balasan terhadap pemberontak Houthi. Pertempuran semakin sengit pada hari Senin di provinsi Taiz, al-Bayda, dan al-Jawf; wilayah al-Jawf sendiri dipandang sebagai salah satu pintu gerbang utama menuju Sanaa, ibu kota yang dikuasai Houthi. Sementara itu, kelompok Houthi menyatakan telah memukul mundur sebagian upaya kemajuan pasukan pemerintah dan menyerang Arab Saudi, yang mendukung pemerintah Yaman.
Melansir Al Jazeera, situasi ketidakstabilan dan konflik regional yang lebih luas telah menciptakan kondisi baru yang memicu kembali perang Yaman yang belum terselesaikan.
Kapal Induk Nuklir George Washington AS Sudah Tiba di Timur Tengah untuk Perang Melawan Iran
Perang Yaman Berkecamuk! Pemberontak Houthi dan Pasukan Pro-Saudi Berebut Sanaa dan Laut Merah
1. Berebut Sanaa dan Laut Merah
Ketegangan meningkat pada bulan Juli setelah pasukan pemerintah mengklaim melakukan serangan terhadap bandara di Sanaa yang dikuasai Houthi, sehingga mencegah sebuah pesawat dari Iran untuk mendarat. Serangan-serangan lanjutan pun terjadi, dan situasi semakin memanas pekan lalu ketika Houthi melancarkan serangan besar-besaran, berupaya bergerak maju melintasi wilayah barat Taiz dan selatan Hodeidah, menuju kota pelabuhan al-Makha (Mocha) serta Selat Bab al-Mandeb di Laut Merah.Dalam fase baru peperangan ini, pemerintah yang diakui secara internasional bertekad untuk merebut kembali ibu kota dari kelompok Houthi yang didukung Iran.
Di saat yang sama, kedua belah pihak saling berebut kendali atas wilayah di dekat Bab al-Mandeb—kawasan yang kini memiliki arti lebih penting di tengah penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang merupakan jalur vital bagi pasokan minyak dan gas dunia. Kelompok Houthi telah secara rutin melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah sejak tahun 2023.
Para analis menyebutkan bahwa pasukan yang berpihak pada pemerintah kini memiliki sumber daya yang lebih memadai dibandingkan masa mana pun selama konflik berlangsung, namun mereka juga memperingatkan agar tidak mengharapkan kemenangan yang cepat."Ini kemungkinan besar akan menjadi perang yang berkepanjangan, bukan kampanye militer yang berlangsung singkat," ujar Mohammed al-Basha, seorang analis berkebangsaan Yaman-Amerika sekaligus pendiri Basha Report, sebuah perusahaan konsultan risiko yang berbasis di AS, kepada Al Jazeera.
2. Mengubah Status Quo
Para analis mengatakan bahwa tujuan pemerintah Yaman adalah merebut kembali seluruh wilayah negara itu, setelah bertahun-tahun dilanda perang saudara dan kepemimpinan yang terpecah-belah.Didorong oleh keberhasilannya merebut kembali wilayah di Yaman selatan—yang tidak dikuasai Houthi—dari Dewan Transisi Selatan (STC), sebuah kelompok separatis yang didukung UEA, pada awal tahun ini, pemerintah kini mengarahkan sasarannya kepada kelompok Houthi.
"Pemerintah kini mampu menguasai wilayah yang lebih luas dan jumlah milisi di lapangan pun berkurang... satu-satunya pihak lain yang tersisa saat ini adalah Houthi di Sanaa," ujar Mahjoob Zweiri, profesor politik Timur Tengah di Universitas Qatar, kepada Al Jazeera.
Sejak kekalahan STC, pemerintah Yaman berfokus menampilkan kekuatan anti-Houthi di negara itu sebagai kelompok yang bersatu dengan satu rantai komando militer, setelah bertahun-tahun mengalami perpecahan.
Meski demikian, Houthi tetap menjadi "kekuatan militer yang tangguh," kata al-Basha. "[Houthi] akan berjuang mati-matian alih-alih sekadar menyerah begitu saja."
3. Konfrontasi Batas Geografis
Jika kelompok yang didukung Iran itu dipukul mundur, mereka bisa saja bertahan di wilayah dataran tinggi kesukuan di utara, di sekitar Saada, Hajjah, Sanaa, dan wilayah tetangganya, kata analis tersebut.
Nasib Pria Kosovo: Jadi Mata-mata CIA hingga Menyusup ke al-Qaeda, tapi Kini Bakal Diusir AS
"Hal itu akan menciptakan konfrontasi yang batas-batas geografisnya jauh lebih jelas antara wilayah inti di utara yang dikuasai Houthi dan wilayah-wilayah yang dikendalikan oleh pemerintah yang diakui secara internasional beserta sekutunya," ujar al-Basha.
4. Krisis Regional sebagai Katalis
Di tengah situasi konflik yang sedang berlangsung antara AS-Israel dan Iran—serta serangan dari Iran dan sekutunya di kawasan Teluk—terdapat peluang besar bagi pemerintah Yaman yang didukung Saudi untuk menghadapi kelompok Houthi."Ada pandangan luas bahwa keberadaan aktor non-negara—seperti milisi—harus diakhiri di tingkat regional," kata Zweiri, seraya menambahkan bahwa negara-negara kawasan semakin enggan menerima kelompok-kelompok semacam itu."Hal ini juga memengaruhi situasi di Yaman," jelasnya. "Pemerintah... [telah] mendapat lampu hijau untuk pada dasarnya mengakhiri status quo yang ada saat ini di Yaman."
Konflik AS-Israel melawan Iran merupakan katalis yang sangat penting, kata analis politik Saudi, Khaled Batarfi.
"Konfrontasi yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mengubah nilai strategis Yaman," ujarnya kepada Al Jazeera. "Houthi tidak lagi beroperasi hanya dalam kerangka perang saudara Yaman; mereka telah menunjukkan kemampuan dan kesediaan untuk mengaitkan medan perang Yaman dengan keamanan Laut Merah, pelayaran internasional, dan infrastruktur energi kawasan."
Serangan Houthi baru-baru ini terhadap wilayah Saudi—yang menyebabkan puluhan orang terluka—merupakan hal yang sangat signifikan, tambahnya. "Mereka berisiko mengubah kembali konflik ini dari konfrontasi internal Yaman menjadi krisis keamanan langsung antara Arab Saudi dan Houthi," kata Batarfi.
Namun, meskipun konfrontasi yang lebih luas yang melibatkan Iran terselesaikan atau mereda, "bukan berarti konflik Saudi-Houthi akan berakhir begitu saja," ujar al-Basha.
"Yaman memiliki perang yang belum usai, dinamika wilayahnya sendiri, serta tuntutan politiknya sendiri."
5. Perang Regional
Meskipun Arab Saudi dan Iran tampaknya memiliki kesepahaman untuk mencegah eskalasi langsung, kelompok-kelompok bersenjata yang berpihak pada Iran—termasuk Houthi sendiri—bisa saja bekerja sama untuk memberikan tekanan militer dan politik terhadap Riyadh, kata al-Basha.Houthi dapat menimbulkan dampak yang "signifikan" bagi Arab Saudi melalui serangan terkoordinasi menggunakan rudal jarak jauh dan pesawat nirawak (drone), bahkan saat mereka menghadapi tekanan yang meningkat di lapangan, ujarnya.Dan meskipun prioritas Arab Saudi adalah mencegah kembalinya perang berkepanjangan di Yaman, "serangan terhadap fasilitas sipil dan energi Saudi mau tak mau mengubah perhitungan strategis," kata Batarfi.
"Tidak ada negara yang bisa terus-menerus menoleransi serangan langsung terhadap wilayahnya," katanya.
Sementara itu, Iran—yang sedang sibuk dengan konfliknya melawan AS—memiliki keterbatasan dalam memberikan dukungan tambahan kepada Houthi, namun kemungkinan besar akan terus mengirimkan komponen rudal dan drone, serta bahan bakar olahan dan komoditas lainnya, kata al-Basha.
6. Pertempuran Memperebutkan Bab al-Mandeb
Tujuan utama lainnya dari pemerintah yang diakui secara internasional adalah mengamankan Selat Bab al-Mandeb.Iran memanfaatkan selat tersebut sebagai sarana penekan melalui Houthi, sehingga salah satu tujuan perang ini adalah memastikan jalur perairan tersebut berada di bawah kendali pemerintah pusat Yaman, kata Zweiri.
Hal itu juga sebagian menjelaskan alasan dukungan Arab Saudi terhadap serangan tersebut—Houthi sempat menyatakan blokade terhadap kapal-kapal Saudi yang melintasi jalur perairan itu, yang merupakan koridor vital bagi pelayaran antara Laut Merah dan Teluk Aden.
Bab al-Mandeb menjadi semakin penting bagi ekspor minyak Saudi sejak Iran mulai membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz pada awal konflik antara Iran dengan AS dan Israel. Namun, kelompok Houthi juga berupaya untuk bergerak maju menuju jalur pelayaran vital di Laut Merah.
Kelompok tersebut telah menunjukkan bahwa mereka memiliki daya tembak untuk mengancam pelayaran komersial dan militer di sepanjang Laut Merah, Teluk Aden, dan sebagian Laut Arab, ujar al-Basha.Pada akhirnya, mereka juga bisa saja mencoba memungut biaya (tol) di jalur perairan tersebut, meniru pendekatan Iran di sekitar Selat Hormuz, tambahnya.
“Jika Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb sama-sama mengalami gangguan serius pada waktu yang bersamaan, dampaknya akan meluas jauh melampaui Yaman atau Arab Saudi – hal itu akan menjadi masalah besar bagi keamanan energi dan perdagangan internasional," kata Batarfi.
7. Perang Berbiaya Besar
Para analis sepakat bahwa arah konflik tampaknya menuju perang berskala lebih besar dalam beberapa hari mendatang."Pemerintah tampaknya berada dalam posisi yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya, dan mereka memandang putaran pertempuran ini sebagai kesempatan untuk memperkuat posisi serta merebut lebih banyak wilayah dari kelompok Houthi," ujar Ahmed Nagi, analis senior masalah Yaman di International Crisis Group, kepada Al Jazeera.
Ini juga merupakan kali pertama pemerintah bertempur di lebih dari satu front, membuka berbagai medan pertempuran melawan Houthi—serta beralih dari posisi bertahan ke posisi menyerang, katanya. Selain itu, pasukan pemerintah kini lebih terkoordinasi dan memiliki akses ke persenjataan yang lebih canggih dibandingkan putaran-putaran sebelumnya, tambah Nagi.
Para analis juga menilai bahwa konflik ini kemungkinan akan berlangsung lama.
"Awalnya, ada yang memperkirakan skenario ala Suriah, di mana pertahanan Houthi runtuh dengan cepat seperti halnya jatuhnya rezim Bashar al-Assad," kata al-Basha, merujuk pada serangan kilat bulan Desember 2024 yang menggulingkan al-Assad.
"Sebaliknya, situasi yang mungkin kita hadapi lebih menyerupai skenario ala Sudan, di mana dua blok geografis yang cukup jelas saling berhadapan dalam konflik yang berkepanjangan dan memakan banyak biaya," ia memperingatkan.










