Presiden UEA Ingatkan Netanyahu tentang Serangan Hamas 7 Oktober, Ini 5 Faktanya

Presiden UEA Ingatkan Netanyahu tentang Serangan Hamas 7 Oktober, Ini 5 Faktanya

Global | sindonews | Kamis, 10 September 2026 - 02:20
share

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi kecaman politik yang keras terkait laporan bahwa Presiden UEA telah memperingatkannya mengenai operasi besar Hamas beberapa hari sebelum serangan tanggal 7 Oktober 2023.

Kantor Perdana Menteri menepis laporan tersebut sebagai "kebohongan mutlak." Namun, dengan pemilihan umum Israel yang tinggal kurang dari dua bulan lagi, para pesaing Netanyahu memanfaatkan laporan ini sebagai bukti terbaru dari apa yang mereka sebut sebagai daftar panjang peringatan yang telah diabaikan olehnya.

Presiden UEA Ingatkan Netanyahu tentang Serangan Hamas 7 Oktober, Ini 5 Faktanya

1. Pemimpin Oposisi Israel Kecam Netanyahu

Empat pemimpin partai oposisi—Gadi Eisenkot, Naftali Bennett, Avigdor Lieberman, dan Yair Golan—mengeluarkan pernyataan bersama yang jarang terjadi, yang menyerukan "penyelidikan segera dan menyeluruh" terhadap "kegagalan dan kegagalan fungsi" Netanyahu.

"Publik Israel berhak mengetahui: Apa yang diketahui Netanyahu, kapan ia mengetahuinya, mengapa ia tidak memberikan informasi terbaru kepada aparat keamanan, dan mengapa ia tidak bertindak untuk melindungi warga sipil Israel?" bunyi pernyataan tersebut.

Mantan Perdana Menteri Naftali Bennett mengatakan bahwa laporan itu "benar," seraya menulis di platform X bahwa tindakan Netanyahu yang diduga mengabaikan peringatan tersebut merupakan bentuk "kelalaian kriminal." Sekutu politik Bennett, mantan Perdana Menteri Yair Lapid, mengatakan bahwa ia juga telah memperingatkan secara terbuka mengenai kemungkinan serangan sebelum hal itu terjadi, sebagaimana yang juga dilakukan oleh para pejabat tinggi keamanan Israel maupun pejabat Mesir. "Jika Netanyahu menjalankan perannya, pembantaian itu bisa dicegah," kata Lapid dalam sebuah pernyataan.

2. Netanyahu Diingatkan 10 Hari sebelum Serangan Hamas

Laporan yang diterbitkan di surat kabar Haaretz tersebut didasarkan pada temuan dari buku karya jurnalis Israel, Shlomi Eldar dan Ruti Yuval, yang akan segera terbit. Laporan itu menyebutkan bahwa Presiden UEA, Sheikh Mohammed bin Zayed, menelepon Netanyahu sekitar 10 hari sebelum tanggal 7 Oktober dan—dalam percakapan telepon selama 45 menit—memperingatkannya bahwa pemimpin Hamas di Gaza, Yahya Sinwar, sedang merencanakan langkah besar terhadap Israel yang dapat memicu pertumpahan darah dan mengguncang stabilitas kawasan. Laporan tersebut mengutip pesan yang disampaikan Sinwar kepada UEA dan Israel melalui seorang mediator Palestina pada pertengahan September 2023, yang memperingatkan akan adanya "gempa bumi" (peristiwa besar yang mengguncang) yang akan datang.

Haaretz melaporkan bahwa Netanyahu bereaksi "relatif tenang" terhadap informasi tersebut dan meyakinkan Bin Zayed bahwa Israel siap menghadapi skenario apa pun.

Kementerian Luar Negeri UEA mengeluarkan pernyataan pada Selasa malam yang mengatakan bahwa mereka "tidak mengomentari berita media atau spekulasi mengenai percakapan antara para pemimpin pemerintahan," namun tidak membantah adanya panggilan telepon tersebut. "Jika diperlukan, semua informasi intelijen yang relevan telah dan terus dikomunikasikan di antara pihak-pihak terkait," bunyi pernyataan itu.

Sebuah sumber di Israel yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa kantor Netanyahu telah berupaya agar UEA membantah laporan Haaretz tersebut, namun UEA hanya bersedia mengeluarkan pernyataan mengenai pertukaran informasi intelijen.

Kantor Perdana Menteri dengan tegas membantah laporan tersebut, dengan menyatakan bahwa Netanyahu "tidak berbicara dengan presiden Uni Emirat Arab selama periode yang dimaksud dan tidak menerima peringatan apa pun darinya."Eldar, salah satu jurnalis di balik laporan tersebut, menanggapi bantahan Netanyahu.

"Itu benar," ujarnya kepada Jake Tapper dari CNN. "Saya mengerjakan laporan ini selama hampir satu setengah tahun," katanya.

"Saya memiliki dokumennya, saya memiliki catatannya, saya memiliki segalanya yang menunjukkan bahwa presiden UEA menelepon Netanyahu satu setengah minggu sebelum tanggal 7 Oktober dan memberinya peringatan bahwa Yahya Sinwar sedang merencanakan serangan besar terhadap Israel," kata Eldar.

3. Netanyahu Diserang Jelang Pemilu

Laporan ini muncul di saat para pesaing Netanyahu berupaya menjadikan isu akuntabilitas terkait peristiwa 7 Oktober—serangan paling mematikan dalam sejarah Israel, di mana lebih dari 1.200 orang dibunuh dan lebih dari 250 orang diculik ke Gaza—sebagai isu utama dalam kampanye mereka.

Netanyahu kini telah bertahan lebih lama dibandingkan hampir semua anggota pimpinan keamanan tertinggi Israel yang menjabat pada hari itu. Sejak serangan tersebut, menteri pertahanan, kepala staf militer, serta direktur intelijen militer, Mossad, dan Shin Bet, semuanya telah mengundurkan diri, diberhentikan, atau menyelesaikan masa jabatan mereka.

4. Desakan Pembentukan Komisi Penyelidikan

Gadi Eisenkot, yang saat ini dalam jajak pendapat muncul sebagai penantang utama Netanyahu, menyatakan bahwa laporan Haaretz menunjukkan Netanyahu "memimpin Israel secara membabi buta" menuju kegagalan tanggal 7 Oktober; ia juga menegaskan kembali janjinya untuk membentuk komisi penyelidikan negara jika terpilih.

Hampir tiga tahun setelah serangan tersebut, Netanyahu terus menolak desakan dari keluarga korban yang berduka maupun para penyintas peristiwa 7 Oktober untuk membentuk komisi independen guna menyelidiki kegagalan keamanan dan intelijen yang memungkinkan Hamas melancarkan operasi tersebut.Sebaliknya, ia dan para koleganya justru menyebarkan narasi yang menyalahkan para kepala keamanan karena tidak membangunkannya pada malam sebelum serangan terjadi, meskipun terdapat indikasi intelijen bahwa serangan Hamas sudah di depan mata.

5. Teori Konspirasi Bertebaran

Bulan lalu, istrinya, Sara Netanyahu, melontarkan dugaan bahwa Yair Golan—seorang pensiunan mayor jenderal sekaligus pemimpin partai berhaluan kiri, Democrats, yang secara sukarela bergegas menuju perbatasan Gaza pada 7 Oktober untuk menyelamatkan para penyintas—sudah mengetahui rencana serangan tersebut sebelumnya.

Dalam sebuah wawancara dengan saluran pro-pemerintah Channel 14, ia mempertanyakan bagaimana Golan bisa "sudah berpakaian dan siap sedia" saat fajar menyingsing hari itu untuk berangkat ke wilayah selatan, "sementara orang lain tidak tahu apa-apa, termasuk perdana menteri."

Golan menuntut permintaan maaf atas apa yang disebutnya sebagai "teori konspirasi keji" dan menyatakan akan menempuh jalur hukum terkait pencemaran nama baik; ia menyebut tuduhan tersebut sebagai bagian dari upaya Netanyahu untuk "menulis ulang" peristiwa 7 Oktober dan mengalihkan tanggung jawab.

Menanggapi laporan Haaretz tersebut, Golan menulis di platform X bahwa narasi perdana menteri yang berbunyi "mereka tidak membangunkan saya" sudah tidak berlaku lagi. "Dia tahu, dia sudah diperingatkan," tulisnya. Ia menyebut hal itu "bukan sekadar kesalahan penilaian, melainkan tindakan pengabaian yang disengaja dan merupakan tindak pidana."

Beberapa jam kemudian, partai Democrats meningkatkan intensitas kampanye pemilu mereka untuk melawan Netanyahu dengan memasang papan reklame raksasa di jalan raya utama Tel Aviv yang memuat tulisan: "Berkas kasus 1.200 korban tewas – Menyebabkan kematian akibat kelalaian."

Topik Menarik