Pasukan Pro-Saudi Siap Rebut Ibu Kota Yaman yang Dikuasai Houthi, Ini 5 Faktanya
Pasukan yang setia kepada pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung penuh Arab Saudi melancarkan serangan balik terhadap pemberontak Houthi; para pejabat menyatakan bahwa mereka bertujuan merebut kembali ibu kota, Sanaa, dari kelompok yang didukung Iran tersebut.
Pertempuran meningkat pada hari Senin di provinsi al-Bayda dan al-Jawf—yang dipandang sebagai pintu gerbang utama menuju ibu kota—di mana pihak Houthi menyatakan setidaknya tujuh orang tewas dalam serangan terhadap sebuah penjara di kota al-Hazm.
Pasukan Pro-Saudi Siap Rebut Ibu Kota Yaman yang Dikuasai Houthi, Ini 5 Faktanya
1. Merebut Kembali Sanaa
Wakil Menteri Pertahanan Yaman, Mayor Jenderal Samir Al-Sabri, mengatakan dalam pernyataan yang disiarkan di televisi pemerintah bahwa pemerintah yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi telah memutuskan untuk "merebut kembali Sanaa".Kapal Induk Nuklir George Washington AS Sudah Tiba di Timur Tengah untuk Perang Melawan Iran
Majid al-Nuzaili, juru bicara pasukan yang berpihak pada pemerintah Yaman, mengatakan tujuan operasi ini adalah untuk "membebaskan Yaman dari cengkeraman" Houthi "dan mengembalikan Sanaa sebagai ibu kota bagi seluruh rakyat Yaman".
Ia juga memperingatkan warga sipil untuk menghindari beberapa jalan utama menuju Sanaa, seraya menyatakan bahwa peringatan tersebut berlaku untuk rute yang menghubungkan ibu kota dengan Marib dan al-Jawf, termasuk jalan yang melintasi Nihm, Sirwah, Mahliyah, dan al-Hazm.
2. Bentrokan Meluas
Permusuhan ini menandai salah satu eskalasi paling serius sejak gencatan senjata yang ditengahi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2022 menghentikan pertempuran berskala besar. Perang di Yaman bermula pada tahun 2014 setelah Houthi merebut Sanaa, yang memicu intervensi militer pimpinan Arab Saudi pada tahun berikutnya.Para diplomat sempat berharap gencatan senjata tahun 2022 akan berkembang menjadi penyelesaian politik yang langgeng, namun upaya tersebut terhambat di tengah ketegangan regional yang dipicu oleh perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.Pertempuran di Yaman kembali pecah pada bulan Juli, ketika pasukan pemerintah menyerang bandara yang dikuasai Houthi di Sanaa, sehingga menghalangi pendaratan sebuah pesawat dari Iran. Kemudian pekan lalu, Houthi melancarkan serangan besar-besaran, berupaya bergerak maju melalui wilayah barat Taiz dan selatan Hodeidah, menuju kota pelabuhan al-Makha dan Selat Bab al-Mandeb di Laut Merah. Sebelumnya, kelompok Houthi telah mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal Arab Saudi yang melintasi jalur perairan tersebut, yang merupakan koridor vital bagi pelayaran antara Laut Merah dan Teluk Aden. Selat ini memiliki arti penting baru bagi ekspor minyak Arab Saudi sejak Iran mulai membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz pada awal perang AS dan Israel melawan negara tersebut.
Ahmed al-Shalafi, editor urusan Yaman di Al Jazeera, mengatakan bahwa pasukan pemerintah Yaman tampaknya "telah mengatasi guncangan awal" akibat serangan pemberontak "dan memperluas pertempuran ke beberapa front, sebagian untuk memecah konsentrasi pasukan Houthi dan meningkatkan tekanan terhadap mereka".
Ia mengatakan bahwa pertempuran pada hari Kamis terutama terkonsentrasi di sebelah barat Taiz dan selatan Hodeidah, namun kini telah meluas ke provinsi al-Dhalea, Marib, al-Jawf, dan al-Bayda.
"Al-Jawf sangat penting karena berbatasan dengan Arab Saudi dan terhubung ke provinsi Saada, yang merupakan basis utama Houthi," ujarnya. "Al-Bayda memiliki nilai strategis karena terletak di pusat Yaman dan menghubungkan delapan kegubernuran—empat di wilayah utara dan empat di wilayah selatan."
3. Korban Berjatuhan
Pertempuran tersebut telah mengakibatkan ratusan orang menjadi korban.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pada hari Senin bahwa hampir 900 orang tewas atau terluka sejak hari Kamis, dengan sebagian besar korban berada di Taiz dan sepanjang pesisir barat. WHO menyebutkan bahwa diperkirakan 21.000 orang—atau sekitar 3.000 keluarga—telah mengungsi dari wilayah Taiz saja.Wartawan Al Jazeera, Yousef Mawry, yang melaporkan dari Sanaa, mengatakan bahwa jumlah korban diperkirakan akan terus meningkat karena angka tersebut belum mencakup data dari hari Senin.
"Jumlah korban pada hari Senin diperkirakan mencapai ratusan orang dari kedua belah pihak, terutama karena adanya laporan mengenai serangan udara yang dilancarkan di kegubernuran Al-Jawf," ujarnya.
4. Menguasai Banyak Wilayah
Sementara itu, Rashad al-Alimi—kepala Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman yang didukung Arab Saudi—mengklaim telah meraih kemajuan besar dalam melawan kelompok Houthi pada hari Senin, seraya memuji keberhasilan pasukan pemerintah dalam memajukan posisi mereka di al-Jawf, al-Bayda, Taiz, dan Hodeidah."Angkatan bersenjata kami akan terus menjalankan tugas konstitusional mereka hingga institusi negara pulih kembali dan otoritasnya mencakup seluruh wilayah Yaman," kata al-Alimi dalam sebuah pernyataan. Ia menuduh kelompok Houthi lebih memilih eskalasi konflik daripada perdamaian, serta memperingatkan bahwa kelompok tersebut akan memikul tanggung jawab penuh atas konsekuensi dari tindakan mereka.
Pusat informasi pasukan yang berpihak pada pemerintah melaporkan telah melancarkan sejumlah serangan udara terhadap posisi-posisi Houthi di sebelah barat Taiz pada Senin malam. Sebelumnya, mereka mengklaim telah melancarkan serangan di Yatma, al-Jawf, dan menyatakan bahwa pasukan mereka sedang "terlibat dalam pertempuran sengit" melawan kelompok Houthi di provinsi tersebut.Pusat media tersebut menyatakan bahwa pasukan yang berpihak pada pemerintah juga telah bergerak maju hingga ke pinggiran distrik Dhi Na’im di al-Bayda.
5. Houthi Terus Melawan
Di sisi lain, pihak Houthi menyatakan telah memukul mundur upaya pergerakan maju berskala besar yang dilakukan oleh pasukan dukungan Arab Saudi menuju pegunungan al-Labanat di al-Jawf.Dalam sebuah unggahan di platform X, Mohammed al-Farah—anggota biro politik Houthi—mengklaim bahwa puluhan petempur yang berpihak pada pemerintah tewas atau terluka, serta menyebutkan bahwa pasukan Houthi juga menyerang pasukan bantuan di al-Jawf menggunakan sejumlah rudal balistik.
Ia mengatakan serangan-serangan tersebut menghancurkan atau merusak puluhan kendaraan—termasuk kendaraan lapis baja—dan mengklaim bahwa sejumlah komandan termasuk di antara korban tewas atau terluka.
Kelompok tersebut juga merilis rekaman yang diklaim memperlihatkan serangan rudal balistik terhadap truk-truk pengangkut peralatan militer dari wilayah Arab Saudi di kamp al-Wadiah, yang terletak di wilayah Hadramawt bagian tenggara.
Al Jazeera tidak dapat memverifikasi secara independen klaim yang disampaikan oleh pihak Houthi maupun pemerintah Yaman tersebut.










