Kapal Induk Abraham Lincoln 'Kelelahan' 259 Hari di Laut: Ribuan Tentara AS Rentan Jadi Target Empuk Iran
Keluarga personel militer Amerika Serikat (AS) yang bertugas di kapal induk USS Abraham Lincoln meluapkan kemarahan kepada Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut AS Hung Cao dalam pertemuan tatap muka yang berlangsung panas pada Kamis malam di San Diego.
Mereka mempertanyakan kondisi sulit yang dialami para awak USS Lincoln ketika misi tempur kapal induk tersebut menghadapi Iran terus berlanjut tanpa kepastian kapan mereka dapat pulang ke rumah, menurut dua orang yang menghadiri pertemuan tersebut.
Baca Juga: Kapal Induk George Washington AS Unjuk Kekuatan di Laut China Selatan
Ketegangan kembali memuncak dalam pertemuan virtual terpisah pada malam yang sama antara pimpinan Angkatan Laut AS dan keluarga sekitar 5.000 pelaut serta Marinir yang berada di atas USS Lincoln.
Rekaman audio dan video pertemuan virtual tersebut telah ditinjau oleh MS NOW. Dalam kedua pertemuan, anggota keluarga secara langsung menyampaikan kekhawatiran kepada para pemimpin Angkatan Laut mengenai kesejahteraan dan keselamatan orang-orang yang mereka cintai.Kapal Induk Nuklir George Washington AS Sudah Tiba di Timur Tengah untuk Perang Melawan Iran
Kekhawatiran itu muncul setelah kapal induk tersebut mencatat rekor modern dalam perang Iran karena berada di laut selama jumlah hari berturut-turut yang sangat panjang.
Berbagai persoalan yang diangkat dalam pertemuan yang berlangsung panas tersebut antara lain kesehatan mental para pelaut, keselamatan di geladak kapal, kekurangan pasokan, kelangkaan makanan, kontaminasi air, serta gangguan sistem pengiriman surat.
Gangguan sistem pos tersebut menyebabkan banyak paket makanan dan kebutuhan dari keluarga yang dikirim ke kapal hilang atau tertahan dalam perjalanan selama berbulan-bulan.
Para keluarga meminta informasi mengenai kapan para pelaut mereka dapat pulang ke rumah. Namun hingga kini, pertanyaan tersebut belum memiliki jawaban.
Keluarga Menuntut Kepastian
Dalam pertemuan tatap muka yang berlangsung tegang di Naval Air Station North Island, San Diego, Hung Cao mengatakan Angkatan Laut AS sedang mempersiapkan kelompok tempur kapal induk lain, USS Theodore Roosevelt, untuk dikerahkan ke Timur Tengah guna menggantikan USS Lincoln.Hal tersebut disampaikan menurut dua orang yang menghadiri pertemuan. Namun, Cao tidak dapat memastikan kapan pergantian tersebut akan dilakukan dengan alasan keamanan operasional.
Sekitar 200 anggota keluarga memenuhi sebuah ruangan perjamuan di Island Club, pusat katering dan acara yang berada di dalam pangkalan.
Mereka menuntut jawaban dari pelaksana tugas sekretaris Angkatan Laut AS. Pada beberapa kesempatan, pasangan para pelaut bahkan menangis ketika meminta para pemimpin militer menjelaskan apa yang dilakukan untuk mengatasi persoalan kesehatan mental dan kelelahan para personel di kapal.
Salah satu orang tua mengatakan putrinya merasa dirinya tidak akan pernah pulang dan percaya bahwa dia akan meninggal di atas kapal.Anggota keluarga lainnya menilai Angkatan Laut belum berbuat cukup untuk merawat para pelaut yang sedang menjalankan perang tersebut. Seorang perempuan bahkan mempertanyakan misi militer itu sendiri.
Dia mengatakan sulit baginya untuk merasa bangga terhadap anggota keluarganya yang bertugas di kapal karena dia meyakini militer AS sedang “membunuh warga sipil tak bersalah”.
Pelaut yang menjadi anggota keluarganya juga disebut merasa bersalah atas apa yang dia lakukan. Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan dari para peserta pertemuan.
USS Lincoln Terus Berada di Laut
Meskipun pengerahan USS Lincoln tampaknya telah diperpanjang untuk kedua kalinya, para pemimpin Angkatan Laut dalam kedua pertemuan menekankan profesionalisme dan ketangguhan para pelaut yang berada di kapal.Wakil Laksamana Joseph Cahill dan Wakil Laksamana Douglas Verissimo—masing-masing merupakan komandan senior pasukan permukaan dan pasukan udara Angkatan Laut Armada Pasifik—bersama para pemimpin senior dari kalangan tamtama, berbicara kepada lebih dari 200 peserta secara virtual pada Kamis malam.
“Saya bahkan tidak bisa menggambarkan betapa bangganya kami kepada mereka. Mereka menjalankan tugas dengan tingkat presisi dan profesionalisme yang menunjukkan kualitas orang-orang kita yang telah memilih mengenakan seragam negara ini di pundak mereka dan menjawab panggilan tugas,” kata Cahill.
Dia menambahkan bahwa keluarga merupakan salah satu titik penting bagi pimpinan Angkatan Laut untuk memahami berbagai tantangan yang dihadapi para pelaut.
Hingga Jumat, kapal induk tersebut telah menjalani pengerahan selama 259 hari, setelah meninggalkan pangkalannya di San Diego pada 21 November.
Kapal tersebut hanya berhenti dua kali. Pertama di Guam pada Desember dan kemudian pada 7 Juli, ketika kapal sempat singgah di Oman. Artinya, awak USS Lincoln telah berada di laut selama 208 hari berturut-turut.
Setelah pengerahan ini berakhir, USS Lincoln dan para awaknya akan ditempatkan di pangkalan baru di Bremerton, Washington, bukan lagi di San Diego.
Perubahan tersebut membuat banyak keluarga berada dalam ketidakpastian karena mereka masih menunggu kepastian kapan harus pindah ke utara dari California.
Untuk saat ini, para pemimpin Angkatan Laut mengatakan keluarga akan memiliki waktu 58 hari untuk pindah setelah USS Lincoln kembali.
Mereka juga mempertimbangkan 31 Desember sebagai target potensial untuk memberikan keluarga sebuah “kerangka waktu” mengenai kapan perpindahan tersebut dapat dilakukan.
Banyak Momen Penting Terlewatkan
Keluarga mengungkapkan frustrasi karena orang-orang yang mereka cintai telah melewatkan berbagai peristiwa penting yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup. Di antaranya adalah kelahiran anak dan pemakaman anggota keluarga dekat.Salah satu pasangan mengatakan mereka memiliki bayi di rumah yang lahir ketika USS Lincoln masih menjalani pengerahan.
“Suami saya tidak mendapatkan waktu bersamanya,” kata perempuan tersebut. Dia mengakui banyak keluarga lain mengalami hal serupa.
Berdasarkan rekaman audio dan video pertemuan virtual yang ditinjau MS NOW, banyak peserta juga menyampaikan frustrasi melalui ruang obrolan dalam pertemuan tersebut. “Kami juga punya teman yang berada di kapal ini—dan mereka bahkan belum pernah bertemu dengan anak-anak mereka,” lanjut perempuan tersebut.
“Dan saya pikir banyak dari kami yang bingung dan frustrasi karena saat ini kami berada dalam ketidakpastian tanpa mengetahui kapan mereka akan pulang.”
“Saya berharap kami bisa memberikan jawaban itu kepada kalian,” jawab Verissimo.
“Kami sedang berupaya menyelesaikannya, dan saya menantikan hari ketika kami setidaknya bisa memberikan jendela waktu untuk pangkalan asal. Itu berarti mereka bergerak ke arah yang benar. Tetapi kami belum memiliki kepastian itu sekarang.”
Verissimo mengakui pengerahan panjang tampaknya menjadi “semakin sering” terjadi di Angkatan Laut AS. Dia mengingat kembali pengerahan panjang yang terjadi selama pandemi Covid-19.
Namun, dia mengatakan situasinya kini berbeda karena militer AS sedang terlibat dalam pertempuran aktif.
“Kami mendengar dengan sangat jelas dampaknya terhadap keluarga, terhadap para personel militer, dan terhadap kemampuan jangka panjang kami untuk menjaga serta mempertahankan kesehatan pasukan,” kata Cahill.
Kekhawatiran Kesehatan Mental
Namun, banyak anggota keluarga tetap mengkhawatirkan **kelelahan, rendahnya moral, serta kesehatan mental** para pelaut dan Marinir.Perang dengan Iran kini telah memasuki minggu ke-23 tanpa tanda jelas kapan akan berakhir.
Dalam pertemuan virtual tersebut, banyak peserta mempertanyakan sumber daya kesehatan mental apa yang tersedia saat ini di kapal induk dan fasilitas apa yang akan diberikan setelah para personel kembali.Menurut rekaman pertemuan yang ditinjau MS NOW, Cahill menjelaskan pendekatan yang mencakup keberadaan konselor ketahanan selama pengerahan dan rohaniwan militer di kapal perang. Program tersebut dipadukan dengan “Human Factors Councils”.
Menurut kebijakan Angkatan Laut, lembaga tersebut dirancang untuk meninjau berbagai faktor manusia yang memengaruhi kesejahteraan individu dalam suatu komando serta mengidentifikasi upaya pencegahan utama untuk mengurangi risiko yang relevan.
“Ini mengenai bagaimana unit memahami dan duduk bersama para pelaut secara individu melalui Human Factors Councils, kemudian berbicara mengenai kondisi mereka pada saat itu,” kata Cahill.
Mengenai kapan USS Lincoln akan kembali, Cahill mengatakan tim pimpinan sedang menangani sejumlah persyaratan untuk “memahami setiap pelaut secara individu”.
Informasi tersebut nantinya akan disampaikan melalui jaringan pusat dukungan armada dan keluarga.
Toilet Rusak, Kekhawatiran Jamur dan Pasokan Makanan
Selain persoalan jadwal kepulangan dan kesehatan mental, anggota keluarga juga menyampaikan kekhawatiran mengenai kondisi tempat tinggal dan pasokan makanan di atas kapal induk.Para pemimpin Angkatan Laut mengakui bahwa pernah terjadi “sumbatan membandel” yang menyebabkan banyak toilet di zona tertentu kapal tidak dapat digunakan dalam waktu cukup lama.
Namun, mereka menegaskan para pelaut telah dilatih untuk menangani persoalan perpipaan tersebut dan sebagian besar toilet yang tidak berfungsi dapat diperbaiki dengan cepat.
Para pejabat juga mengatakan sesuatu yang dianggap banyak pelaut sebagai jamur di kamar mandi mungkin sebenarnya adalah "mildew", atau pertumbuhan jamur akibat kelembapan.
Kondisi tersebut disebut sebagai sesuatu yang “tidak menyenangkan bagi siapa pun”, terutama karena sistem ventilasi di kapal memiliki tantangan tersendiri.
Namun, para pejabat mengatakan mereka menganggap serius kekhawatiran kesehatan tersebut. Mereka menggunakan ahli higiene industri untuk memeriksa kamar mandi, memastikan kipas berfungsi dan aliran udara berjalan dengan baik.
Perang Iran Ganggu Rantai Pasokan
Para pejabat juga membahas tantangan rantai pasokan yang unik dan menimbulkan efek domino terhadap pengiriman surat, persediaan toko kapal, serta makanan untuk USS Lincoln dan kapal-kapal pendukung yang menjadi bagian dari kelompok tempur kapal induk tersebut.Perang aktif dengan Iran di kawasan Teluk Persia membuat pasokan sulit dikirim dari pangkalan Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Bahrain menuju kapal, kata Verissimo dalam pertemuan virtual.“Ketika Bahrain tidak lagi menjadi pelabuhan untuk logistik, makanan, dan surat... semua peralatan yang berada di sana ketika penembakan dimulai menjadi tertahan di sana,” kata Verissimo, berdasarkan rekaman pertemuan yang ditinjau MS NOW.
“Jadi, itu menjadi tumpukan besar pada awalnya. Hal tersebut juga membuat kami harus menghadapi kondisi logistik yang sangat diperebutkan, jalur pasokan yang sangat sulit dan panjang. Kami harus memprioritaskan makanan, yang juga menjadi tantangan dan sesekali masih menjadi tantangan,” lanjutnya.
Verissimo mengatakan Angkatan Laut memprioritaskan makanan. Setelah itu, mereka memprioritaskan barang-barang untuk toko kapal seperti pasta gigi dan sampo, kemudian surat ketika mereka telah menemukan cara logistik untuk mengirimkannya ke kapal di laut.
Para pejabat mengatakan pengiriman buah dan sayuran segar ke kapal akan terus menjadi masalah karena makanan tersebut dapat membusuk sebelum sampai ke tujuan.
“Kami melakukan pekerjaan yang lebih baik dengan pasokan dan surat. Kondisinya membaik, meskipun masih belum baik. Untuk sementara waktu kondisinya sangat buruk,” kata Verissimo. “Tetapi kami, sebagai sebuah negara, melakukan yang terbaik yang kami bisa.”
Angkatan Laut Klaim Kondisi Mulai Membaik
Menjelang akhir pertemuan virtual, seorang force master chief mengatakan mereka telah “mengirim pesan kepada USS Lincoln” untuk mendapatkan jawaban mengenai sejumlah kekhawatiran yang disampaikan keluarga.Menurutnya, balasan yang diterima menyatakan tidak ada jamur di kapal. Pesan tersebut juga menyebut sistem pendingin udara berfungsi, tersedia air bersih, serta terdapat dua pilihan makanan berprotein bagi para awak.
Namun, tidak jelas kepada siapa force master chief tersebut mengirim pesan. Para pemimpin Angkatan Laut kemudian menutup pertemuan virtual dengan mengucapkan terima kasih kepada keluarga atas dukungan mereka terhadap para personel selama pengerahan.
Mereka juga mendorong keluarga menghubungi ombudsman masing-masing jika memiliki kekhawatiran atau pertanyaan.
“Saya tidak bisa lebih bangga lagi kepada anak-anak muda, orang-orang yang lebih tua, semuanya yang bekerja bersama dalam kondisi yang sangat sulit, lebih sulit daripada yang pernah saya alami selama 39 tahun berseragam,” kata Verissimo sebagai penutup.
“Ini merupakan tugas berkepanjangan yang dijalani Lincoln Strike Group, dan saya pribadi menantikan hari ketika kami dapat membuka klasifikasi atau mengungkap sebagian pekerjaan yang telah mereka lakukan.”










