Ironi Netanyahu, Kalah Pemilu Israel tapi Ngotot Tuduh Partai Arab Curang

Ironi Netanyahu, Kalah Pemilu Israel tapi Ngotot Tuduh Partai Arab Curang

Global | sindonews | Senin, 2 November 2026 - 12:36
share

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu terus menuduh partai-partai Arab mencurangi pemilu Israel setelah aliansinya kalah dalam perebutan mayoritas kursi Parlemen atau Knesset. Dia sekarang mempersoalkan hasil pemilu tersebut.

Namun, upaya Netanyahu itu tetap sia-sia. Sejumlah pejabat menegaskan bahwa hasil pemungutan suara tidak akan digugurkan oleh berbagai tuduhan yang dilontarkan Netanyahu.

Baca Juga: Pangeran Khalid bin Salman Bilang ke Iran: Israel Akan Kejar Turki, lalu Serang Arab Saudi!

Sementara itu, pengadilan memerintahkan sejumlah tersangka dalam salah satu kasus yang disorot untuk dibebaskan.

Dalam sebuah pernyataan yang menunjukkan kesamaan sikap di antara para pejabat, Ketua Komite Pemilihan Umum Israel terlihat duduk di antara Jaksa Agung Israel dan Kepala badan intelijen Shin Bet. Mereka menegaskan bahwa sekalipun tuduhan campur tangan asing yang mencuat pekan lalu terbukti, hasil pemilu tetap akan berlaku.

Partai Likud pimpinan Netanyahu menuduh partai-partai yang dipimpin warga Arab telah “mencuri” pemilu, tetapi tidak menyertakan bukti. Dalam pemilu tersebut, blok pendukung Netanyahu kehilangan mayoritas kursi di Parlemen.

Dengan mempertanyakan keabsahan hasil pemungutan suara, Netanyahu tampaknya berupaya menghalangi kemungkinan terbentuknya aliansi oposisi bersama partai-partai Arab yang dapat menggulingkannya dari jabatan perdana menteri.Likud merujuk pada sejumlah kasus, termasuk penangkapan tiga aktivis politik sebelum tempat pemungutan suara (TPS) dibuka pada 27 Oktober. Ketiganya ditangkap karena kedapatan membawa amplop berisi uang tunai yang diduga akan digunakan untuk menyuap pemilih. Dua hari kemudian, polisi menangkap empat tersangka lainnya. Polisi menyatakan para tersangka memiliki keterkaitan dengan partai Ra’am, yang membantah terlibat dalam kasus tersebut.

Pada hari Minggu, seorang hakim mempertanyakan atau menolak permintaan polisi untuk memberlakukan pembatasan tambahan terhadap ketiga tersangka. Polisi kemudian menyatakan bahwa salah satu tersangka dibebaskan dengan sejumlah “persyaratan” yang tidak dirinci, sementara tersangka lainnya diperintahkan menjalani tahanan rumah selama delapan hari. Masa penahanan tersangka ketiga diperpanjang selama dua hari.

Mansour Abbas, pemimpin partai Ra’am yang memperoleh delapan kursi di Knesset, mengecam penangkapan tersebut sebagai tindakan tidak demokratis dan upaya untuk memengaruhi hasil pemilu.

Blok partai-partai sekutu Netanyahu hanya memperoleh 53 dari 120 kursi di Knesset. Jumlah tersebut tidak memenuhi ambang mayoritas 61 kursi untuk bisa membentuk pemerintahan.

Sementara itu, blok partai yang dipimpin pesaing utama Netanyahu, Gadi Eisenkot, memperoleh 48 kursi. Adapun partai-partai yang dipimpin warga Arab, termasuk Ra’am, meraih 19 kursi. Jika digabungkan, kedua blok yang berseberangan dengan Netanyahu tersebut memiliki cukup kursi untuk membentuk pemerintahan baru. Namun, belum jelas apakah mereka akan sepakat untuk berkoalisi.

Hasil pemilu dijadwalkan disahkan secara resmi pekan ini. Setelah itu, Presiden Isaac Herzog akan mulai bertemu dengan setiap partai yang berhasil masuk parlemen pada Rabu untuk mengetahui siapa yang mereka dukung sebagai calon perdana menteri berikutnya.Setelah konsultasi tersebut, Herzog akan menunjuk kandidat—kemungkinan besar Netanyahu atau Eisenkot—yang menurut penilaiannya memiliki peluang terbaik untuk membentuk pemerintahan koalisi.

Langkah itu akan membuka jalan bagi negosiasi yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu. Jika negosiasi gagal, Herzog dapat meminta kandidat lain untuk mencoba membentuk pemerintahan. Jika tidak ada kesepakatan yang tercapai, Israel akan menghadapi pemilu baru pada awal tahun depan.

Netanyahu menyiratkan bahwa Eisenkot akan melakukan pengkhianatan jika bergabung dengan partai-partai Arab. Sejumlah warga Israel sepakat dengan pandangan tersebut. Puluhan orang menggelar demonstrasi di luar kediaman Eisenkot pada Minggu malam.

“Kami memiliki negara yang sangat kecil, negara Yahudi yang sangat kecil. Kami ingin mempertahankannya sebagai negara Yahudi,” kata salah seorang demonstran, Shoshana Idasis, seperti dikutip AP, Senin (2/11/2026).

Namun, aksi unjuk rasa lain yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir dan diikuti lebih banyak orang justru menyerukan pembentukan koalisi Yahudi-Arab.Likud juga menuduh adanya campur tangan asing dalam pemilu. Badan keamanan Shin Bet telah membuka penyelidikan atas permintaan Komisi Pemilihan Umum Israel.

Namun, Ketua Komite Pemilihan Umum yang juga Hakim Mahkamah Agung, Noam Sohlberg, menegaskan: “Posisi kami adalah sekalipun kecurigaan tersebut terbukti, hal itu tidak akan merusak integritas proses pemilu maupun hasil pemilihan umum secara keseluruhan."

Likud segera mengeluarkan pernyataan yang mempertanyakan bagaimana ketua komite dapat mengakui adanya tuduhan serius, tetapi pada saat yang sama menyatakan bahwa tuduhan tersebut tidak akan memengaruhi hasil akhir pemilu.

Pada hari Minggu, Eisenkot menuduh Netanyahu melancarkan kampanye terencana dan terorganisasi untuk mendelegitimasi hasil pemilu dengan menyiratkan bahwa Qatar mendukung partai-partai oposisi guna menggulingkan Netanyahu.

Eisenkot mengatakan Shin Bet telah memberikan pengarahan kepadanya mengenai penyelidikan dugaan campur tangan asing tersebut.Qatar membantah mendanai kegiatan apa pun yang bertujuan memengaruhi hasil pemilu Israel. Banyak warga Israel memandang negara Arab Teluk tersebut sebagai pendukung Hamas.

Tuduhan mengenai pengaruh Qatar juga pernah mengguncang politik Israel dalam sejumlah kasus lain, termasuk dugaan bahwa sejumlah ajudan dekat Netanyahu menerima uang dari Qatar ketika bekerja di kantor perdana menteri.

Lawan-lawan Netanyahu menuduhnya menggunakan taktik menakut-nakuti dan berusaha membangun narasi untuk semakin mendiskriminasi partai-partai yang dipimpin warga Arab serta warga Arab Israel, yang mencakup sekitar 20 persen dari total populasi negara tersebut.

Yousef Jabareen, pemimpin Joint List, koalisi partai-partai Arab yang meraih 11 kursi, mencatat bahwa lebih dari separuh konten yang dipublikasikan Likud dan Netanyahu pada hari pemungutan suara ditujukan kepada pemilih Arab. Menurutnya, hal itu merupakan taktik untuk mendorong warga Israel sayap kanan agar datang memberikan suara.

“Dalam situasi krisis, dia kembali menggunakan taktik yang sudah dikenalnya: hasutan rasis dan delegitimasi terhadap masyarakat Arab,” kata Jabareen.

Topik Menarik