Pangeran Khalid bin Salman Bilang ke Iran: Israel Akan Kejar Turki, lalu Serang Arab Saudi!
Menteri Pertahanan Kerajaan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman memberi tahu Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Mayor Jenderal Mohsen Rezaei bahwa Israel pada akhirnya bisa menjadikan Arab Saudi sebagai target serangan.
Rezaei mengungkap kekhawatiran adik Putra Mahkota Mohammed bin Salman itu dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB. Menurutnya, Pangeran Khalid bin Salman menyampaikan kekhawatiran itu dalam pertemuan empat negara; Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Iran yang berlangsung di kompleks Saadabad, Teheran, Senin pekan lalu.
Baca Juga: Serangan Rudal Iran terhadap Pangkalan AS Bikin Rugi Rp271 Triliun, Amerika Pertimbangkan Kabur dari Kuwait dan Arab Saudi
Rezaei mengatakan para pejabat Riyadh, Ankara, dan Islamabad telah mengambil sikap tegas menentang Israel dalam pertemuan tersebut.
“Pangeran Khalid mengatakan bahwa setelah Anda, Israel akan mengejar Turki, dan kemudian mereka akan menyerang kami, Arab Saudi,” kata Rezaei, seperti dikutip dari Kurdistan24, Senin (2/11/2026).“Saya pikir mereka bahkan menjadi lebih Hizbullah daripada banyak teman kami sendiri,” ujarnya, menggunakan istilah khas Iran untuk menggambarkan komitmen yang sangat kuat.Rezaei mengatakan ketiga negara tersebut sebenarnya meminta sendiri agar kunjungan ke Teheran dilaksanakan. “Mereka berbicara dengan sangat tegas menentang Israel,” ujarnya.
Dia mengatakan Kepala Badan Intelijen Turki Ibrahim Kalin juga menyampaikan pandangan keras mengenai ancaman yang ditimbulkan Israel.
Rezaei menambahkan, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir turut menyinggung ancaman Israel. "Serta hubungan yang sedang terbentuk antara umat Hindu dan Yahudi untuk melawan umat Islam dan Pakistan," paparnya, diduga mengacu pada hubungan erat India dan Israel.
Rezaei mengatakan keempat pihak sepakat untuk melanjutkan pertemuan tersebut. Menteri luar negeri Arab Saudi, Turki, dan Pakistan juga berpeluang mengunjungi Iran untuk menggelar pembicaraan lanjutan.
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan merupakan pihak dalam Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah yang ditandatangani pada 7 Agustus. Berdasarkan perjanjian tersebut, serangan terhadap salah satu negara diperlakukan sebagai serangan terhadap seluruh negara anggota.Arab Saudi dan Turki menyatakan pakta tersebut bersifat defensif dan tidak ditujukan kepada negara mana pun.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menggambarkan kunjungan Pangeran Khalid bin Salman pada Senin pekan lalu itu sebagai bagian dari upaya mengurangi ketegangan, mendorong dialog dan solusi diplomatik, serta mendukung mediasi Qatar dan Pakistan. Namun, kementerian tersebut tidak mengofirmasi kekhawatiran Pangeran Khalid bin Salman bahwa Israel pada akhirnya menjadikan Arab Saudi sebagai target serangan.
Pernyataan tersebut muncul ketika Iran berupaya menggambarkan kunjungan ketiga negara itu sebagai tanda keselarasan regional. Sementara itu, Amerika Serikat tengah mempersiapkan kemungkinan melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah pemilu sela pada 3 November.
Dalam wawancara yang sama, Rezaei mengatakan Iran telah membaca surat dari Wakil Presiden AS JD Vance, tetapi belum memberikan jawaban. Iran juga belum memutuskan untuk mengubah doktrin nuklirnya.









