Intelijen Zionis: Iran Masih Punya 1.700 Rudal Jarak Jauh yang Mampu Hujani Israel

Intelijen Zionis: Iran Masih Punya 1.700 Rudal Jarak Jauh yang Mampu Hujani Israel

Global | sindonews | Senin, 2 November 2026 - 08:13
share

Sebuah penilaian intelijen Zionis memperkirakan Iran masih memiliki sekitar 1.700 rudal balistik yang mampu menjangkau Israel. Beberapa lusin rudal tersebut telah diproduksi sejak putaran pertempuran terakhir.

Rudal-rudal jarak jauh tersebut hanyalah salah satu bagian dari persenjataan Teheran. Iran juga masih memiliki ribuan rudal jarak pendek dan kendaraan udara nirawak (drone).

Baca Juga: Pangeran Khalid bin Salman Bilang ke Iran: Israel Akan Kejar Turki, lalu Serang Arab Saudi!

Angka terbaru dari intelijen Zionis Israel tersebut, yang dikutip Israel National News, Senin (2/11/2026), lebih rendah dibandingkan perkiraan intelijen Barat sebelumnya.

Seperti dilaporkan pada Oktober, sejumlah penilaian yang diterbitkan Bloomberg menemukan bahwa Iran masih mempertahankan sekitar 70 persen dari persediaan rudal balistiknya, yakni sekitar 1.800 hingga 2.000 rudal yang mampu menjangkau Israel. Penilaian yang sama menemukan bahwa sekitar 60 persen peluncur rudal Iran dan 40 persen drone serangannya masih bertahan.

Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa Iran telah menyebarkan fasilitas lini produksi dan gudang penyimpanannya ke lokasi-lokasi jauh di bawah tanah. Fasilitas tersebut dibangun dengan menggali pegunungan granit yang sangat keras.

Temuan itu bertentangan dengan pernyataan resmi Amerika Serikat dan Israel yang sebelumnya mengeklaim bahwa infrastruktur produksi rudal dan drone Iran telah dihancurkan.Pada 19 Oktober, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigadir Jenderal Hossein Mohabbi mengunggah gambar peluncuran rudal balistik dengan keterangan berbahasa Inggris yang terjemahannya berbunyi: "Dunia akan melihat apa yang akan terjadi!"

Unggahan tersebut muncul setelah dia mengancam bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi Iran akan membuat wilayah Israel berubah menjadi tanah hangus untuk selamanya.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengatakan bahwa setiap ancaman AS dan Israel akan direspons dengan segera.

"Setiap tingkat atau jenis ancaman harus dihadapi dengan respons segera, berdampak besar, dan tanpa batasan geografis," kata Mojtaba kepada para komandan militer senior Iran dalam sebuah pernyataan yang disiarkan media pemeritah Iran.

Dia juga memerintahkan para komandan untuk memperbarui daftar target Iran. "Masukkan semua jenis aset berwujud dan tidak berwujud milik musuh Amerika-Zionis," lanjut Mojtaba.Ini merupakan pertemuan pertama antara Mojtaba Khamenei dan para petinggi militer Iran yang dilaporkan ke publik.

Dalam beberapa hari terakhir, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan melancarkan operasi militer baru terhadap Iran setelah pemilu sela AS yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (3/11/2026).

"Kita mungkin akan melakukan sedikit lagi Operasi Epic Fury," kata Trump, merujuk pada nama operasi militer AS dalam serangannya terhadap Iran.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa Washington telah meminta sejumlah negara Arab di kawasan Teluk untuk bersiap menghadapi kemungkinan kampanye militer singkat dan intensif terhadap Iran setelah pemilu sela AS.

Surat kabar tersebut, dengan mengutip sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan itu, mengatakan Trump belum mengambil keputusan final.Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Sabtu juga memperingatkan, "Kami bisa mencapai tujuan militer jika memang menginginkannya." Namun, dia menambahkan bahwa Trump belum mengambil keputusan mengenai kemungkinan serangan baru.

Rubio juga mengecam Teheran karena secara aktif dan terbuka menargetkan kapal-kapal komersial untuk diserang di Selat Hormuz.

Perang di Timur Tengah dimulai pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran. Serangan tersebut menewaskan Ayatollah Ali Khamenei bersama sejumlah komandan militer senior.

Sebagai balasan, Teheran menyerang pangkalan-pangkalan militer Amerika di Timur Tengah dan menutup Selat Hormuz, jalur energi paling vital di dunia. Langkah tersebut menyebabkan harga minyak melonjak di berbagai belahan dunia.

Pada 17 Juni, Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani kesepakatan 14 poin untuk mengakhiri perang.Kesepakatan tersebut mengatur penghentian segera seluruh operasi militer, termasuk di Lebanon, serta mewajibkan kedua negara mengupayakan kesepakatan final dalam waktu 60 hari.

Namun, pada 8 Juli, Trump menyatakan kesepakatan tersebut telah berakhir. Teheran juga menangguhkan nota kesepahaman itu sepekan kemudian dengan menuduh Washington melanggar seluruh komitmennya.

Sejak saat itu, Trump berulang kali menegaskan bahwa dirinya tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Iran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang partainya gagal memperoleh mayoritas dalam pemilu pada Selasa lalu, dalam beberapa hari terakhir juga berulang kali berjanji akan menggulingkan pemerintahan ulama di Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Israel melancarkan dua kampanye pengeboman besar terhadap Iran sejak tahun lalu.

Topik Menarik