Trump Ancam Serang Iran dalam 10 Menit, Sedangkan Mojtaba Perluas Target AS-Israel

Trump Ancam Serang Iran dalam 10 Menit, Sedangkan Mojtaba Perluas Target AS-Israel

Global | sindonews | Senin, 2 November 2026 - 07:45
share

Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat masih harus "membereskan" satu atau dua target di Iran. Pernyataan itu muncul ketika Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei memperingatkan AS dan Israel bahwa serangan baru akan direspons dengan serangan balasan yang meluas.

"Kami telah melumpuhkan kemampuan nuklir mereka. Kami masih harus membereskan, menurut saya, satu atau dua lokasi. Namun, kami bisa melakukannya dalam 10 menit," kata Trump kepada wartawan di kediamannya di Florida.

Baca Juga: Pangeran Khalid bin Salman Bilang ke Iran: Israel Akan Kejar Turki, lalu Serang Arab Saudi!

"Anda mungkin bisa melihat Pickaxe Mountain, dan itu harus dibereskan. Kami bisa melakukan semuanya dengan sangat cepat," ujarnya, merujuk pada sebuah situs yang terkait dengan program nuklir Iran.

Trump ditanya apakah AS akan melancarkan kemungkinan serangan terhadap Iran paling cepat pekan ini.

"Mengapa Anda mengajukan pertanyaan bodoh seperti itu? Katakanlah saya memang akan melakukannya, apakah saya akan memberi tahu Anda?" jawabnya.Meski demikian, Trump menyatakan, "Negosiasi dengan Iran berjalan baik, tetapi Anda tahu, mereka tidak terlalu bisa diandalkan."

Pernyataan Trump muncul ketika Ayatollah Mojtaba Khamenei—yang belum terlihat di hadapan publik sejak mengambil alih kepemimpinan Iran pada Maret menyusul tewasnya ayahnya; Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan AS-Israel—mengatakan bahwa setiap ancaman akan direspons dengan segera.

"Setiap tingkat atau jenis ancaman harus dihadapi dengan respons segera, berdampak besar, dan tanpa batasan geografis," kata Mojtaba kepada para komandan militer senior Iran dalam sebuah pernyataan.

Dia juga memerintahkan para komandan untuk memperbarui daftar target Iran. "Masukkan semua jenis aset berwujud dan tidak berwujud milik musuh Amerika-Zionis," lanjut Mojtaba.

Ini merupakan pertemuan pertama antara Mojtaba Khamenei dan para petinggi militer Iran yang dilaporkan ke publik.Dalam beberapa hari terakhir, Trump mengisyaratkan kemungkinan melancarkan operasi militer baru terhadap Iran setelah pemilu sela AS yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (3/11/2026).

"Kita mungkin akan melakukan sedikit lagi Operasi Epic Fury," kata Trump pekan lalu, merujuk pada nama operasi militer AS dalam serangannya terhadap Iran.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa Washington telah meminta sejumlah negara Arab di kawasan Teluk untuk bersiap menghadapi kemungkinan kampanye militer singkat dan intensif terhadap Iran setelah pemilu sela AS.

Surat kabar tersebut, dengan mengutip sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan itu, mengatakan Trump belum mengambil keputusan final.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Sabtu juga memperingatkan, "Kami bisa mencapai tujuan militer jika memang menginginkannya." Namun, dia menambahkan bahwa Trump belum mengambil keputusan mengenai kemungkinan serangan baru.Rubio juga mengecam Teheran karena secara aktif dan terbuka menargetkan kapal-kapal komersial untuk diserang di Selat Hormuz.

Perang di Timur Tengah dimulai pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran. Serangan tersebut menewaskan Ayatollah Ali Khamenei bersama sejumlah komandan militer senior.

Sebagai balasan, Teheran menyerang pangkalan-pangkalan militer Amerika di Timur Tengah dan menutup Selat Hormuz, jalur energi paling vital di dunia. Langkah tersebut menyebabkan harga minyak melonjak di berbagai belahan dunia.

Pada 17 Juni, Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani kesepakatan 14 poin untuk mengakhiri perang.

Kesepakatan tersebut mengatur penghentian segera seluruh operasi militer, termasuk di Lebanon, serta mewajibkan kedua negara mengupayakan kesepakatan final dalam waktu 60 hari.Namun, pada 8 Juli, Trump menyatakan kesepakatan tersebut telah berakhir. Teheran juga menangguhkan nota kesepahaman itu sepekan kemudian dengan menuduh Washington melanggar seluruh komitmennya.

Sejak saat itu, Trump berulang kali menegaskan bahwa dirinya tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Iran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang partainya gagal memperoleh mayoritas dalam pemilu pada Selasa lalu, dalam beberapa hari terakhir juga berulang kali berjanji akan menggulingkan pemerintahan ulama di Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Israel melancarkan dua kampanye pengeboman besar terhadap Iran sejak tahun lalu.

Topik Menarik