Momok 10 November, Peluang China Lumpuhkan Angkatan Laut AS Tanpa Satu Pun Tembakan

Momok 10 November, Peluang China Lumpuhkan Angkatan Laut AS Tanpa Satu Pun Tembakan

Global | sindonews | Senin, 2 November 2026 - 11:28
share

Amerika Serikat (AS) menghadapi tantangan strategis yang tidak hanya datang dari kekuatan militer China di laut, tetapi juga dari ketergantungan industri pertahanannya terhadap pasokan bahan baku yang dikuasai Beijing.

Salah satu titik paling rentan adalah kebutuhan mineral tanah jarang (rare earth) untuk memproduksi kapal selam, termasuk armada kapal selam serang bertenaga nuklir kelas Virginia milik Angkatan Laut AS.

Baca Juga: Xi Jinping Angkat Jenderal Algojo Kepercayaannya ke Pucuk Kekuasaan Militer China, Ini Sosoknya

Situasi ini menjadi semakin penting menjelang 10 November 2026. Pada tanggal tersebut, masa penangguhan sejumlah pembatasan ekspor mineral tanah jarang yang diberlakukan China dijadwalkan berakhir. Jika Beijing tidak memperpanjang penangguhan itu, sejumlah pembatasan yang diumumkan pada Oktober 2025 berpotensi kembali berlaku.

Bagi Washington, persoalan ini bukan semata-mata tentang perdagangan mineral tanah jarang. Ketersediaan bahan baku tersebut berkaitan langsung dengan kemampuan Amerika memproduksi dan memelihara sistem persenjataan canggih, termasuk kapal selam yang menjadi salah satu pilar kekuatan Angkatan Laut-nya. Dengan berhenti memasok mineral tanah jarang, China bisa melumpuhkan Angkatan Laut AS tanpa perang dan tanpa satu pun tembakan.

Mineral Tanah Jarang Jadi "Senjata Ampuh" China

Persaingan Amerika Serikat dan China di kawasan Indo-Pasifik selama ini banyak disorot melalui kekuatan kapal perang, rudal, pesawat tempur, dan kemampuan militer kedua negara. Namun, persaingan tersebut juga berlangsung di sektor industri dan rantai pasok.

China memiliki posisi dominan dalam pemrosesan sejumlah mineral penting, termasuk unsur tanah jarang yang digunakan untuk membuat magnet berkinerja tinggi. Bahan tersebut dibutuhkan dalam berbagai peralatan militer, mulai dari motor listrik, aktuator, sensor, hingga sistem elektronik.

Kapal selam Amerika bergantung pada magnet tanah jarang, terutama jenis neodymium-iron-boron dan samarium-cobalt. Magnet tersebut digunakan dalam berbagai komponen yang membutuhkan daya magnet kuat, ketahanan terhadap suhu tinggi, serta kinerja yang stabil.

Keunggulan China bukan hanya terletak pada kepemilikan sumber daya mineral, tetapi juga penguasaan teknologi pemisahan, pemurnian, dan pengolahan bahan tersebut. Kondisi ini membuat negara-negara lain sulit membangun rantai pasok alternatif dalam waktu singkat.

Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing secara bertahap memperluas kebijakan pengendalian ekspor mineral strategis. Pada Agustus 2023, China menerapkan persyaratan perizinan ekspor untuk galium dan germanium. Kedua mineral tersebut digunakan dalam industri semikonduktor, perangkat elektronik canggih, dan sejumlah peralatan pertahanan.

Pada Desember 2023, Beijing juga melarang ekspor teknologi tertentu yang digunakan untuk mengekstraksi, memisahkan, dan mengolah mineral tanah jarang.

Kebijakan tersebut kemudian diperluas. Pada Desember 2024, China melarang ekspor galium, germanium, antimon, dan sejumlah material superkeras ke Amerika Serikat. Pada April 2025, Beijing memberlakukan persyaratan lisensi ekspor untuk tujuh unsur tanah jarang menengah dan berat, yakni samarium, gadolinium, terbium, disprosium, lutetium, skandium, dan yttrium, beserta produk magnet terkait.Pada Oktober 2025, China mengumumkan paket pembatasan yang lebih luas, mencakup tambahan unsur tanah jarang dan material terkait baterai. Salah satu ketentuan yang menjadi perhatian adalah kemungkinan penerapan aturan terhadap produk yang dibuat di luar China, tetapi menggunakan material tanah jarang asal China.

Kebijakan tersebut memperlihatkan bagaimana penguasaan rantai pasok mineral dapat menjadi instrumen tekanan ekonomi dan geopolitik.

Momok 10 November dan 27 November

Ketegangan perdagangan Amerika Serikat dan China sempat mereda setelah Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping bertemu di Busan, Korea Selatan, pada 30 Oktober 2025.

Dalam kesepakatan tersebut, China setuju menangguhkan sejumlah pembatasan ekspor mineral tanah jarang yang diumumkan pada 9 Oktober 2025. Penangguhan itu kemudian diberlakukan selama satu tahun, hingga 10 November 2026.

Namun, kesepakatan tersebut tidak berarti China menghapus seluruh sistem pengendalian ekspornya. Beijing hanya menangguhkan sejumlah ketentuan yang diperluas pada Oktober 2025. Persyaratan lisensi ekspor untuk tujuh unsur tanah jarang yang diberlakukan pada April 2025 tetap menjadi bagian dari kebijakan pengendalian ekspor China.

Ada pula tenggat berbeda pada 27 November 2026. Tanggal tersebut berkaitan dengan penangguhan larangan ekspor sejumlah material, termasuk galium dan germanium, yang secara khusus ditujukan ke Amerika Serikat.

Dengan demikian, Washington menghadapi dua tenggat yang berbeda. Pertama, 10 November 2026 untuk penangguhan sejumlah pembatasan tanah jarang yang diumumkan China pada Oktober 2025. Kedua, 27 November 2026 untuk penangguhan pembatasan ekspor tertentu yang menyasar Amerika Serikat.

Perbedaan antara penangguhan dan pencabutan menjadi sangat penting. Penangguhan hanya membuat suatu kebijakan tidak diberlakukan untuk jangka waktu tertentu. Kebijakan tersebut masih dapat kembali berlaku ketika masa penangguhannya berakhir, kecuali kedua negara menyepakati perpanjangan atau pengaturan baru.

Karena itu, Amerika Serikat belum sepenuhnya terbebas dari risiko gangguan pasokan mineral strategis. Washington masih harus menghadapi ketidakpastian mengenai langkah yang akan diambil Beijing setelah tenggat tersebut.

Ketergantungan industri pertahanan Amerika terhadap mineral tanah jarang terlihat dari kebutuhan material untuk membangun kapal selam dan pesawat tempur.Data yang dikutip dari Congressional Research Service (CRS) menyebutkan satu kapal selam serang bertenaga nuklir kelas Virginia membutuhkan sekitar 9.200 pon material tanah jarang. Setelah dikonversi, jumlah tersebut setara dengan sekitar 4.173 kilogram atau 4,17 ton.

Sementara itu, satu jet tempur siluman F-35 membutuhkan sekitar 920 pon atau 417 kilogram material tanah jarang. Dengan demikian, kebutuhan material tanah jarang satu kapal selam kelas Virginia diperkirakan sekitar sepuluh kali lebih besar dibandingkan satu unit F-35.

Angka tersebut merupakan perkiraan kebutuhan material tanah jarang, bukan berarti seluruhnya digunakan dalam satu jenis komponen atau hanya berupa magnet permanen.

Material tanah jarang memiliki beberapa fungsi penting dalam sistem kapal selam. Salah satunya adalah mendukung penggunaan magnet berkinerja tinggi pada motor listrik dan sistem penggerak. Magnet neodymium-iron-boron, misalnya, dikenal memiliki kekuatan magnet yang tinggi, sedangkan samarium-cobalt memiliki ketahanan yang baik terhadap suhu tinggi.

Bahan-bahan tersebut juga digunakan dalam berbagai perangkat sensor dan sistem elektronik. Kinerja komponen-komponen itu penting bagi kapal selam yang dirancang untuk beroperasi secara senyap dan mempertahankan kemampuan deteksi di bawah laut.

Ketergantungan terhadap pasokan bahan baku tersebut membuat industri kapal selam Amerika berpotensi menghadapi masalah apabila ekspor dari China kembali diperketat. Gangguan pasokan dapat menambah tekanan terhadap proses produksi yang sudah menghadapi berbagai kendala.

Persoalan pasokan mineral muncul ketika industri kapal selam Amerika Serikat masih berjuang meningkatkan kapasitas produksinya.

Angkatan Laut AS mengoperasikan kapal selam kelas Virginia sebagai salah satu tulang punggung armada kapal selam serang bertenaga nuklir. Kapal selam tersebut dirancang untuk menjalankan berbagai misi, termasuk peperangan antikapal selam, pengumpulan intelijen, dan serangan terhadap sasaran di darat.

Namun, kemampuan Washington menambah jumlah kapal selam tidak hanya ditentukan oleh anggaran pertahanan. Kapasitas galangan kapal, ketersediaan tenaga kerja terampil, komponen, dan bahan baku juga menjadi faktor penentu.

Laporan CRS pada Januari 2026 menyebutkan produksi kapal selam kelas Virginia sejak 2022 berada pada kisaran 1,1 hingga 1,2 unit per tahun. Angka tersebut masih berada di bawah target produksi dua kapal selam per tahun yang selama ini ingin dicapai Angkatan Laut AS.CRS juga mencatat adanya penumpukan kapal selam yang telah dipesan tetapi belum selesai dibangun. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa industri kapal selam Amerika masih menghadapi persoalan kapasitas produksi.

Dalam situasi seperti ini, gangguan pasokan mineral strategis berpotensi menambah beban industri pertahanan Amerika. Ketika bahan baku penting sulit diperoleh, proses pembuatan komponen dan penyelesaian kapal selam dapat menghadapi hambatan tambahan.

Persoalan tersebut juga berkaitan dengan program kapal selam kelas Columbia yang dirancang untuk menggantikan kapal selam rudal balistik kelas Ohio. Program ini merupakan bagian penting dari kemampuan pencegahan nuklir Amerika Serikat.

Berapa Jumlah Kapal Selam Nuklir China?

Di sisi lain, China terus memperkuat kekuatan angkatan lautnya. Beijing memiliki armada kapal selam konvensional dan kapal selam bertenaga nuklir yang menjadi bagian dari strategi militernya di kawasan Indo-Pasifik.

Namun, jumlah kapal selam nuklir China perlu dibedakan dari total seluruh kapal selam yang dimiliki negara tersebut. Kapal selam konvensional bertenaga diesel-listrik tidak dapat dihitung sebagai kapal selam nuklir.

Angka dalam sejumlah laporan juga berbeda karena menggunakan tahun data dan kategori kapal selam yang tidak selalu sama.

CNN, dengan mengutip data The Military Balance 2025 dari International Institute for Strategic Studies (IISS), menyebut China memiliki 12 kapal selam bertenaga nuklir yang aktif pada awal 2025. Jumlah tersebut terdiri atas enam kapal selam rudal balistik bertenaga nuklir atau SSBN dan enam kapal selam rudal berpemandu atau kapal selam serang bertenaga nuklir.

Sementara itu, estimasi berbeda disampaikan pakar militer China Rick Joe kepada Defense News pada Februari 2026. Berdasarkan perkiraan tersebut, China diperkirakan mengoperasikan sekitar sembilan hingga 11 kapal selam serang bertenaga nuklir atau SSN, serta enam kapal selam rudal balistik bertenaga nuklir atau SSBN.

Dengan estimasi itu, jumlah kapal selam nuklir aktif China berada di kisaran 15 hingga 17 unit. Sejumlah kapal selam lainnya yang masih dalam tahap penyelesaian atau uji laut tidak termasuk dalam hitungan armada aktif tersebut.

Perbedaan angka ini menunjukkan bahwa jumlah pasti kapal selam nuklir China tidak dapat dipastikan hanya dengan menggabungkan berbagai estimasi. Pemerintah China tidak secara terbuka mengumumkan seluruh rincian kekuatan armada kapal selamnya.Meski demikian, pengembangan armada kapal selam China tetap menjadi perhatian Amerika Serikat. Beijing tidak hanya meningkatkan kemampuan kapal selamnya, tetapi juga memperkuat basis industri pertahanan yang mendukung pembangunan kapal perang dan sistem persenjataan.

Menghadapi dominasi China dalam rantai pasok mineral strategis, Amerika Serikat berupaya membangun sumber pasokan alternatif.

Departemen Perang AS mendukung sejumlah proyek pengolahan tanah jarang di dalam negeri, termasuk pengembangan fasilitas yang berkaitan dengan Mountain Pass di California dan proyek di Texas.

Washington juga menjalin kerja sama dengan perusahaan Australia, Lynas Rare Earths. Kesepakatan senilai 96 juta dolar AS untuk jangka waktu empat tahun itu ditujukan untuk memasok oksida tanah jarang ringan dan berat.

Selain itu, Amerika Serikat bekerja sama dengan Jepang dan Jerman untuk membangun rantai pasok magnet tanah jarang di luar China. Sejumlah perusahaan, termasuk USA Rare Earth, E-VAC, dan Noveon Magnetics, terlibat dalam upaya mengembangkan kapasitas produksi magnet di Amerika.

Jepang dan Jerman juga memiliki perusahaan yang mengembangkan teknologi magnet, termasuk Proterial dan Vacuumschmelze.

Namun, membangun rantai pasok alternatif tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Perusahaan-perusahaan di luar China masih menghadapi tantangan dalam memperoleh bahan baku, teknologi pemrosesan, investasi, serta kapasitas produksi dalam skala besar.

Ketergantungan terhadap China juga tidak hanya berkaitan dengan tambang atau cadangan mineral. Penguasaan teknologi pemisahan dan pemurnian menjadi hambatan tersendiri bagi negara-negara yang ingin membangun industri pengolahan tanah jarang secara mandiri.

Bagi Amerika Serikat, persoalan tersebut menjadikan mineral tanah jarang sebagai bagian dari strategi keamanan nasional. Ketika pasokan bahan baku untuk industri pertahanan masih bergantung pada negara pesaing, kemampuan membangun kapal selam dan sistem persenjataan canggih dapat ikut terpengaruh oleh kebijakan perdagangan negara tersebut.

Mengutip laporan EurAsian Times, Senin (2/11/2026), China tidak harus mengalahkan kapal selam Amerika dalam pertempuran laut untuk memberikan tekanan strategis kepada Washington. Penguasaan atas rantai pasok bahan baku penting saja dapat menjadi sumber pengaruh yang signifikan, terutama ketika industri pertahanan Amerika masih berupaya mengatasi keterbatasan kapasitas produksinya.

Topik Menarik