Pertama Kali Dibuka, Rekaman Video Tunjukkan Kehadiran Pasukan Darat AS di Iran

Pertama Kali Dibuka, Rekaman Video Tunjukkan Kehadiran Pasukan Darat AS di Iran

Global | sindonews | Senin, 14 September 2026 - 09:42
share

Rekaman video yang baru dibuka untuk publik memperlihatkan pasukan Amerika Serikat (AS) beroperasi jauh di dalam wilayah Iran. Pasukan darat Amerika itu menjalankan misi bulan April untuk menyelamatkan dua penerbang Amerika yang jet tempur F-15E Strike Eagle-nya ditembak jatuh di dekat Isfahan.

Rekaman video itu ditayangkan di program "60 Minutes" CBS pada hari Minggu. Rekaman tersebut berasal dari Departemen Pertahanan atau Departemen Perang AS.

Baca Juga: Iran Tembak Jatuh Jet Tempur F-15E Strike Eagle AS, Ini Respons Trump

Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper kepada program 60 Minutes menjelaskan bahwa lebih dari 90 personel militer AS dikerahkan di lapangan, sementara ratusan personel lainnya berada di udara dan ribuan lainnya mendukung operasi tersebut.

Dia menyebutnya sebagai kehadiran pasukan darat AS pertama yang diakui secara resmi di Iran dalam kurun waktu 46 tahun.

Sekadar diketahui, jet tempur F-15E Strike Eagle dengan dua kursi—yang nilainya ditaksir sekitar USD30 juta—ditembak jatuh pada 3 April oleh rudal panggul Iran seharga sekitar USD100.000 saat sedang melancarkan serangan terhadap fasilitas yang terkait dengan program rudal dan drone Teheran di selatan Isfahan. Dua awak pesawat, yang hanya diidentifikasi melalui kode panggilan misi "Alpha" dan "Bravo", melontarkan diri dan mendarat dengan jarak sekitar lima mil satu sama lain.

"Alpha", sang pilot, berhasil diselamatkan beberapa jam kemudian setelah AS mengerahkan 21 pesawat ke wilayah Iran. Helikopter Amerika sempat mendapat serangan saat proses evakuasi berlangsung, dan satu helikopter terkena tembakan senjata ringan yang melukai awaknya.

Sebuah pesawat A-10 yang terlibat dalam pencarian juga terkena tembakan pasukan Iran, memaksa pilotnya untuk melontarkan diri setelah keluar dari wilayah udara Iran.

"Bravo", petugas sistem persenjataan, tetap berada di Iran selama sekitar dua hari setelah mengalami patah tulang punggung, lengan, dan bahu saat melontarkan diri. Pasukan Iran sedang mencarinya sementara Washington meluncurkan upaya evakuasi kedua yang jauh lebih besar.

Rekaman inframerah yang baru dirilis Departemen Perang AS memperlihatkan pesawat Amerika menyerang pasukan IRGC di dekat posisi "Bravo" sebelum dua pesawat angkut besar untuk operasi khusus mendarat di landasan darurat di dalam wilayah Iran. Helikopter MH-6 "Little Bird" kemudian dikerahkan untuk menjemputnya dari medan pegunungan. Rekaman lain yang status kerahasiaannya telah dicabut memperlihatkan dua personel pararescue Angkatan Udara AS di darat—di dalam wilayah Iran—mendekati "Bravo" yang terluka, lalu membawanya ke helikopter Amerika.

Operasi tersebut melibatkan daya tembak yang luar biasa besar. Menurut laporan CBS, pasukan AS menembakkan atau menjatuhkan 339 amunisi di dalam wilayah Iran—123 amunisi saat upaya penyelamatan "Alpha" dan 216 lainnya selama misi evakuasi "Bravo".

Pentagon pada akhirnya mengerahkan lebih dari 150 pesawat khusus untuk operasi penyelamatan kedua saja, termasuk 64 pesawat tempur, empat pesawat pengebom, 48 pesawat tanker pengisi bahan bakar, 13 pesawat penyelamat, serta 26 pesawat intelijen dan peperangan elektronik.

Proses evakuasi kemudian menghadapi kendala lebih lanjut ketika dua pesawat angkut MC-130J Commando II dilaporkan terjebak di tanah lunak dan tidak dapat lepas landas.

CBS melaporkan bahwa pasukan AS sendiri menghancurkan kedua pesawat tersebut—yang masing-masing bernilai sekitar USD100 juta—beserta helikopter Little Bird, guna mencegah pesawat-pesawat itu jatuh ke tangan Iran. Tiga pesawat tambahan harus dikirim ke Iran untuk mengevakuasi pasukan yang terjebak tersebut.

Materi yang baru saja dibuka untuk publik ini memberikan laporan resmi paling jelas mengenai skala penyusupan Washington pada bulan April itu; sebuah operasi yang kerap dibandingkan dengan kegagalan Operation Eagle Claw tahun 1980, saat upaya AS menyelamatkan para sandera Kedutaan Besar AS di Iran berakhir tragis akibat kerusakan teknis dan tabrakan pesawat yang menewaskan delapan personel militer AS.

Topik Menarik