Kim Jong-un Ingin Rakyat Korut Lebih Banyak Bersenang-senang, Ada Siasat Besar di Baliknya
Kedai kopi, taman air, hingga pusat perbelanjaan. Korea Utara (Korut)—negara yang selama ini jarang diasosiasikan dengan hiburan dan kesenangan—kini mengalami perkembangan tak biasa: semakin banyak tempat bagi warganya untuk bersenang-senang.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, yang juga dikenal menikmati kemewahan, sedang mengembangkan berbagai cara agar warganya membelanjakan kekayaan mereka.
Baca Juga: Perbanyak Senjata Nuklir Korut, Kim Jong-un Membangun Fasilitas Uranium Baru
Data bea cukai China menunjukkan fenomena tersebut. Impor peralatan pijat Korea Utara melonjak hingga 40 kali lipat dalam satu dekade terakhir. Pengiriman treadmill meningkat lebih dari 600 persen. Piano dan bahkan mobil bemper juga mulai membanjiri negara tersebut.
Dorongan konsumsi ini meluas ke pusat perbelanjaan mewah, resor pantai, dan destinasi ski yang bermunculan di berbagai wilayah Korea Utara, menurut statistik perdagangan, laporan media pemerintah, serta wawancara dengan lima pengunjung terbaru dan dua pembelot Korea Utara.Kapal Induk Nuklir George Washington AS Sudah Tiba di Timur Tengah untuk Perang Melawan Iran
Namun, menurut para analis yang dikutip Reuters, Minggu (13/9/2026), kebijakan tersebut bukan semata-mata bertujuan memberikan akses lebih luas kepada masyarakat terhadap kemewahan.
Dengan mengarahkan belanja masyarakat melalui jaringan hiburan dan ritel yang dikendalikan negara, Kim memperkuat kontrol pemerintah atas perdagangan, menekan pasar informal, sekaligus membuka sumber pendapatan dan pertumbuhan ekonomi baru bagi negara bersenjata nuklir tersebut.
Ubah Korut Jadi Negara Konsumtif
Strategi tersebut membuat aktivitas produksi, distribusi, dan aliran modal yang sebelumnya terkonsentrasi di pasar informal perlahan ditarik ke dalam ruang ekonomi resmi yang dikelola negara. Demikian dikatakan Kang Seong-hyeon, peneliti di Hyundai Research Institute, lembaga think tank yang berbasis di Seoul.Saluran konsumsi terus berkembang meskipun Korea Utara menghadapi sanksi berat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk pembatasan terhadap barang mewah, energi, dan perdagangan mineral yang dirancang untuk menghambat program senjata Kim.
Bank sentral Korea Selatan mengatakan ekonomi Korea Utara tumbuh 3,5 persen pada 2025, mencatat pertumbuhan di atas 3 persen selama tiga tahun berturut-turut.
Perubahan tersebut bahkan mulai menarik perhatian orang luar.
Setelah mengunjungi Pyongyang pada Mei lalu, Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menyebut perkembangan ibu kota Korea Utara tersebut “luar biasa” dan mengatakan Pyongyang kini menyerupai “kota modern mana pun” di Asia Timur.Video media sosial yang telah diverifikasi para jurnalis memperlihatkan warga menikmati cappuccino dan berbelanja peralatan rumah tangga di Rangnang Aeguk Kumgang Service Complex, pusat perbelanjaan mewah di Pyongyang yang dibuka tahun lalu.
Warga juga dapat menikmati minuman di Hwasong Taedonggang Beer Restaurant, tempat minum yang telah beroperasi selama dua tahun dan mendapat sorotan media pemerintah.
Pada April, Kim juga mengunjungi toko hewan peliharaan baru bersama putrinya, Kim Ju-ae. Sang putri terlihat tertarik pada anak-anak kucing dan anjing.
Nasib Pria Kosovo: Jadi Mata-mata CIA hingga Menyusup ke al-Qaeda, tapi Kini Bakal Diusir AS
Dari Peretasan Kripto hingga Perang Rusia-Ukraina
Menurut para peneliti Korea Selatan, ledakan sektor hiburan di Pyongyang antara lain ditopang oleh sejumlah sumber pendapatan, termasuk pencurian mata uang kripto, pengerahan pasukan Korea Utara untuk membantu Rusia dalam perang di Ukraina, serta ekspor batu bara dan mineral lainnya.Pejabat dan pakar keamanan siber dari Amerika Serikat dan sejumlah negara lain berulang kali mengaitkan pencurian aset kripto dengan kelompok peretas yang disponsori negara Korea Utara.
Institute for National Security Strategy, lembaga think tank Korea Selatan yang didanai pemerintah, memperkirakan Korea Utara memperoleh hingga USD14,4 miliar dari keterlibatannya dalam perang Rusia-Ukraina antara Agustus 2023 hingga Desember 2025.
Arus uang tersebut kemudian mengalir ke berbagai sektor ekonomi Korea Utara. Sebagian masyarakat juga memperoleh keuntungan dari perdagangan informal.
Namun, akumulasi kekayaan menciptakan persoalan baru.
“Ada kelas menengah sekitar 8 juta orang yang memiliki tabungan tetapi tidak memiliki tempat untuk membelanjakannya,” kata Ruediger Frank, profesor ekonomi dan masyarakat Asia Timur di University of Vienna.
Menurut Frank, konsumsi merupakan jawaban Kim terhadap persoalan tersebut.
Kebijakan itu dapat mengurangi frustrasi masyarakat, mengalihkan uang agar tidak digunakan untuk menaikkan harga kebutuhan pokok seperti beras, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui permintaan domestik.
Pyongyang Membangun Industri Hiburan
Dengan kondisi ekonominya yang membaik, Pyongyang semakin tidak membutuhkan pelonggaran sanksi dan memiliki lebih sedikit insentif untuk kembali melakukan perundingan nuklir dengan Washington, kata para analis.Hal tersebut terjadi meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka menyatakan keinginannya untuk kembali bertemu dengan Kim Jong-un.
Kedutaan Besar Korea Utara di Beijing tidak menanggapi pertanyaan mengenai kebijakan peningkatan konsumsi domestik tersebut. Kementerian Luar Negeri Rusia dan Gedung Putih juga tidak memberikan komentar.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China mengatakan Beijing tetap mempertahankan perdagangan dan kerja sama dengan Korea Utara sambil menerapkan resolusi Dewan Keamanan PBB.
China menambahkan bahwa sanksi tidak seharusnya berdampak terhadap kehidupan masyarakat Korea Utara.
Taman Hiburan dan Resor Bermunculan
Pemberitaan media pemerintah Korea Utara mengenai pariwisata, hiburan, dan kehidupan budaya meningkat sejak 2022 seiring pembukaan atau renovasi berbagai tempat rekreasi. Tinjauan terhadap lebih dari 1.200 artikel menunjukkan perkembangan tersebut.Di antaranya adalah resor pantai Wonsan Kalma, yang mulai beroperasi pada musim panas 2025.
Lima hotel mewah juga dibuka pada Desember di Samjiyon, dekat perbatasan China. Sebuah resor ski sedang dibangun di kawasan tersebut. Di wilayah timur laut, pemerintah juga membangun taman air dan klub berkuda yang hingga kini belum selesai.
Liputan televisi pemerintah mengenai gelombang panas pada Agustus memperlihatkan resor pantai Wonsan dipadati wisatawan domestik.
“Seorang kontak lokal bahkan mengatakan kepada saya bahwa ketika membawa keluarganya ke sana, beberapa anggota keluarga harus berbagi kamar twin karena kamar lainnya sudah dipesan,” kata Rowan Beard, salah satu pendiri operator tur Young Pioneer Tours.
Kedutaan Besar China di Pyongyang menyebut lebih dari 300.000 warga Korea Utara mengunjungi Wonsan Kalma pada paruh kedua 2025. Angka tersebut disebut dalam unggahan Februari mengenai kunjungan duta besar China.Di kota Rason, wilayah timur laut Korea Utara, juga bermunculan sauna, kolam renang, arena permainan, dan pusat olahraga, kata seorang pengusaha China yang hanya menyebut nama keluarganya, Cui.
Sebagai bagian dari program pembangunan regional, Kim juga membangun kompleks hiburan yang dilengkapi perpustakaan, restoran, dan bioskop di berbagai wilayah negara tersebut.
Menurut media pemerintah, setidaknya dua lusin kompleks telah selesai atau sedang dibangun. Namun, fasilitas paling mewah berada di Pyongyang.
Media pemerintah menggambarkan sebuah kawasan permukiman baru yang dilengkapi arena permainan, dealer mobil, serta restoran barbeku yang menyajikan perut salmon dan burger foie gras.
Kemewahan ala Kim Jong-un
Pilihan barang yang tersedia bagi warga Korea Utara juga semakin beragam, menurut tiga pengunjung yang baru-baru ini datang ke negara tersebut.Di Ryugyong Golden Plaza, pusat perbelanjaan yang dibuka pada 2023, sejumlah toko memajang logo pembuat jam seperti Rolex, Omega, dan Herbelin.
Sebuah toko elektronik juga menampilkan merek Huawei, menurut rekaman media sosial yang telah diverifikasi.
Rolex dan Huawei menolak memberikan komentar. Omega dan Herbelin mengatakan mereka tidak memiliki pengecer atau distributor resmi di Korea Utara.
Warga Korea Utara juga mulai berbelanja secara daring menggunakan aplikasi telepon seluler yang menyerupai Alipay milik China, berdasarkan foto yang diterbitkan Beard dan NKTechLab, proyek analisis dari lembaga think tank Stimson Center yang berbasis di AS.
Beard, yang mengunjungi Pyongyang pada Mei, mengatakan pembayaran melalui aplikasi seluler digunakan “di mana-mana” dan untuk “apa pun yang tersedia untuk dijual”.
Data perdagangan menunjukkan bahwa dorongan konsumsi tersebut mencakup barang-barang pribadi sekaligus pembangunan infrastruktur yang dipimpin negara.Data bea cukai China menunjukkan peningkatan tajam pengiriman piano, jam tangan, dan peralatan hiburan, termasuk komidi putar, roller coaster, dan seluncuran air.
Antara Januari 2025 hingga Juli tahun ini, Korea Utara mengimpor lebih dari 3 ton mobil bemper dari China dengan nilai lebih dari USD20.000.
Perdagangan dengan China secara umum kembali meningkat setelah pandemi Covid-19. Bahkan budaya kepemilikan mobil mulai berkembang di Pyongyang, didorong oleh masuknya kendaraan dari China.
Mengambil Alih Pasar Informal
Setelah tragedi kelaparan pada 1990-an, pasar semi-legal berkembang pesat karena negara tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.Upaya pemerintah menutup pasar tersebut pada awal abad ini gagal karena negara tidak memiliki infrastruktur distribusi yang cukup untuk menggantikannya, menurut Jung Chang-Hyun, Direktur Peace Economy Research Institute di Seoul.
Kini, menurut Jung, strategi konsumsi Kim Jong-un memiliki tujuan lain: membangun infrastruktur perdagangan yang dikendalikan negara agar mampu bersaing dengan pasar swasta dan pada akhirnya melemahkannya.
Aplikasi pembayaran dan pengiriman barang juga memungkinkan pemerintah memantau pengeluaran pribadi masyarakat, kata para analis.
Pada 2023, Pyongyang mengesahkan undang-undang yang mewajibkan setiap bank dan toko menerima pembayaran elektronik. Namun, tidak semua orang menikmati ledakan konsumsi tersebut.
Yang Il-cheol, yang pernah bekerja sebagai sopir di Pyongyang sebelum membelot ke Korea Selatan tahun lalu, mengatakan orang-orang seperti dirinya memiliki sedikit akses terhadap restoran dan fasilitas hiburan baru.
Menurut Yang, meskipun telepon seluler kini telah menjadi hal umum di ibu kota, banyak warga Korea Utara masih tidak mempercayai pemerintah dan lebih memilih pembayaran tunai.
Menurut Frank, kampanye Kim untuk meningkatkan konsumsi domestik tampaknya berhasil—setidaknya untuk saat ini. “Konsumsi hanya membeli waktu. Konsumsi tidak bisa membeli kesetiaan selamanya,” ujarnya.








