Begini Cara Pasukan Khusus Israel Culik Bos Keamanan Hamas di Kota Gaza

Begini Cara Pasukan Khusus Israel Culik Bos Keamanan Hamas di Kota Gaza

Global | sindonews | Jum'at, 4 September 2026 - 13:52
share

Pasukan khusus Israel telah menculik seorang pejabat senior keamanan Hamas dari rumahnya di wilayah barat Kota Gaza pada Selasa lalu. Operasi yang diwarnai baku tembak itu menewaskan istri bos keamanan Hamas dan juga melukai putranya.

Moen al-Arabid, kepala keamanan internal Hamas di Jalur Gaza, diculik setelah unit pasukan khusus Israel memasuki kawasan dekat Katiba di barat Kota Gaza. Demikian disampaikan sumber Hamas yang berbicara kepada The New Arab (TNA) dengan syarat anonim, Jumat (4/9/2026).

Baca Juga: Netanyahu: Saya Yakin Israel Bisa Gulingkan Rezim Iran!

Sumber tersebut mengatakan pasukan Israel yang mengenakan pakaian sipil dan menggunakan dua kendaraan, termasuk sebuah bus putih, memasuki kawasan padat penduduk sebelum keberadaan mereka diketahui dan terlibat baku tembak dengan para milisi Palestina.

Drone-drone Israel kemudian melancarkan beberapa serangan di sekitar kawasan tersebut. Menurut sumber itu, serangan udara digunakan untuk memberikan perlindungan bagi pasukan Israel selama operasi berlangsung.

Menurut sumber tersebut, al-Arabid dan istrinya, Samah al-Khalidi-al-Arabid, menghadapi pasukan Israel di dalam rumah mereka.

Samah tewas dalam konfrontasi tersebut, sementara putra mereka, Obaida, terluka. Sumber itu mengatakan Obaida dijadwalkan merayakan pertunangannya pada Rabu.

Pasukan Israel kemudian menangkap al-Arabid dan membawanya keluar dari kawasan tersebut dalam kondisi terluka.

Sumber Hamas itu menggambarkan operasi Israel tersebut sebagai penculikan, bukan upaya untuk membunuh al-Arabid, dengan mengatakan bahwa pasukan Israel memasuki kawasan tersebut secara khusus untuk menangkapnya hidup-hidup.

Sebuah video memperlihatkan al-Arabid merangkak di tanah ketika berusaha mencari perlindungan. Sebuah bus Israel kemudian mendekat dan beberapa proyektil dilemparkan ke arahnya.Sumber Hamas mengatakan proyektil tersebut merupakan granat kejut, bukan granat ofensif. Senjata itu disebut digunakan untuk mengalihkan perhatian pria yang terluka itu dan mencegahnya mencari perlindungan, sehingga memudahkan penangkapannya.

Media Israel kemudian menerbitkan sebuah foto yang diklaim memperlihatkan al-Arabid setelah ditangkap. Foto tersebut menunjukkan seorang pria yang tangannya diborgol dan tampak mengalami luka.

Sementara itu, sumber-sumber Palestina juga mengatakan sebuah kendaraan yang berusaha meninggalkan kawasan tersebut menuju Kota Gaza bagian timur diserang sekitar 200 meter dari lokasi operasi, sehingga menimbulkan korban tambahan, termasuk anak-anak.

Video dan foto yang beredar di media sosial memperlihatkan kerusakan di sekitar rumah al-Arabid, termasuk sebuah bus putih dengan kaca rusak dan apa yang tampak seperti bekas peluru.

Israel Konfirmasi Penangkapan al-Arabid

Pejabat Israel mengonfirmasi bahwa al-Arabid telah ditangkap dalam sebuah operasi di Kota Gaza.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan dalam pernyataan yang disiarkan televisi bahwa pasukan Israel terus menjalankan operasi di Kota Gaza dan baru-baru ini menangkap seorang pejabat senior Hamas.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengeklaim bahwa al-Arabid merupakan salah satu “pemimpin Hamas paling menonjol di Gaza.”

Netanyahu menuduh al-Arabid membantu menyembunyikan dan memindahkan sandera Israel, berupaya membangun kembali kemampuan Hamas, terlibat dalam upaya memulihkan pemerintahan Hamas atas Jalur Gaza, serta menyebarkan apa yang disebut Israel sebagai informasi yang salah terkait perlucutan senjata di Gaza.

“Perintah saya jelas,” kata Netanyahu, seraya mengatakan Israel akan terus memburu para pemimpin Hamas dan mereka yang terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023.Channel 12 Israel melaporkan bahwa al-Arabid terluka selama operasi dan dibawa ke Israel untuk mendapatkan perawatan medis.

Korporasi Penyiaran Israel, Kan, juga mengutip seorang pejabat keamanan Zionis yang mengatakan, “Target tersebut terluka selama operasi di Jalur Gaza dan dipindahkan ke Israel untuk mendapatkan perawatan medis.”

Menurut Channel 11 Israel, operasi tersebut direncanakan dan disetujui dalam beberapa hari terakhir oleh Netanyahu dan Katz. Kan melaporkan bahwa badan keamanan Shin Bet mengendalikan operasi tersebut.

Sumber-sumber Israel yang dikutip media itu mengatakan operasi tersebut tidak hanya bertujuan memperoleh informasi intelijen, tetapi juga mengirim pesan kepada para pemimpin senior Hamas bahwa mereka tetap menjadi sasaran pengejaran Israel meskipun gencatan senjata telah diberlakukan.

Korban Berjatuhan di Kawasan Permukiman

Operasi tersebut menimbulkan korban dan kerusakan di lingkungan sekitar di Gaza. Kawasan tersebut mencakup tempat-tempat penampungan warga Palestina yang mengungsi dan berada dekat sebuah rumah sakit lapangan Amerika serta sebuah taman kanak-kanak (TK).

Zaher al-Wahidi, direktur Pusat Informasi di Kementerian Kesehatan Gaza, mengatakan kepada The New Arab bahwa tim ambulans dan pertahanan sipil menemukan empat jenazah dan merawat delapan orang yang terluka setelah operasi Israel.

Dia mengatakan dua anak-anak dan dua perempuan termasuk di antara korban tewas. Salah satunya adalah Samah al-Arabid, istri al-Arabid.

Para korban tewas dan terluka kemudian dibawa ke Kompleks Medis al-Shifa.

Namun bagi warga yang tinggal di dekat lokasi, operasi tersebut tidak hanya dirasakan melalui korban dan kerusakan, tetapi juga melalui ketakutan mendadak yang melanda keluarga, terutama mereka yang memiliki anak di sekitar lokasi.Marwa Ezzat, seorang warga setempat, mengatakan anak-anaknya berada di sebuah TK di dekat lokasi ketika bentrokan dimulai.

Dia mengatakan kepada The New Arab bahwa suara tembakan dan serangan udara yang tiba-tiba membuat warga panik ketika keluarga berusaha mencapai anak-anak mereka dan menjauh dari kawasan tersebut.

“Kami sangat ketakutan karena anak-anak kami berada di dalam taman kanak-kanak dan kami bisa mendengar suara tembakan serta ledakan di sekitar kami,” kata Marwa. “Semua orang berusaha mencari cara untuk mencapai anak-anak mereka dan membawa mereka ke tempat yang aman.”

“Setelah operasi mereda, keluarga-keluarga yang mengungsi secara bertahap kembali ke tempat penampungan dan rumah mereka,” imbuh dia. “Sebagian menemukan tenda dan barang-barang mereka rusak akibat serpihan, sementara banyak anak masih ketakutan karena kemungkinan terjadinya kembali penembakan atau serangan udara.”

Tujuan Intelijen dan Keamanan

Analis politik Palestina yang berbasis di Gaza, Mustafa Ibrahim, mengatakan kepada The New Arab bahwa operasi tersebut tampaknya memiliki beberapa tujuan, termasuk menunjukkan kemampuan Israel untuk menjangkau tokoh-tokoh senior Hamas di dalam Gaza.

“Israel sebenarnya bisa saja menargetkan al-Arabid dari udara jika tujuannya adalah membunuhnya. Namun, Israel memilih mengirim pasukan darat untuk menangkapnya hidup-hidup,” katanya.

Dia menambahkan bahwa keputusan tersebut dapat mengindikasikan badan keamanan Israel ingin memperoleh informasi dari al-Arabid ketika dia masih hidup, mengingat posisinya yang senior dalam aparat keamanan Hamas.

“Operasi tersebut mengirim pesan bahwa gencatan senjata tidak mencegah Israel melakukan operasi keamanan di dalam Gaza,” kata Ibrahim.Dia menjelaskan bahwa penangkapan pejabat senior keamanan dapat memberikan Israel akses terhadap informasi sensitif sekaligus menciptakan risiko keamanan tambahan bagi Hamas.

Hamas mengecam operasi tersebut sebagai “kejahatan serius” dan menuduh Israel sengaja membahayakan nyawa warga sipil.

Kelompok tersebut menyerukan kepada para mediator dan pemerintahan AS untuk menekan Israel agar menghentikan apa yang disebutnya sebagai pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata.

Dalam sebuah pernyataan pers, Hamas mengatakan telah menghubungi para mediator dan Nikolay Mladenov, Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, untuk meminta “tekanan maksimal” terhadap pemerintah Israel agar menghentikan operasinya dan menerapkan perjanjian gencatan senjata.

Operasi tersebut berlangsung di tengah ketegangan yang terus berlanjut mengenai pelaksanaan gencatan senjata. Israel dan Hamas saling menuduh melakukan pelanggaran.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, 1.326 warga Palestina tewas dan 4.398 lainnya terluka di Jalur Gaza sejak dugaan perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.

Kementerian tersebut mengatakan jumlah kumulatif korban tewas Palestina sejak pecahnya perang Israel di Gaza pada Oktober 2023 telah mencapai 73.462 orang, sementara 174.509 orang lainnya terluka.

Penculikan al-Arabid menambah satu lagi sumber ketegangan dalam gencatan senjata yang rapuh. Israel mengatakan akan terus memburu tokoh-tokoh Hamas, sementara kelompok Palestina dan para mediator berupaya mempertahankan kesepakatan tersebut serta mendorong pelaksanaannya.

Topik Menarik