Agresivitas atau Insekuritas: Mengapa China Terus Memprovokasi di Laut China Selatan?
Laut China Selatan telah menjelma menjadi salah satu kawasan paling diperebutkan dalam politik global, di mana insiden kecil kerap memicu konsekuensi masif.
Perselisihan rutin antara penjaga pantai atau kapal penangkap ikan dapat dengan cepat meruncing menjadi krisis diplomatik yang menyeret para presiden, menteri luar negeri, hingga aliansi internasional.
Baca Juga: Kapal Perang Belanda dan China Terlibat Konfrontasi di Laut China Selatan
Presiden Center for Indo-Pacific Strategic Studies, Pema Gyalpo, menyoroti bentrokan 20 Juli antara pasukan China dan Filipina di Second Thomas Shoal sebagai contoh nyata bagaimana konfrontasi kecil dapat menguji aliansi, membentuk kesatuan regional, sekaligus menyingkap insekuritas mendalam di balik postur asertif Beijing.
Jelang pertemuan menteri luar negeri ASEAN kala itu, personel Pasukan Penjaga Pantai China secara fisik mengadang pelaut Angkatan Laut Filipina, dengan laporan penggunaan tongkat terhadap seorang prajurit Filipina.Manila menuding Beijing melakukan agresi, sementara Beijing bersikeras Filipina yang memprovokasi. Presiden Ferdinand Marcos Jr. dengan cepat memanggil Duta Besar China untuk memberikan teguran keras, sementara Menteri Luar Negeri China Wang Yi terpaksa mengakui bahwa hubungan kedua negara berada di "persimpangan jalan yang kritis."
Satu Dekade Taktik Koersif yang Menjadi Blunder Strategis
Bentrokan ini bukanlah peristiwa terisolasi. Selama hampir satu dekade, China merespons perselisihan kecil di Laut China Selatan dengan unjuk kekuatan ketimbang diplomasi. Kapal pasokan Filipina diserang dengan meriam air, kapal-kapal ditabrak di dekat Beting Scarborough, dan nelayan Vietnam melaporkan serangan laser.Alih-alih memperkuat posisi Beijing, serangkaian taktik koersif ini justru menciptakan kerugian strategis.
"Alih-alih memperkuat posisinya, tindakan-tindakan ini telah menyatukan negara-negara Asia Tenggara melawan China dan memberikan Amerika Serikat keuntungan diplomatik tanpa Washington perlu bertindak," tulis Pema Gyalpo dalam analisisnya yang dikutip Japan Forward, Jumat (4/9/2026).
Di Balik Fasad Kekuatan: Nasionalisme Domestik dan Rantai Komando Terpecah
Pertanyaan krusialnya: mengapa kekuatan yang sedang bangkit dengan keunggulan jangka panjang yang jelas seperti China terus berperilaku demikian? Secara ekonomi, militer, dan geografis, Beijing memiliki segalanya. Namun, tindakan mereka justru menyerupai negara yang putus asa untuk membuktikan diri.Gyalpo membedah dua alasan utama di balik fenomena ini.Pertama, narasi politik domestik. Kepemimpinan China telah membangun narasi "peremajaan nasional" yang berjanji bahwa negara tersebut tidak akan pernah lagi ditindas seperti saat "abad penghinaan". Untuk mempertahankan cerita ini, pemerintah dituntut rutin memamerkan kekuatan. Sebuah langkah mundur di mata publik, bahkan dalam pertempuran kecil, akan dipandang sebagai pengkhianatan terhadap narasi tersebut.
Kedua, dimensi birokrasi yang terfragmentasi. Pasukan maritim China—Penjaga Pantai, milisi maritim, dan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA)—tidak beroperasi di bawah komando tunggal. Mereka memiliki tanggung jawab yang tumpang tindih.
Para perwira sering bertindak agresif untuk mengesankan atasan mereka, bukan menjalankan strategi besar. Pukulan tongkat di Second Thomas Shoal kemungkinan besar bukan arahan Politbiro Partai Komunis China, melainkan keputusan lokal yang didorong oleh ambisi karier perwira di lapangan.
Insekuritas yang Menghancurkan Keunggulan Jangka Panjang
Secara strategis, China sama sekali tidak membutuhkan konfrontasi ini. Pulau-pulau buatan mereka di Laut China Selatan telah dibangun dan dimiliterisasi.Armada penjaga pantai mereka jauh lebih besar daripada gabungan seluruh armada negara tetangga. Jika China mampu bersabar, mereka bisa saja perlahan-lahan memperkuat kendali tanpa memancing perhatian dunia.Sebaliknya, insiden kekerasan yang viral mendorong Filipina semakin dekat dengan Amerika Serikat, melemahkan netralitas ASEAN, dan memotivasi negara-negara seperti Jepang, Australia, dan India untuk mengoordinasikan langkah melawan ambisi maritim Beijing.
Pema Gyalpo menegaskan bahwa negara adidaya yang percaya diri akan masa depannya tidak merasa perlu membuktikan kekuatan mereka setiap beberapa bulan lewat bentrokan penjaga pantai. Sebaliknya, perilaku yang kompulsif dan digerakkan oleh tuntutan domestik ini justru membuktikan sebaliknya.
Insiden 20 Juli menjadi simbol teguran tentang bagaimana paksaan jangka pendek China pada akhirnya menggerogoti keuntungan jangka panjang yang selama ini susah payah mereka bangun di perairan yang ingin mereka dominasi.







