Wapres Vance: AS Selidiki Serangan Militer terhadap Pernikahan di Iran

Wapres Vance: AS Selidiki Serangan Militer terhadap Pernikahan di Iran

Global | sindonews | Jum'at, 4 September 2026 - 11:23
share

Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat (AS) JD Vance mengatakan Amerika sedang menyelidiki secara menyeluruh laporan mengenai serangan militer Washington terhadap sebuah pesta pernikahan di Iran pada Selasa malam lalu. Serangan itu dilaporkan menewaskan empat orang.

Belasan korban lainnya juga dilaporkan berjatuhan di sepanjang pesisir selatan Iran setelah AS melancarkan serangkaian serangan dalam salah satu eskalasi terbesar sejak Memorandum of Understanding (MoU) Islamabad ditandatangani oleh kedua pihak lebih dari dua bulan lalu.

Baca Juga: AS Bombardir Pesta Pernikahan di Iran, 4 Orang Tewas

"Saya sudah mendapat pengarahan, sejauh yang saya ketahui, bahwa kami sedang menyelidikinya," kata Vance dalam pengarahan di Gedung Putih pada hari Kamis.

"Saya akan mengatakan bahwa media pemerintah Iran sejauh ini bukan sumber yang terlalu baik dalam mencatat apa yang sebenarnya terjadi dalam konflik ini. Jadi, saya sangat skeptis terhadap laporan tersebut," ujarnya, meragukan laporan media Iran bahwa serangan dilakukan oleh militer Washington.

"Amerika Serikat tidak pernah menargetkan warga sipil dalam pertempuran. Kami tidak akan pernah melakukan itu. Kami juga tidak pernah melakukannya. Dan sayangnya, tentu saja, terkadang berbagai hal terjadi...Ketika militer kami melakukan kesalahan, mereka belajar dari kesalahan tersebut untuk berusaha menjadi lebih baik. Jadi, kami sedang menyelidikinya secara sangat menyeluruh," paparnya.

Vance secara tidak langsung mengakui bahwa saat ini tidak ada saluran diplomatik terbuka antara Washington dan Teheran. Hal itu terlihat ketika dia tidak membantah jurnalis yang mengaitkan masalah tersebut dengan kondisi hubungan kedua negara. Sebelumnya, Vance memimpin tim perunding AS dalam perundingan di Islamabad dan Lucerne.

Namun, dia membantah penyebutan konflik yang sedang berlangsung sebagai "perang". "Operasi tempur besar saat ini tidak sedang berlangsung, dan sudah tidak berlangsung dalam waktu yang sangat lama," katanya.

"Saya tidak akan menyebutnya perang. Saat ini, tidak ada baku tembak aktif," katanya lagi.

Meski demikian, selama pengarahan yang berlangsung hampir satu jam itu, Vance menghabiskan banyak waktu menjelaskan bahwa AS harus menggunakan kekuatan militernya di Selat Hormuz. "Karena Iran menembaki kapal-kapal komersial," ujarnya.Iran telah memberlakukan blokade—yang menjadi alat tekan paling efektifnya—terhadap kapal-kapal yang terkait dengan AS dan Israel di jalur perairan strategis tersebut sejak awal serangan AS dan Israel pada 28 Februari.

"Jelas, itu berarti ada sejumlah kapal yang tidak ingin melintas [di sana], tetapi sekitar 15 juta barel minyak berhasil keluar dari Selat Hormuz hanya kemarin, meskipun Iran terus melakukan penembakan," kata Vance.

Angkatan Laut AS memberlakukan blokade tandingan pada April.

"Apa yang telah dilakukan negara-negara lain di dunia? Mengapa Amerika Serikat harus menjadi satu-satunya negara di dunia yang sebenarnya dapat memastikan pasar energi dunia terus mendapatkan pasokan?" tanya Vance.

Beberapa menit kemudian, dia secara tidak sengaja menjawab pertanyaannya sendiri.

"Kami adalah satu-satunya negara di dunia yang dapat memastikan, seperti yang Anda dengar dari presiden, kendali atas Selat Hormuz...Jika kami tidak melakukannya, tidak ada orang lain yang akan melakukannya," paparnya.

"Berhentilah Bertindak seperti Orang Gila"

Vance mengatakan dirinya memiliki satu nasihat untuk Iran: "Berhentilah bertindak seperti orang gila."

Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref pada Kamis mengatakan bahwa AS telah mengubah kalkulasi keamanan dan pertahanan Teheran. Dia memperingatkan bahwa Iran akan memberikan respons yang "asimetris" dan "berlapis-lapis".

Respons Iran selama ini sering kali melibatkan serangan terhadap aset-aset AS di kawasan, terutama di Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Yordania."Amerika harus mulai berpikir untuk menimbun bensin dan bahan bakar. Bulan-bulan gelap menanti perekonomian Amerika," tulis Aref di X.

"Kami sebenarnya memiliki dua pilihan di sini," kata Vance kepada wartawan. "Kami bisa pergi, dan seluruh dunia akan menjadi jauh lebih buruk karena tidak akan ada jaminan akses terhadap minyak dan gas...atau kami bisa menerima kenyataan bahwa Iran akan menembaki kapal-kapal seperti orang gila, dan kami akan melakukan apa yang harus kami lakukan untuk memastikan upaya mereka tidak menyebabkan krisis energi di seluruh dunia," paparnya.

Vance menambahkan bahwa negara-negara Teluk telah menyampaikan kepada Washington bahwa penarikan permanen AS dari pangkalan-pangkalan regional, yang berkembang pesat sejak Perang Teluk 1990, akan menjadi "hal terburuk di dunia".

Namun, belum jelas apakah pasukan dan personel sipil yang dievakuasi pada awal tahun ini akan kembali.

AS telah kehilangan 18 personel militer sejak melancarkan perang terhadap Iran.

"Saya rasa kami tidak akan pernah kembali ke pangkalan-pangkalan itu di Bahrain dan Qatar, Kuwait, serta Arab Saudi bagian timur," kata Harrison Mann, mantan perwira Defense Intelligence Agency (DIA) AS, dalam sebuah panel yang diselenggarakan Democracy in the Arab World Now (Dawn) pada Kamis.

"Perang ini telah membuat pangkalan-pangkalan tersebut menjadi beban politik yang lebih besar bagi kerajaan-kerajaan di kawasan itu," ujarnya, seperti dikutip dari Middle East Eye, Jumat (4/9/2026).

Dia menambahkan bahwa ada kemungkinan AS akan memusatkan kehadiran militer regionalnya di Israel.

Namun, menurutnya, hal itu justru bisa menjadi beban yang lebih besar, mengingat kelompok-kelompok yang didukung Iran seperti Hizbullah di Lebanon memiliki roket yang mampu menjangkau wilayah Israel.

Permainan Eskalasi

Vance memperjelas bahwa tidak ada batas waktu untuk mengakhiri permusuhan, meskipun pemerintahan sebelumnya telah berjanji kepada rakyat Amerika bahwa harga bensin akan turun secara signifikan pada pekan pertama September. Janji tersebut hingga kini belum terwujud.

Menurut Vance, AS tidak berencana "bergantung pada Iran untuk bertindak secara bertanggung jawab atau bernegosiasi dengan itikad baik".

"Apa yang akan kami lakukan adalah menggunakan perangkat yang kami miliki untuk memastikan bahwa rakyat Amerika, pertama, tidak pernah harus menghadapi ancaman program nuklir Iran, dan kedua, pasar energi dunia mendapatkan pasokan yang memadai," katanya.

Negar Mortazavi, peneliti senior non-residen di Center for International Policy, mengatakan dalam panel Dawn bahwa Iran telah belajar untuk tidak terlalu cepat menyetujui kesepakatan gencatan senjata.

"Pada Juni 2025, ketika Israel melancarkan serangan terhadap Iran, mereka membiarkan perang berakhir terlalu cepat, hanya dalam 12 hari. Mereka menerima gencatan senjata dengan sangat tergesa-gesa, dan itulah sebabnya perang kembali pecah dengan intensitas lebih besar untuk ketiga kalinya, yakni tahun ini pada Februari," katanya.

"Jadi sekarang perubahan kebijakan atau doktrinnya adalah mereka harus menjadi lebih ofensif, lebih agresif. Teheran telah belajar dari pengalamannya menghadapi Presiden Trump," imbuh Mortazavi.

"Apa yang terus mereka katakan secara terbuka maupun tertutup adalah bahwa ketika Anda mundur menghadapi Trump, dia justru semakin meningkatkan eskalasi. Jika Anda melakukan eskalasi pada titik tertentu, dia akan mundur, dan mereka memiliki contoh mengenai hal itu."

"Operation Economic Outcast"

Salah satu instrumen yang dimiliki AS adalah memperluas paket sanksi yang telah lama diberlakukan terhadap Iran. Paket tersebut diumumkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pekan lalu.

"Operation Economic Outcast" ditujukan untuk "mencekik" Teheran dengan memutus para "pendukung" atau pihak yang memungkinkan Iran menjalankan aktivitasnya, kata Bessent. Dia menambahkan bahwa Presiden Donald Trump telah berbicara dengan sekutu-sekutu AS di seluruh dunia mengenai kemungkinan bergabung dalam proyek tersebut.

Namun, tidak ada nama pemimpin yang disebutkan maupun jadwal yang diungkapkan.

Pada Kamis, Vance ditanya negara mana saja yang telah mengambil langkah lebih jauh selain Uni Emirat Arab.

"Jika Anda melihat Turki, jika Anda melihat Azerbaijan... Arab Saudi, Qatar, banyak negara dalam koalisi Arab Teluk... di seluruh dunia, kami sebenarnya melihat banyak negara. Terkadang mereka tidak bersedia mengatakannya secara terbuka," katanya.

Ketika ditanya mengenai China—sekutu Iran yang paling kuat dan selama ini membantu Teheran menghindari sistem keuangan internasional yang didominasi AS—Vance tampak melunakkan sikapnya.

"Kami tentu telah melakukan sejumlah pembicaraan dengan China, dan sejujurnya, saya pikir China telah merespons beberapa permintaan yang kami ajukan," katanya.

"Katakan apa pun yang Anda mau tentang mereka; China bukan tipe negara yang menembaki kapal komersial hanya karena tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam sengketa internasional," imbuh dia. "Dalam hal itu, saya pikir mereka bersedia bertindak sedikit lebih bertanggung jawab."

Vance melunakkan komentarnya tentang China ketika Presiden Xi Jinping diperkirakan akan melakukan kunjungan kenegaraan ke AS pada akhir bulan ini.

Topik Menarik