KKI Telusuri Kasus Nakes yang Diduga Beri Komentar Nirempati ke Pasien BPJS

KKI Telusuri Kasus Nakes yang Diduga Beri Komentar Nirempati ke Pasien BPJS

Gaya Hidup | sindonews | Kamis, 6 Agustus 2026 - 21:27
share

Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) melakukan penelusuran mendalam terkait kasus viral perundungan serta komentar negatif di media sosial yang diduga dilakukan oknum tenaga medis (named) dan tenaga kesehatan (nakes) terhadap pasien BPJS Kesehatan yang mengeluhkan tak mendapat kamar hingga delapan jam di akun Threads miliknya.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Pimpinan KKI, dr. Muhammad Syahril, dalam konferensi pers yang digelar di Kantor KKI, Jakarta, Kamis (6/8/2026). Ia mengatakan, saat ini KKI telah berkoordinasi dengan berbagai organisasi profesi guna mengusut tuntas peristiwa yang dinilai mencoreng dunia medis tanah air tersebut.

Baca juga: Menkes Budi Sedih Pasien BPJS Meninggal: Saya Gagal sebagai Menkes

"Saat ini, Konsil Kesehatan Indonesia bersama organisasi profesi yang terkait, sedang melakukan penelusuran terhadap peristiwa tersebut sesuai dengan kewenangan masing-masing. Apabila dari hasil penelusuran ditemukan adanya pelanggaran, akan ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku," kata dr. Syahril.

Tidak hanya itu, ia menyebut bahwa KKI juga merangkul institusi pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), serta pemerintah daerah tempat para oknum tersebut mengenyam pendidikan maupun berpraktik guna pembinaan secara komprehensif.Baca juga: Kasus Pasien BPJS Meninggal Viral, dr. Gia Pratama Ingatkan Empati Nakes

"Selain itu, Konsil Kesehatan Indonesia berkoordinasi dengan institusi pendidikan, serta fasilitas pelayanan kesehatan dan pemerintah daerah, tempat yang bersangkutan menjalankan pendidikan maupun dia bekerja, agar masing-masing dapat melakukan pembinaan sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawab," ucap dia.

dr. Syahril menuturkan bahwa KKI sangat prihatin dengan adanya kasus yang melibatkan tenaga kesehatan dan tenaga medis tersebut. Menurutnya, ungkapan atau komentar yang dilontarkan oleh oknum tenaga kesehatan dan medis di media sosial terhadap Yurizal Tri Chaerawan dalam utas akun Threads miliknya merupakan pernyataan nirempati dan berpotensi merendahkan martabat pasien.

"Konsil Kesehatan Indonesia bersama organisasi profesi ini menyatakan keprihatinan atas peristiwa yang disinyalir dilakukan oleh oknum tenaga medis. Tenaga medis berarti dokter atau dokter gigi, dan tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan artinya perawat, bidan, kemudian gizi, psikologi, farmasi, dan seterusnya, melalui media sosial. Unggahan yang diduga memuat pernyataan tidak berempati atau nirempati yang berpotensi merendahkan martabat pasien, merupakan hal yang patut disesalkan," ungkap Syahril.

Baca juga: RSUD Tasikmalaya Benarkan Norma Zahara Pegawainya, Siap Beri SanksiPadahal, sikap empati dan rasa hormat kepada pasien serta keluarganya adalah pilar utama bagi tenaga kesehatan atau medis baik saat berhadapan langsung di ruang perawatan maupun dalam berinteraksi di media sosial. Maka dari itu rasa hormat dan menjaga martabat pasien harus dijaga dalam setiap lini komunikasi.

"Sikap empati merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari profesionalisme tenaga medis dan tenaga kesehatan. Oleh karena itu, penghormatan terhadap martabat manusia, termasuk pasien dan keluarganya harus sentiasa dijaga dalam setiap bentuk komunikasi, baik di lingkungan pelayanan maupun di ruang digital," papar dia.

Maka dari itu, KKI mengingatkan seluruh praktisi kesehatan agar lebih bijak dalam bermain atau melontarkan pernyataan di media sosial pribadi, mengingat jejak digital melekat erat pada reputasi profesi. Khususnya pernyataan terhadap pasien maupun keluarganya.

"Pada prinsipnya, setiap tenaga medis, dokter dan dokter gigi, dan tenaga kesehatan wajib menjalankan praktek profesinya dengan menjunjung tinggi profesionalisme, etika profesi, serta nilai-nilai kemanusiaan. Penggunaan media sosial juga harus dilakukan secara bijaksana, dan bertanggung jawab dengan menghindari pernyataan yang dapat melukai pasien, keluarga pasien, dan masyarakat maupun menurunkan kepercayaan terhadap profesi," tutur dr. Syahril.

Ia menekankan bahwa kejadian ini merupakan pengingat dan pelajaran bagi seluruh tenaga medis maupun kesehatan agar tetap menjunjung tinggi nilai profesionalitas dan etika profesi. "Peristiwa ini menjadi pengingat bagi seluruh tenaga medis dan tenaga kesehatan bahwa jejak digital merupakan bagian dari profesionalisme. Setiap bentuk komunikasi di ruang digital hendaknya mencerminkan nilai-nilai luhur etika profesi," beber dia.

Diharapkan, langkah penelusuran dari KKI bersama dengan organisasi profesi ini bisa semakin memperkuat budaya profesionalitas, etika profesi dan menjaga kepercayaan masyarakat agar kejadian serupa tidak terulang kembali. “Langkah ini diharapkan dapat memperkuat budaya profesionalisme, etika profesi, serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan," pungkas dr. Syahril.

Topik Menarik