4 Petugas Tewas di Bromo, Ahli Soroti Standar Operasi Pemadaman Karhutla
JAKARTA — Peristiwa tragis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo pada 15 Oktober 2026 menjadi pengingat penting akan tingginya risiko yang dihadapi petugas pemadam di lapangan. Diketahui, sebanyak empat orang meninggal dunia dan dua orang mengalami luka bakar serius setelah terjebak kobaran api dan asap saat melakukan pemadaman.
“Kita menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban serta penghargaan setinggi-tingginya atas pengabdian para petugas dan relawan,” ungkap Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, Sabtu (17/10/2026).
Daryono mengatakan, tragedi ini harus menjadi momentum untuk memperkuat standar keselamatan dalam operasi pemadaman karhutla di seluruh Indonesia. Memadamkan api merupakan tugas kemanusiaan, tetapi menyelamatkan nyawa petugas adalah prioritas yang tidak boleh ditawar.
“Keberanian dan pengabdian harus didukung prosedur keselamatan yang ketat, peralatan memadai, serta pengendalian operasi yang profesional,” katanya.
Profil Irjen Herry Rudolf Nahak, Koorsahli Kapolri Peraih Adhi Makayasa 1990 yang Masuk Masa Pensiun
Daryono mengingatkan sejumlah aspek keselamatan yang wajib diterapkan secara ketat, di antaranya penilaian risiko sebelum operasi. Setiap tim wajib memahami arah dan kecepatan angin, kondisi cuaca, karakter vegetasi, kemiringan lereng, arah pergerakan api, serta potensi perubahan perilaku kebakaran secara mendadak.
Aspek berikutnya adalah jalur evakuasi dan zona aman. Sebelum pemadaman dimulai, wajib ditentukan jalur penyelamatan, lokasi perlindungan yang aman, dan prosedur mundur apabila api berkembang di luar kendali.
Daryono juga mengingatkan pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD). Seluruh personel wajib menggunakan APD khusus pemadaman kebakaran hutan, meliputi pakaian tahan api sesuai standar, helm, sarung tangan, sepatu pelindung, kacamata, serta perlindungan pernapasan yang sesuai dengan tingkat bahaya. APD tidak boleh dianggap sebagai pengganti jarak aman dari kobaran api.
“Kecukupan air minum dan makanan bergizi. Petugas harus memperoleh air minum yang cukup, penggantian elektrolit bila diperlukan, serta makanan bergizi dan energi memadai untuk mencegah dehidrasi, kelelahan, dan penurunan konsentrasi,” kata Daryono.
Siswa SMAN 1 Kuala Bireuen Temukan Belatung pada Menu MBG, Daging Ayam Disebut Berbau Busuk
Daryono juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan dan memastikan waktu istirahat petugas. Setiap personel harus dipastikan dalam kondisi sehat dan layak bertugas. Durasi kerja perlu dibatasi, rotasi personel diterapkan, dan waktu istirahat harus mencukupi. Petugas yang kelelahan, sakit, atau menunjukkan tanda gangguan akibat panas harus segera ditarik dari operasi.
Aspek selanjutnya adalah komunikasi dan komando lapangan. Seluruh personel harus bekerja dalam sistem komando yang jelas, memiliki komunikasi dua arah, memahami pembagian tugas, serta tidak melakukan pemadaman sendirian atau bergerak tanpa koordinasi.
Daryono juga mengingatkan pentingnya pemantauan perubahan situasi. Perubahan arah angin, peningkatan intensitas api, kepulan asap pekat, dan berkurangnya jarak pandang harus segera direspons. Operasi wajib dihentikan atau personel ditarik ketika kondisi tidak lagi aman.
“Kesiapan penyelamatan dan pertolongan medis. Tim harus menyiapkan prosedur evakuasi darurat, perlengkapan pertolongan pertama, personel penyelamat, serta akses menuju fasilitas kesehatan sblm memasuki lokasi berisiko tinggi,” ujarnya.
Daryono menegaskan, keselamatan petugas pemadam karhutla merupakan tanggung jawab bersama, terutama pimpinan operasi dan seluruh institusi yang menugaskan personel. Setiap kejadian yang menimbulkan korban perlu dievaluasi secara objektif untuk memperbaiki sistem perlindungan, tanpa terburu-buru menyimpulkan adanya kelalaian sebelum hasil investigasi tersedia.
“Prinsip-prinsip tersebut juga sejalan dengan standar keselamatan pemadaman kebakaran hutan yang dikembangkan oleh National Wildfire Coordinating Group (NWCG). Tidak ada target pemadaman yang lebih berharga daripada keselamatan jiwa. Api boleh belum padam, tetapi setiap petugas harus memiliki kesempatan untuk kembali pulang dengan selamat,” pungkasnya.










