MTI Apresiasi Survei SMRC, Sudirman Said Peroleh Skor Kepemimpinan 6,3
Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) mengapresiasi survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk "Kepemimpinan Nasional Demokratik Transformatif 2029: Studi Evaluasi Opinion Leaders". Dalam studi yang menilai 31 tokoh nasional tersebut, salah satu pendiri MTI, Sudirman Said memperoleh skor rata-rata kualitas kepemimpinan 6,3 dari skala 0–10.
MTI memandang survei ini penting setidaknya karena dua alasan. Pertama, penilaian diberikan oleh kalangan yang kompeten. Responden studi ini bukan publik umum, melainkan 200 opinion leaders yang terdiri atas 166 akademisi dari berbagai bidang ilmu dan 34 jurnalis senior. Mereka dipilih karena mengenal seluruh tokoh yang dinilai, sehingga perbandingan dapat dilakukan secara setara.
Sebanyak 149 di antaranya bersedia namanya dipublikasikan sebagai penilai, sebuah bentuk akuntabilitas yang patut dihargai. MTI juga mencatat bahwa SMRC secara terbuka menyatakan hasil studi ini bersifat deskriptif, bukan inferensial. Kejujuran metodologis semacam ini justru memperkuat kredibilitasnya.
Baca juga: Di Kongres Nasional PMKRI, Sudirman Said Ajak Mahasiswa Bangun Kepemimpinan Intrinsik
Kedua, kriteria penilaiannya relevan dengan tantangan membereskan negara hari ini. Tokoh dinilai berdasarkan sepuluh aspek: kompetensi, empati, integritas, akseptabilitas, sikap pluralis-inklusif, kemampuan memimpin, komitmen terhadap demokrasi, komitmen terhadap kesejahteraan umum, komitmen terhadap profesionalisme TNI dan Polri, serta komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif. Ukuran-ukuran ini menjawab persoalan nyata bangsa, bukan sekadar popularitas atau elektabilitas. Hasil ini juga menarik karena Sudirman Said tidak sedang memegang jabatan publik maupun memimpin partai politik. Artinya, penilaian para opinion leaders didasarkan pada rekam jejak dan kualitas personal, bukan pada sorotan kekuasaan.
Baca juga: Skandal di Balik Penjara! Sudirman Said Bongkar Napi Korupsi Bisa Kuliah S2
"Sudah waktunya proses seleksi dan promosi sumber kader kepemimpinan ditata ulang. Survei ini merupakan salah satu inovasi agar kepemimpinan politik masa depan tidak berputar-putar pada nama-nama tertentu yang tidak mencerminkan kapasitas terbaik. Bangsa ini punya stok yang sangat kaya akan potensi pemimpin nasional," ujar Direktur Eksekutif MTI, Ahmad Jilul QF dalam keterangannya, Sabtu (17/10/2016).Sejak awal, perhatian MTI tidak hanya tertuju pada tata kelola dan cara negara dijalankan, tetapi juga pada aktor yang menjalankannya. Jejak ini dapat ditelusuri ketika MTI turut mendukung pencalonan Nurcholish Madjid sebagai kandidat presiden pada 2004 melalui Perkumpulan Membangun Kembali Indonesia (PMKI).
Bagi MTI, good governance saja tidak cukup. Sistem yang baik harus dijalankan oleh pemimpin yang baik: berintegritas, kompeten, dan berkomitmen pada demokrasi serta kesejahteraan rakyat.
Hasil studi SMRC ini menunjukkan bahwa figur dengan kualitas tersebut sesungguhnya tersedia, termasuk di luar lingkar kekuasaan dan partai politik.
MTI mendorong partai politik, masyarakat sipil, dan publik luas untuk menjadikan kualitas kepemimpinan, bukan semata kedekatan kekuasaan atau popularitas, sebagai pertimbangan utama dalam menyiapkan kepemimpinan nasional menuju 2029.









