100 Manusia Film Festival 2026 Resmi Dibuka! Suguhkan 86 Film Gratis dari 21 Negara

100 Manusia Film Festival 2026 Resmi Dibuka! Suguhkan 86 Film Gratis dari 21 Negara

Gaya Hidup | inews | Jum'at, 7 Agustus 2026 - 17:38
share

JAKARTA, iNews.id – 100 Manusia Film Festival 2026 resmi dimulai dengan membawa semangat baru dalam merayakan satu dekade perjalanan festival. Tahun ini, ajang tersebut tidak hanya menghadirkan puluhan film dari berbagai negara, tetapi juga memperluas pengalaman penonton melalui pameran, lokakarya, hingga program menonton yang lebih inklusif.

Festival yang berlangsung pada 6-15 Agustus 2026 itu dibuka di Erasmus Huis, Jakarta, melalui program bertajuk 100 Love Language. Program pembuka ini menjadi representasi tema besar festival tahun ini, 'A Decade of Love Language', yang menyoroti berbagai bentuk cinta, empati, keberanian, kehilangan, hingga harapan dalam kehidupan manusia.

Selama penyelenggaraan, masyarakat dapat menikmati 86 film, terdiri dari 24 film panjang dan 62 film pendek dari 21 negara. Seluruh rangkaian pemutaran digelar di 11 venue yang tersebar di Jakarta, Bali, dan Yogyakarta, dengan sebagian besar program dapat diikuti secara gratis.

Program pembuka menghadirkan enam film pendek Indonesia, antara lain:

1. Waktu Luang - Longing karya Satria Dhesto Wicaksana
2. Folding Sadness karya Jeffri Harianja
3. Malam Sepanjang Nafas - A Night as Long as Breath karya Irwan Sebleku
4. BAGUS: Dancing Like a Lady karya Mandala Belanegara
5. Parade si Rambo - Over the Rambo karya Axel Wesiang
6. Selamat Tidur, Adil! - Good Night, Adil! karya Kenzie Makarim Al Ghazali

Keenam film tersebut dipilih karena dinilai mampu menggambarkan beragam pengalaman manusia yang lahir dari latar belakang berbeda.

Kepala Program Film 100 Manusia Film Festival 2026, Meninaputri Wismurti, mengatakan pemilihan program 100 Love Language sebagai pembuka bukan tanpa alasan.

"Film-film pendek yang terpilih sebagai pembuka festival dalam program 100 Love Language ini memperlihatkan kisah-kisah cinta di masyarakat kita yang majemuk dan hadir dalam berbagai bentuk, cerita dan rasa," ujar Meninaputri dalam keterangan resminya, Jumat (7/8/2026).

"Lewat enam film pendek Indonesia ini, kami ingin mengajak penonton melihat bahwa memahami pengalaman orang lain, salah satunya dengan cara menonton film, adalah langkah pertama untuk memahami kemanusiaan," tambahnya.

Hannah Al Rashid Ditunjuk Jadi Duta 100 Manusia Film Festival 2026

Aktris sekaligus aktivis Hannah Al Rashid di acara 100 Manusia Film Festival 2026. (Foto: Istimewa)

Tahun ini, aktris sekaligus aktivis Hannah Al Rashid dipercaya menjadi Duta 100 Manusia Film Festival 2026. Menurutnya, film memiliki kekuatan untuk memperlihatkan pengalaman manusia dari berbagai belahan dunia dan mengingatkan bahwa setiap orang sebenarnya saling terhubung.

"Saya selalu mencintai film-film yang memperlihatkan pengalaman manusia dari seluruh dunia dengan berbagai latar belakang. Lewat 100 Manusia Film Festival, kami diingatkan bahwa tidak ada perjuangan yang benar-benar kita hadapi sendirian," ujar Hannah.

Dia melanjutkan, "Selama sepuluh tahun, festival ini telah menjadi ruang yang aman bagi siapa pun untuk belajar, memahami, dan melihat dunia dari perspektif yang berbeda." 

Tak Hanya Nonton Film, Ada Pameran hingga Lokakarya Bahasa Isyarat

Memasuki usia ke-10, festival juga memperluas aktivitas di luar ruang bioskop. Salah satunya melalui 100 Exhibition: A Decade of Love Language yang dibuka di Institut Français d'Indonésie (IFI) Thamrin pada 7 Agustus 2026.

Pameran tersebut menampilkan arsip poster resmi festival selama satu dekade terakhir yang dibuat oleh berbagai seniman lokal. Deretan karya itu menjadi dokumentasi perjalanan visual sekaligus perkembangan gagasan mengenai kemanusiaan yang terus diusung festival.

Keseruan 100 Manusia Film Festival 2026. (Foto: Istimewa)

Sementara itu, pada 8 Agustus 2026, pengunjung dapat mengikuti 100 Cinergi, program pemutaran film klasik Indonesia Quickie Express yang dilengkapi layanan Bisik Buddy, yakni relawan pembisik bagi penonton tunanetra.

Di hari yang sama, festival juga menggelar 100 DIY: Sign Language, lokakarya Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang mengajak masyarakat mengenal budaya Tuli sekaligus mempelajari dasar-dasar bahasa isyarat sebagai langkah membangun ruang komunikasi yang lebih inklusif.

Kepala Program Acara Non-Film 100 Manusia Film Festival 2026, Rain Cuaca, mengatakan berbagai kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya festival menghadirkan pengalaman yang lebih luas bagi pengunjung.

"Bagi kami, ruang yang inklusif dibangun bukan hanya melalui film, tetapi juga lewat pengalaman bersama. Karena itu, 100 Exhibition, 100 Cinergi, dan 100 DIY: Sign Language kami hadirkan agar masyarakat bisa bertemu, berdialog, dan belajar satu sama lain," ungkapnya.

Memasuki satu dekade penyelenggaraan, 100 Manusia Film Festival ingin menjadikan film bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang untuk membuka percakapan mengenai keberagaman, hak asasi manusia, dan pentingnya empati. Dengan seluruh rangkaian kegiatan yang terbuka untuk publik, festival ini berharap semakin banyak orang dapat saling memahami pengalaman hidup yang berbeda melalui kekuatan cerita di layar lebar.

Topik Menarik