Warning untuk Gen Z! Kebiasaan Minum Manis Setiap Hari Bisa Picu Gagal Jantung
JAKARTA, iNews.id – Segelas es kopi susu, boba, soda, atau minuman kekinian mungkin sudah menjadi bagian dari rutinitas banyak Generasi Z (Gen Z). Namun di balik rasanya yang manis, kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula setiap hari ternyata menyimpan ancaman serius bagi kesehatan jantung di masa depan.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr. Bobby Arfhan Anwar, mengingatkan bahwa konsumsi gula berlebihan bukan sekadar meningkatkan berat badan, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk berbagai penyakit metabolik yang akhirnya berujung pada penyakit jantung hingga gagal jantung.
Menurut dr. Bobby, kebiasaan yang terlihat sepele saat masih muda bisa menjadi 'bom waktu' yang dampaknya baru terasa 10 hingga 20 tahun kemudian.
Jangan Anggap Sepele! Perut Tidak Nyaman Bisa Dipicu Bakteri Baik yang Tidak Seimbang di Usus
"Gen Z yang hobi makan dan minum manis, tiap hari harus ada yang manis-manis, konsumsi gula yang melebihi batas rekomendasi harian (maksimal 50 gram/hari) berisiko terkena diabetes. Diabetes inilah yang meningkatkan risiko sakit jantung di kemudian hari," ujar dr. Bobby melalui edukasi di akun Instagram pribadinya, dikutip Jumat (7/8/2026).
Tak hanya minuman manis, dr Bobby mengatakan masih banyak kebiasaan sehari-hari yang diam-diam mempercepat kerusakan jantung. Salah satunya adalah merokok, termasuk penggunaan rokok elektrik atau vape yang masih populer di kalangan anak muda.
"Merokok itu warisan kuno generasi milenial dan di atasnya. Tidak ada manfaatnya, melainkan memicu kecanduan dan merusak pembuluh darah jantung. Ngevape pun bukan berarti lebih aman, karena yang dibutuhkan tubuh hanyalah udara bersih," tegasnya.
Selain itu, pola makan yang didominasi makanan cepat saji dan makanan olahan atau ultra-processed food (UPF) juga perlu diwaspadai. Jenis makanan ini umumnya mengandung kadar garam yang tinggi sehingga meningkatkan risiko hipertensi.
"Kelebihan konsumsi garam harian lebih dari 5 gram meningkatkan risiko hipertensi. Hipertensi yang tidak dikontrol bisa berujung pada sakit jantung," katanya.
Kebiasaan lain yang tak kalah berbahaya adalah minimnya aktivitas fisik. Menurut dr Bobby, gaya hidup sedentari atau terlalu banyak duduk tanpa olahraga rutin membuat lingkar perut bertambah, memicu obesitas dan sindrom metabolik yang membebani kerja jantung.
"Gen Z yang hobinya mager dan tidak ada waktu khusus olahraga, lingkar perutnya akan bertambah. Lama-lama ini memicu sindrom metabolik. Jantung yang tidak pernah dilatih dengan olahraga kardio sangat rentan sakit. Makin gemuk seseorang, kerja jantungnya pun makin berat," jelasnya.
Gagal Jantung Jadi Ancaman Nyata
Melansir Kementerian Kesehatan, kombinasi kebiasaan tersebut dapat memicu berbagai penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, penyakit arteri koroner, hingga berakhir pada gagal jantung. Kondisi ini merupakan stadium akhir dari penyakit jantung yang membuat kemampuan jantung memompa darah menurun secara signifikan.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya, mengatakan penyakit jantung kini menjadi penyebab kematian terbanyak kedua di Indonesia setelah stroke.
"Di Indonesia ada tiga penyakit dengan angka kematian tertinggi, yaitu stroke sebanyak 300 ribuan, jantung 200 ribuan, kemudian kanker. Khusus untuk jantung, gagal jantung adalah salah satu penyebab kematian yang harus diwaspadai," ujar Azhar.
Ia menjelaskan bahwa pasien gagal jantung kronis umumnya membutuhkan transplantasi jantung. Sayangnya, Indonesia masih menghadapi keterbatasan donor dan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
"Jika terjadi kegagalan kronis, pilihan utamanya adalah transplantasi jantung. Namun, mencari donor dan kesiapan dokternya masih menjadi tantangan besar," katanya.
Teknologi Baru Bantu Pasien Gagal Jantung
Sebagai upaya meningkatkan penanganan gagal jantung di Indonesia, Kementerian Kesehatan memberikan fasilitas dan izin kepada RSUP Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk menerapkan teknologi Left Ventricular Assist Device (LVAD) bekerja sama dengan HeartSPAN.ai dari Borderless Healthcare Group (BHG).
LVAD merupakan alat bantu pompa jantung yang berfungsi membantu mengalirkan darah ke seluruh tubuh ketika kemampuan jantung sudah menurun akibat gagal jantung.
Direktur Utama RSCM, Supriyanto Dharmoredjo, mengatakan teknologi pompa jantung buatan ini menjadi harapan baru bagi pasien gagal jantung kronis di Indonesia.
"Alat LVAD seperti ini pernah ada di dunia, tetapi tidak sekecil ini. Berdasarkan data dari China, setelah dipasang pada sekitar 1.000 pasien, tingkat keberhasilannya mencapai lebih dari 80 persen," ungkap Supriyanto.
Sementara itu, Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSpan.ai, Dr. Wei Siang Yu, menegaskan bahwa keberhasilan penerapan teknologi tersebut tidak hanya bergantung pada kecanggihan alat, tetapi juga kesiapan sistem pelayanan kesehatan secara menyeluruh.
"Ini bukan sekadar menghadirkan perangkat medis, melainkan membangun ekosistem pelayanan gagal jantung yang berkelanjutan melalui pelatihan, inovasi, dan kolaborasi internasional," pungkasnya.
Karena itu, langkah terbaik tetap dimulai dari pencegahan. Mengurangi konsumsi minuman manis, membatasi makanan cepat saji, berhenti merokok maupun vape, serta rutin berolahraga merupakan investasi kesehatan yang jauh lebih sederhana dibanding harus menghadapi risiko penyakit jantung kronis di masa depan.










