Harga Bensin Naik 2 Kali dalam 9 Hari, Rakyat Suriah Ngamuk: 'Jatuhkan Jolani!'
Protes kemarahan pecah di berbagai wilayah Suriah, terutama di bagian utara dan timur laut, setelah pemerintah kembali menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) untuk kedua kalinya dalam sembilan hari. Para demonstran meneriakkan "Jatuhkan Jolani!", mengacu pada nama perang Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa.
Kenaikan harga BBM tersebut semakin membebani masyarakat yang sudah terpukul akibat perang saudara berkepanjangan, terutama bagi para petani.
Baca Juga: Israel Kuasai Gunung Hermon Suriah, Mengapa Negara-negara Arab Murka?
Harga solar naik 40 menjadi 175 pound Suriah (Rp23.300) per liter, sementara bensin naik 28 menjadi 185-195 pound Suriah (Rp24.600-25.900) per liter, menurut kantor berita pemerintah; SANA.
Kementerian Energi Suriah menyebut kenaikan harga BBM tersebut sebagai "langkah sementara" yang diberlakukan akibat meningkatnya biaya pengadaan bahan bakar di pasar global di tengah perang Iran dan krisis di Selat Hormuz.Kapal Induk Nuklir George Washington AS Sudah Tiba di Timur Tengah untuk Perang Melawan Iran
Kementerian tersebut mengatakan Suriah saat ini terdampak kenaikan biaya global untuk pengadaan bensin, solar, dan bahan bakar minyak lainnya. Selain itu, penghentian sementara operasional kilang Baniyas untuk pemeliharaan membuat Suriah harus meningkatkan impor produk minyak selama periode perawatan.
Penyesuaian harga tersebut, menurut kementerian, "Bertujuan memastikan kelancaran pasokan produk minyak dan ketersediaannya di pasar domestik, di tengah meningkatnya biaya pasokan serta kebutuhan untuk memenuhi permintaan selama kilang ditutup."
Suriah memproduksi sekitar 100.000 barel minyak per hari, sementara kebutuhan domestik diperkirakan mencapai sekitar 300.000 barel per hari.
Dampak Berat di Jantung Pertanian Suriah
Segera setelah pemerintah mengumumkan harga baru, protes kemarahan pecah di sejumlah provinsi. Para demonstran memblokir jalan-jalan utama dan menghentikan truk tangki minyak yang menuju kilang Homs.Protes terbaru juga terjadi di tengah meningkatnya demonstrasi akibat memburuknya kondisi ekonomi. Berdasarkan data ACLED yang dikutip analis Suriah; Muaz al-Abdullah, 45 protes yang tercatat di Suriah selama pekan pertama September didorong tuntutan ekonomi.
Namun, aksi tersebut paling menonjol di wilayah timur laut Suriah. Demonstrasi di Hasakah dan Deir Ezzor bahkan berkembang menjadi lebih konfrontatif.
Abdullah mengatakan aksi protes telah menjadi "lebih keras", di mana demonstran membakar ban dan mendirikan barikade untuk memblokir jalan-jalan utama, termasuk jalan raya M5 yang menghubungkan Suriah bagian utara dan selatan."Barikade digunakan untuk memutus akses jalan, dan ini merupakan sesuatu yang sebelumnya tidak sering kita lihat di Suriah," kata Abdullah kepada The New Arab, Selasa (15/9/2026). Dia mencatat bahwa sebagian besar demonstrasi sejak jatuhnya rezim mantan diktator Bashar al-Assad pada Desember 2024 berlangsung secara damai.
Protes tersebut juga menjadi perhatian karena terjadi setelah kenaikan harga BBM kedua hanya dalam waktu sembilan hari. Kenaikan pertama diumumkan pada 4 September, disusul kenaikan berikutnya pada 13 September.
Menurut Abdullah, protes tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai reaksi terhadap kenaikan harga BBM terbaru, tetapi sebagai akumulasi persoalan ekonomi dan sosial yang semakin membesar.
"Tentu saja, protes ini bisa berubah menjadi tantangan bagi pemerintah. Ini sangat signifikan. Semua ini merupakan akibat dari krisis yang menumpuk dan memburuknya kondisi sosial ekonomi di Suriah," ujarnya.
Harga bahan bakar memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari transportasi, produksi pangan, pemanas rumah hingga layanan dasar.
Dampaknya diperkirakan semakin berat di wilayah timur laut Suriah, termasuk Hasakah, Deir Ezzor, dan Raqqa. Wilayah tersebut merupakan jantung pertanian Suriah dan menjadi salah satu penghasil utama gandum negara tersebut.
"Timur laut Suriah, khususnya Hasakah dan Deir Ezzor, merupakan wilayah penghasil minyak di Suriah. Namun sekarang mereka tidak mampu memperoleh layanan dasar dan menjalankan aktivitas sehari-hari akibat kenaikan harga BBM," kata Abdullah.
Wilayah tersebut juga segera memasuki periode penting pertanian. Para petani diperkirakan mulai melakukan penanaman pada akhir September dan awal Oktober.
"Pengairan, pengolahan lahan, dan transportasi tidak bisa dilakukan tanpa bahan bakar," kata Abdullah. Dia menambahkan bahwa Hasakah, Deir Ezzor, dan Raqqa merupakan wilayah penghasil komoditas pertanian utama Suriah, terutama gandum.
Negara yang Sudah Rapuh
Kenaikan harga BBM terjadi setelah sebelumnya muncul ketegangan antara para petani dan pemerintah di wilayah timur laut. Protes sebelumnya dipicu harga pembelian gandum yang ditetapkan Damaskus serta keterlambatan pembayaran.Waktu kenaikan harga juga sangat sensitif karena Suriah timur laut sedang menjalani transisi politik besar. Pemerintah di Damaskus berupaya mengintegrasikan wilayah tersebut, termasuk Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin kelompok Kurdi, ke dalam struktur negara Suriah.SDF yang dipimpin kelompok Kurdi dan pasukan pemerintah Damaskus terlibat bentrokan mematikan selama berminggu-minggu pada awal tahun ini. Pasukan pemerintah kemudian merebut sejumlah wilayah yang sebelumnya berada di bawah kendali SDF. Kini, proses integrasi SDF ke dalam pemerintahan sedang berlangsung.
"Tidak ada kepentingan pemerintah, di tengah proses transisi yang berlangsung di wilayah mayoritas Kurdi, untuk menaikkan harga BBM," kata Abdullah.
Nasib Pria Kosovo: Jadi Mata-mata CIA hingga Menyusup ke al-Qaeda, tapi Kini Bakal Diusir AS
Dia memperingatkan bahwa akumulasi persoalan ekonomi dan memburuknya kondisi kehidupan dapat menunda proses integrasi wilayah timur laut ke dalam struktur negara dan masyarakat Suriah secara lebih luas.
Bahaya bagi Damaskus adalah kekecewaan ekonomi dapat bercampur dengan transisi politik yang lebih luas di wilayah tersebut. Kondisi ini berpotensi memperkuat anggapan sebagian warga bahwa kehidupan mereka justru memburuk ketika pemerintah pusat semakin meningkatkan kendali atas timur laut Suriah.
Sentimen tersebut bisa sangat merugikan upaya Damaskus untuk menyatukan kembali negara yang masih terpecah setelah lebih dari 13 tahun perang saudara.
Tantangan yang Semakin Besar bagi Damaskus
Namun, gejolak tersebut tidak hanya terjadi di wilayah timur laut.Protes juga dilaporkan terjadi di Hama, Aleppo, dan Idlib, dengan sektor pertanian kembali menjadi faktor yang sama.
"Ada satu hal utama yang menjadi kesamaan semua wilayah ini—pertanian," kata Abdullah.
Menurut penulis dan komentator politik Robin Yassin-Kassab, protes tersebut termasuk demonstrasi antipemerintah paling signifikan sejak jatuhnya Assad.
"Sejak pembebasan, banyak protes terjadi di Suriah. Sebagian besar berkaitan dengan kondisi ekonomi, kenaikan harga dan sebagainya. Namun, aksi kali ini sejauh ini merupakan yang paling signifikan," kata Yassin-Kassab kepada The New Arab.
Dia mengatakan protes tersebut sangat mengkhawatirkan pemerintah karena terjadi di wilayah yang semestinya menjadi basis dukungan kuat terhadap pemerintahan baru.Dalam sejumlah aksi, demonstran meneriakkan slogan "rakyat ingin Jolani jatuh", merujuk pada nama perang Presiden Ahmed al-Sharaa. Sebagian demonstran lainnya menyerukan agar menteri energi mengundurkan diri.
"Protes ini benar-benar bisa berkembang menjadi tantangan yang lebih luas bagi pemerintah," ujar Yassin-Kassab.
Meskipun pemicu langsungnya adalah kenaikan harga BBM, aksi tersebut juga membuka kekecewaan yang jauh lebih dalam terhadap kondisi kehidupan masyarakat di seluruh negeri.
"Ini keduanya—jelas ini mengenai harga BBM," katanya, seraya menunjuk dampak perang di Iran dan kenaikan harga bahan bakar global. "Namun tentu saja, Suriah memiliki pekerjaan rekonstruksi yang sangat besar."
Kesabaran Mulai Menipis
Konflik yang dimulai pada Maret 2011 setelah pasukan Assad menindak keras demonstran secara brutal telah membuat sebagian besar wilayah Suriah hancur.Jutaan warga Suriah masih tidak memiliki tempat tinggal maupun pekerjaan yang memadai. Sementara itu, sebagian besar wilayah negara tersebut masih kekurangan pasokan listrik yang andal, air bersih mengalir, serta infrastruktur sipil dasar.
Selama lebih dari setahun, banyak warga Suriah masih memberikan kesempatan kepada pemerintahan baru, kata Yassin-Kassab. Hal itu sebagian disebabkan rasa lega setelah berakhirnya pemerintahan Assad dan sebagian lainnya karena mereka memahami besarnya tantangan yang harus dihadapi pemerintahan baru.
Namun, kesabaran tersebut mungkin tidak akan bertahan selamanya.
"Ketika kita mendekati dua tahun sejak pembebasan, kesabaran masyarakat akan habis," ujarnya.
Yassin-Kassab mengatakan protes saat ini mencerminkan masyarakat yang menghadapi "krisis biaya hidup yang sangat besar", sementara mereka masih menunggu pembangunan infrastruktur sipil yang dibutuhkan untuk kembali menjalani kehidupan normal.Masalah tersebut semakin rumit karena pemerintah memiliki sumber daya yang terbatas. Damaskus memiliki pendapatan yang minim, tetapi menghadapi kebutuhan pembiayaan yang sangat besar, terutama untuk membangun kembali negara dan menyediakan layanan dasar setelah bertahun-tahun dilanda perang.
Abdullah mengatakan pemerintah seharusnya menjelaskan keputusan tersebut secara lebih transparan dan mempertimbangkan langkah seperti subsidi atau bantuan lainnya untuk membantu rumah tangga yang kesulitan menghadapi kenaikan biaya.
"Masalahnya bukan kenaikan harga BBM itu sendiri, melainkan pemerintah tidak melakukan kajian sebelum menerapkan kenaikan harga. Tidak ada kajian atau strategi yang jelas," katanya.
Karena itu, Presiden Sharaa kemungkinan menghadapi tekanan untuk membatalkan atau mengurangi kenaikan harga, setidaknya untuk sementara, guna meredakan ketegangan.
Namun, dampak kenaikan harga tersebut akan melampaui protes yang terjadi saat ini. Abdullah mengatakan persoalan tersebut mulai mengancam perdamaian sosial di Suriah.
Kenaikan biaya bahan bakar sudah berdampak pada transportasi. Para sopir taksi menaikkan tarif, sementara perselisihan dengan penumpang mulai muncul akibat harga baru.
Menjelang musim dingin, biaya pemanasan rumah juga kemungkinan menjadi sumber tekanan baru. Banyak warga Suriah bergantung pada mazut, bahan bakar minyak berat yang digunakan untuk menghangatkan rumah.
Yassin-Kassab mengatakan protes tersebut menunjukkan bahwa kesulitan ekonomi pemerintah dapat berkembang menjadi persoalan politik yang jauh lebih besar, terutama ketika masyarakat Suriah semakin tidak bersedia menerima memburuknya kondisi kehidupan sambil menunggu pembangunan kembali infrastruktur dasar negara.
Bagi pemerintahan yang masih berusaha menstabilkan negara setelah lebih dari satu dekade perang, protes tersebut menjadi peringatan bahwa ketidakpuasan ekonomi dapat dengan cepat berubah menjadi persoalan politik.
Seperti dikatakan Yassin-Kassab, kondisi ekonomi berpotensi "menggagalkan transisi pasca-Assad."








