Israel Kuasai Gunung Hermon Suriah, Mengapa Negara-negara Arab Murka?
Ketika perhatian dunia masih tertuju pada perang Rusia-Ukraina dan kemajuan pesat kelompok Houthi di Yaman, Israel diam-diam terus mengonsolidasikan wilayah yang berhasil dikuasainya di Suriah.
Pada 9 September, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi perbatasan Suriah dan juga meninjau puncak Gunung Hermon di Suriah bagian selatan. Dalam kunjungan tersebut, Netanyahu mengatakan, "Israel tidak akan membiarkan pasukan teroris mana pun membangun kekuatannya di perbatasan kami, dan ini merupakan salah satu pencapaian terbesar kami dalam perang.”
Baca Juga: Unit 4000 IRGC Iran Dituduh Targetkan Tanjung Priok, Ahlubait Indonesia Pertanyakan Pengaitan Ketua Umumnya
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz dan Wakil Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Mayor Jenderal Tamir Yadai turut mendampingi Netanyahu.
Pernyataan Netanyahu mengenai “pasukan teroris” diduga merupakan rujukan terselubung terhadap Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), kelompok yang dipimpin Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, yang sebelumnya pernah menjadi anggota jaringan al-Qaeda.Netanyahu juga mengatakan Israel sangat dekat dengan “runtuhnya rezim” di Iran.
“Kami berkomitmen untuk mengalahkan rezim teror di Iran—dan kami akan melakukannya,” kata Netanyahu ketika memandang wilayah Suriah dari puncak Gunung Hermon. Dia menambahkan, “Seluruh poros akan jatuh untuk selamanya.”
Netanyahu lebih lanjut mengatakan Israel kini menguasai seluruh wilayah dari Gunung Hermon hingga Laut Mediterania. “Kontrol mutlak yang belum pernah terjadi sebelumnya," katanya.
Menekankan pentingnya kendali Israel atas Gunung Hermon, Netanyahu mengatakan: “Menjelang Rosh Hashanah, kami berada di puncak Gunung Hermon. Damaskus berada tepat di sini, Lebanon berada di sana, Dataran Tinggi Golan Suriah juga berada di sana, dan kami menguasai seluruh wilayah dari Mahkota Hermon hingga Sungai Yarmouk, dan dari sini hingga Laut Mediterania.”
Kunjungan Netanyahu bersama menteri pertahanannya merupakan pesan yang jelas kepada Suriah dan Turki bahwa Israel akan tetap berada di wilayah tersebut. Kunjungan itu juga menunjukkan bahwa wilayah Suriah yang diduduki IDF setelah runtuhnya pemerintahan Bashar Al-Assad dalam kekacauan akan tetap berada di bawah kendali Israel.Menteri Pertahanan Katz juga secara langsung menyampaikan pesan kepada Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa. Dia mengatakan militer Israel akan mempertahankan kehadirannya di zona yang disebut sebagai “zona keamanan” dan tidak akan menarik diri dari wilayah tersebut.
Negara-Negara Arab Murka
Sejumlah pemerintah Arab mengecam kunjungan Netanyahu ke puncak Gunung Hermon, termasuk Suriah, Kuwait, dan Qatar.Kementerian Luar Negeri Suriah menyebut kunjungan tersebut sebagai tindakan “ilegal” dan “provokatif”.
Kuwait menyebutnya sebagai “masuk secara ilegal ke Gunung Hermon, Suriah” dan meminta Dewan Keamanan PBB mengambil tindakan untuk menghentikan serangan terhadap kedaulatan negara Arab tersebut.
Kementerian Luar Negeri Yordania juga menyebut kunjungan itu sebagai “pelanggaran mencolok” terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Suriah serta “pelanggaran terang-terangan” terhadap hukum internasional.
Sementara itu, Qatar menyebut kunjungan tersebut sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Republik Arab Suriah yang bersaudara, pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional, dan ancaman serius terhadap keamanan regional.”
Tidak lazim bagi negara-negara Arab dengan karakter berbeda seperti Yordania, Kuwait, dan Qatar untuk secara bersamaan mengeluarkan pernyataan mengecam Israel sekaligus mendukung Suriah. Hal ini semakin menarik karena Israel telah menguasai wilayah Suriah, termasuk Dataran Tinggi Golan, setidaknya sejak perang 1967.
Lantas, mengapa kunjungan Netanyahu ke Gunung Hermon memicu reaksi keras dari sejumlah negara Arab? Jawabannya tampaknya terletak pada arti penting strategis kawasan pegunungan tersebut.
Pentingnya Gunung Hermon Secara Strategis
Pada 8 Desember 2024, pemerintahan Bashar Al-Assad runtuh setelah lebih dari satu dekade perang saudara Suriah.Sehari kemudian, Israel bergerak cepat dengan melancarkan lebih dari 300 serangan udara terhadap berbagai fasilitas militer utama Suriah. Serangan tersebut menghancurkan sejumlah peralatan militer penting Suriah, termasuk jet tempur, helikopter, kendaraan lapis baja, senjata, dan amunisi.
Nasib Pria Kosovo: Jadi Mata-mata CIA hingga Menyusup ke al-Qaeda, tapi Kini Bakal Diusir AS
Pada saat yang sama, pasukan darat Israel bergerak lebih jauh dari Dataran Tinggi Golan menuju bekas zona penyangga PBB, termasuk kawasan Gunung Hermon.
Militer Israel menduduki sisi Suriah dari rangkaian pegunungan Hermon serta sejumlah titik strategis lainnya untuk memperluas zona penyangga di sepanjang perbatasan dengan Suriah, menurut laporan The Jerusalem Post pada 9 Desember.
Gunung Hermon, yang juga dikenal sebagai Jabal Al-Sheikh, merupakan salah satu gunung terpenting di Suriah dan terletak di perbatasan antara Suriah dan Lebanon.
Pendudukan Gunung Hermon oleh IDF menjadi kemenangan strategis bagi Israel. Langkah tersebut memperkuat kendali Israel bukan hanya terhadap wilayah Suriah hingga mendekati Damaskus, tetapi juga memberikan keuntungan strategis terhadap Lebanon.
Selain itu, lokasi tersebut dapat membantu Israel memperkuat sistem pertahanan udara berlapisnya.
Kapal Induk Nuklir George Washington AS Sudah Tiba di Timur Tengah untuk Perang Melawan Iran
Rangkaian Gunung Hermon memiliki empat puncak utama. Puncak tertingginya mencapai 2.814 meter, sementara tiga puncak lainnya masing-masing berada pada ketinggian 2.294 meter, 2.236 meter, dan 2.145 meter.Pegunungan tinggi tersebut bukan hanya menjadi batas alami antara Lebanon dan Suriah. Puncaknya juga dapat terlihat dari Israel, Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, serta Yordania. Kondisi ini menjadikannya memiliki arti geografis dan strategis yang luar biasa.
Di Israel, puncak tersebut juga dikenal sebagai “mata bangsa” karena arti pentingnya bagi sistem peringatan dini dan pengawasan Israel.
Ketinggian pegunungan memungkinkan Israel memantau wilayah yang sangat luas, termasuk bagian Lebanon, Suriah, dan Yordania. Setiap peluncuran roket atau rudal dari wilayah tersebut menuju Israel akan lebih mudah dideteksi oleh radar pertahanan udara yang ditempatkan di kawasan itu.
Pakar urusan strategis Alaa Al-Asfari mengatakan kepada BBC bahwa Gunung Hermon merupakan titik tertinggi di Suriah sehingga menjadi pos militer penting untuk memantau seluruh kawasan.
Menurut Al-Asfari, Israel ingin membangun “zona aman” dengan menguasai wilayah yang membentang dari Quneitra hingga pinggiran Damaskus. Kehadiran Israel di kawasan tersebut akan memungkinkan pemasangan radar canggih, kamera, dan berbagai peralatan pengawasan lainnya sehingga Israel dapat terus memantau seluruh wilayah.
Selain itu, pegunungan tersebut secara tradisional berfungsi sebagai perisai pertahanan Suriah di bagian selatan. Jika Gunung Hermon berada di bawah kendali Israel, kawasan itu kini dapat berfungsi sebagai perisai pertahanan Israel di bagian utara sekaligus membuat wilayah Suriah yang sangat luas menjadi rentan.
Kawasan tersebut secara tradisional juga menjadi jalur penyelundupan senjata dari Iran dan Suriah menuju Lebanon.
Naftali Hazony, mantan pilot F-16 Israel, memberikan gambaran mengenai arti penting perebutan Gunung Hermon oleh Israel. Menurut Hazony, manuver strategis tersebut telah mengubah keseimbangan keamanan regional dan memberikan keuntungan penting bagi Israel atas lawan-lawannya.“Israel telah menaklukkan Gunung Hermon, gunung tertinggi di Suriah, dengan puncaknya mencapai 2.814 meter. Ibu kota Suriah, Damaskus, hanya berjarak 40 kilometer dan kini berada dalam jangkauan artileri Israel," paparnya, seperti dikutip EurAsian Times, Senin (14/9/2026).
“Selama beberapa dekade, pertahanan Israel di utara dibayangi oleh Gunung Hermon di Suriah. Tidak lagi. Benteng alam paling penting di kawasan ini kini berada di tangan Israel. Israel melakukannya secara diam-diam, bergerak menuju posisi-posisi Suriah yang telah ditinggalkan dan mengambilnya tanpa perlawanan,” imbuh dia.
Hazony menjelaskan bahwa posisi Gunung Hermon yang sangat dominan selama ini menciptakan titik buta dalam cakupan radar Israel terhadap Suriah dan Lebanon. Namun, setelah puncak tersebut berada di bawah kendali Israel, sistem radar Israel dapat mencakup wilayah yang jauh lebih luas.
“Setelah ditempatkan di Gunung Hermon, radar Israel akan dapat melihat jauh ke wilayah Suriah dan Lebanon, memberikan peringatan dini terhadap jet yang terbang rendah dan drone yang masuk. Intelijen Israel juga dapat memanfaatkan puncak tersebut dengan menempatkan sensor untuk melakukan pengawasan dan menyadap komunikasi musuh," lanjut dia.
“Pegunungan tersebut juga menyediakan perlindungan yang sempurna bagi pasukan khusus dan mata-mata Israel, yang kini dapat memasuki Suriah dengan lebih leluasa dan menjalankan misi di bawah lindungan kegelapan,” kata Hazony.
“Baik ISIS, HTS, Iran, maupun Hizbullah, pasukan yang bermusuhan dan bergerak menuju Israel kini akan terbuka dan berada di bawah ancaman drone Israel, rudal permukaan-ke-permukaan, serta bom berpemandu laser. Warga Israel di bagian utara dapat tidur lebih tenang karena Israel menguasai puncak ini.”
Namun, di Suriah muncul kekhawatiran bahwa karena arti penting strategis Gunung Hermon, Israel akan berusaha mempertahankannya secara permanen. Kondisinya dapat menyerupai Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel pada 1967 selama Perang Enam Hari dan tidak pernah ditinggalkan hingga sekarang.
Kunjungan Netanyahu secara jelas menunjukkan bahwa Israel akan berupaya memperluas kendalinya atas kawasan tersebut secara permanen. Hal itulah yang mungkin menjelaskan reaksi keras dari sebagian besar negara Arab.








