Jika Iran Ingin Memiliki Senjata Nuklir, Pezeshkian: Kita Tidak Akan Bergabung dengan NPT
Presiden Masoud Pezeshkian menepis klaim bahwa Iran sedang mengupayakan kepemilikan senjata nuklir. Ia menegaskan bahwa Teheran secara konsisten beroperasi sesuai hukum internasional dan tidak akan bergabung dengan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) jika memang berniat mengembangkan senjata semacam itu.
Dalam wawancara dengan India Today di sela-sela KTT BRICS di New Delhi, Pezeshkian menyatakan bahwa kegiatan nuklir Iran telah tunduk pada pengawasan dan inspeksi internasional yang ekstensif.
"Kami bersikap terbuka, dan mereka datang setiap hari untuk melakukan inspeksi serta kunjungan. Kami bekerja dan terus bekerja dalam kerangka hukum internasional. Jika kami mengincar senjata nuklir, kami tidak akan menjadi anggota NPT," ujarnya.
Nasib Pria Kosovo: Jadi Mata-mata CIA hingga Menyusup ke al-Qaeda, tapi Kini Bakal Diusir AS
Presiden tersebut mengatakan bahwa tuduhan terkait program nuklir Iran digunakan sebagai "dalih" untuk membenarkan agresi terhadap negaranya.
Pezeshkian juga membantah klaim bahwa Iran memicu perang yang sedang berlangsung; ia menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Israel-lah yang memulai perang tersebut, sementara Teheran hanya melakukan pembelaan diri terhadap serangan."Kami tidak memulai perang. Amerika Serikat dan Israel yang kriminal itulah yang memulainya," tegasnya.
Ia menyoroti bahwa serangan AS-Israel telah menewaskan para pemimpin dan komandan Iran, anak-anak sekolah, serta ilmuwan, sekaligus menghancurkan infrastruktur. Ia menyebut tindakan semacam itu tidak sejalan dengan hukum internasional maupun hukum kemanusiaan.
Meskipun menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perang, Pezeshkian menyatakan bahwa negaranya juga tidak akan menyerah di bawah sanksi atau tekanan, termasuk pembatasan yang berdampak pada pasokan pangan dan obat-obatan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menekankan pentingnya penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan antaranggota BRICS, seraya mencatat bahwa keamanan ekonomi merupakan bagian integral dari keamanan nasional dan regional. Terkait hubungan regional, Presiden menyatakan bahwa Iran menjalin hubungan bersahabat dengan negara-negara tetangga—termasuk Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Pakistan, dan Qatar—serta dengan Rusia dan Tiongkok. Ia menyebut keberadaan pangkalan militer AS di kawasan tersebut sebagai sumber utama permasalahan.Beralih ke topik BRICS, Pezeshkian mengatakan bahwa blok tersebut dapat membantu negara-negara dalam menghadapi sanksi sepihak dan mengurangi ketergantungan pada sistem di mana satu negara dapat memaksakan pembatasan terhadap negara lain.
"Kita berkumpul di sini untuk saling membantu, mencari jalan keluar, dan saling mendukung agar kita dapat melawan totalitarianisme serta unilateralisme ini," ujarnya.
Ia menyatakan bahwa Iran siap untuk menghidupkan kembali potensi geopolitiknya sebagai pusat transportasi dan konektivitas yang menghubungkan wilayah utara dengan selatan serta timur dengan barat.
"Kami sepenuhnya siap untuk menghidupkan kembali jalur ini dan bekerja sama," tambahnya.
KTT Pemimpin BRICS ke-18 diselenggarakan di New Delhi pada tanggal 12-13 September dengan mengusung tema "Membangun Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan."
Awalnya beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, BRICS melakukan perluasan pada tahun 2024 dengan memasukkan Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi, sementara Indonesia akan bergabung pada tahun 2025. Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam telah menjadi negara mitra sejak tahun lalu.










