Djarum Jawab Pemberitaan Pemindahan Rp24,6 Triliun ke Luar Negeri: Itu Diversifikasi, Lebih 90 Bisnis di Indonesia

Djarum Jawab Pemberitaan Pemindahan Rp24,6 Triliun ke Luar Negeri: Itu Diversifikasi, Lebih 90 Bisnis di Indonesia

Global | sindonews | Sabtu, 12 September 2026 - 09:15
share

PT Djarum telah mengonfirmasi laporan Bloomberg yang menyebut keluarga Hartono memindahkan dana senilai USD1,4 miliar sekitar Rp24,6 triliun (kurs Rp17.607/USD) ke luar negeri. Djarum menegaskan langkah itu sebagai diversifikasi bisnis untuk memperkuat rantai pasok khususnya industri rokoknya.

"Jadi, Djarum mengakuisisi pabrik kertas untuk rokok, diversifikasi bisnis," kata Manager Corporate Communications Djarum Budi Darmawan dalam wawancara telepon dengan Sindonews, Sabtu (12/9/2026).

Baca Juga: Media AS: Keluarga Terkaya di Indonesia Pindahkan Rp24,6 Triliun ke Luar Negeri

Budi mengklarifikasi klaim Bloomberg soal investasi keluarga Hartono ke luar negeri terkit kondisi ekonomi di Indonesia. "Begini, jika dicermati timeline-nya, akuisisi tersebut mulai dilakukan tahun 2023. Itu era Presiden Joko Widodo (Jokowi)," jelasnya. "Itu juga dilakukan dengan pembiayaan asing."

Dia menegaskan bahwa bisnis keluarga Hartono berkomitmen untuk terus berkontribusi membangun perekonomian Indonesia, yang memang menjadi cita-cita pemilik Djarum. "Lebih dari 90 persen aset dan bisnisnya berada di Indonesia. Owner ingin ikut membangun kesejahteraan dan kemakmuran negara ini.

Sebelumnya, laporan dari Bloomberg menyebutkan bahwa keluarga Hartono yang digambarkan sebagai keluarga terkaya di Indonesia diam-diam melalukan sesuatu yang jarang mereka lakukan, yakni investasi di luar negeri. Menurut laporan itu, jumlahnya USD1,4 miliar.Laporan media keuangan asal Amerika Serikat (AS) itu merinci kronologi investasi keluarga miliarder tersebut di luar negeri. Ini dimulai pada akhir 2023. Melalui Evergreen Hill Enterprise Pte Ltd, kelompok usaha yang terhubung dengan keluarga tersebut mengeluarkan USD669 juta untuk membeli bisnis khusus produk kertas di Amerika Serikat. Sekitar setahun kemudian, Evergreen kembali melakukan akuisisi. Kali ini, perusahaan tersebut membayar €360 juta atau sekitar USD418 juta untuk membeli produsen kertas rokok di Austria.

Namun, dua transaksi itu bukan keseluruhan investasi keluarga Hartono di luar negeri. Berdasarkan dokumen perusahaan dan informasi dari orang-orang yang mengetahui aktivitas kelompok tersebut, sekitar sembilan entitas di Singapura dan London yang terkait dengan keluarga Hartono telah menginvestasikan sedikitnya USD1,4 miliar di luar negeri.

Investasi tersebut masih berlanjut. Kelompok Hartono antara lain menanamkan modal pada perusahaan perangkat lunak jasa keuangan di Singapura dan disebut tengah mempertimbangkan transaksi lainnya. Dengan demikian, USD1,4 miliar tersebut lebih tepat dipahami sebagai nilai investasi luar negeri yang dilakukan melalui berbagai entitas terkait keluarga Hartono, bukan semata-mata uang tunai yang dipindahkan dari Indonesia.

Menurut orang-orang yang mengetahui strategi tersebut, langkah ini dilakukan untuk mendiversifikasi sumber pendapatan ke mata uang lain di tengah ketidakpastian ekonomi Indonesia.

Keluarga Hartono bukan satu-satunya konglomerat Indonesia yang memperluas investasi ke luar negeri. Miliarder Alex Ramlie, misalnya, melalui perusahaannya pada Mei menyepakati pembelian aset tambang batu bara di Australia senilai USD3,9 miliar.

Sementara itu, perusahaan yang dikendalikan Prajogo Pangestu, orang terkaya kedua di Indonesia, pada Juli mengajukan tawaran USD5 miliar untuk mengakuisisi perusahaan panas bumi di Filipina.

“Meningkatnya peran pemerintah dalam perekonomian telah memicu ketidakpastian di sejumlah sektor paling penting di negara ini,” kata Laura Schwartz, analis senior Asia di perusahaan intelijen risiko Verisk Maplecroft. “Pendekatan pemerintahan yang tidak konsisten terhadap para pemimpin bisnis Indonesia tidak membuat kegelisahan investor mereda,” ujarnya.

Topik Menarik