Bumi Mengalami Suhu Terpanas dalam 100.000 Tahun Terakhir
Suhu global mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada bulan Agustus, dengan suhu rata-rata dunia sebesar 16,96°C, menurut Copernicus Climate Change Service milik Uni Eropa. Eropa Barat mengalami musim panas terpanas yang pernah tercatat, saat gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan melanda wilayah tersebut.
Bulan Agustus 2026 tercatat 1,65°C lebih panas dibandingkan rata-rata suhu periode 1850-1900—periode yang umum digunakan sebagai tolok ukur suhu sebelum pemanasan akibat industri berskala besar—demikian disampaikan Copernicus pada hari Kamis (10/9/2026).
Ini adalah bulan Agustus terpanas dalam catatan sejak tahun 1940 dan secara efektif menyamai rekor suhu bulanan tertinggi sebelumnya yang terjadi pada Juli 2023, dengan selisih kurang dari 0,01°C di antara keduanya.
Kapal Induk Nuklir George Washington AS Sudah Tiba di Timur Tengah untuk Perang Melawan Iran
"Manusia belum pernah mengalami suhu sepanas saat ini setidaknya dalam 100.000 tahun terakhir," ujar Samantha Burgess dari European Center for Medium-Range Weather Forecasts, lembaga yang mengelola Copernicus, kepada AFP. Catatan Copernicus dimulai sejak tahun 1940. Para ilmuwan menggunakan berbagai bukti, termasuk inti es, lingkaran tahun pada pohon, dan terumbu karang, untuk merekonstruksi suhu pada masa yang lebih lampau.
Rekor ini terjadi setelah musim panas yang sangat terik di seluruh Eropa Barat. Prancis, Inggris, dan Belgia semuanya mencatat musim panas terpanas mereka.
Prancis mengalami 53 hari gelombang panas dan curah hujan yang hampir 40 lebih rendah dari biasanya, menjadikannya musim panas terkering kedua di negara itu sejak tahun 1959.
Suhu panas ekstrem ini juga memicu lonjakan angka kematian. Prancis mencatat perkiraan 5.764 kematian tambahan akibat berbagai penyebab selama gelombang panas pada 17 Juni hingga 2 Juli—angka yang 36 di atas tingkat kematian yang diperkirakan di wilayah-wilayah terdampak, menurut Santé Publique France.
Sebanyak 1.243 kematian tambahan lainnya tercatat selama periode gelombang panas pada 3 hingga 22 Juli.Kombinasi suhu yang sangat panas dan minimnya curah hujan berdampak buruk pada tanaman pangan dan transportasi.
Panen biji-bijian Jerman diperkirakan turun 7,3 dibandingkan tahun sebelumnya akibat suhu panas dan kekeringan, sementara penurunan permukaan air di sungai-sungai utama, termasuk Sungai Rhine, mengganggu aktivitas pelayaran.
Prancis mengumumkan bantuan darurat senilai lebih dari 1 miliar euro (USD1,16 miliar) bagi para petani karena puluhan ribu pertanian menghadapi kesulitan keuangan.
Vegetasi yang kering memicu kebakaran hutan dan lahan di seluruh benua tersebut. Menurut Joint Research Center milik Komisi Eropa, lebih dari 647.000 hektare lahan di Uni Eropa telah hangus terbakar hingga awal September—angka yang hampir dua kali lipat dari rata-rata selama 20 tahun untuk periode musim tersebut.
Suhu permukaan laut di wilayah di luar kawasan kutub mencapai rekor tertinggi bulanan yang setara dengan rekor sebelumnya, melanjutkan tren suhu panas ekstrem yang telah berlangsung selama tiga bulan berturut-turut. Para ilmuwan mengaitkan tren pemanasan jangka panjang ini terutama dengan emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia, sementara fenomena alam seperti El Niño dapat semakin meningkatkan suhu dalam jangka pendek.
Kepala bidang iklim PBB, Simon Stiell, menyebut rekor terbaru ini sebagai "harga yang terus melonjak akibat kecanduan umat manusia terhadap bahan bakar fosil," seraya memperingatkan suhu panas ekstrem akan terus terjadi selama batu bara, minyak, dan gas masih dibakar.
Saat ini, pemanasan global jangka panjang telah mencapai sekitar 1,4°C di atas tingkat pra-industri.
Baca juga: 5 Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB Bentrok Soal Mekanisme Sanksi Iran










