Bursa Saham 'Kebakaran', Kekayaan 5 Taipan Indonesia Lenyap Rp1.033 Triliun

Bursa Saham 'Kebakaran', Kekayaan 5 Taipan Indonesia Lenyap Rp1.033 Triliun

Ekonomi | sindonews | Selasa, 27 Oktober 2026 - 22:02
share

Kekayaan lima taipan Indonesia dan anggota keluarganya tergerus USD57 miliar atau setara Rp1.033 triliun sejak MSCI Inc. pertama kali memperingatkan kemungkinan penurunan status pasar ekuitas Indonesia pada Januari 2026. Berdasarkan Bloomberg Billionaires Index, kekayaan gabungan mereka tercatat USD71,6 miliar per 22 Oktober sehingga seluruh pertumbuhan harta yang diraih dalam empat tahun terakhir lenyap.

"Sebagian besar kekayaan mereka ada di atas kertas," kata dosen keuangan kampus Deakin-Lancaster Indonesia, Layenda Kresna Bramanta seperti dikutip dari The Asia Business Daily, Selasa (27/10/2026).

Baca Juga:Prabowo Kirim Pesan ke MSCI: Indonesia Tidak Takut Siapapun!

Ia menilai penurunan tersebut mencerminkan sensitivitas nilai saham pengendali perusahaan besar terhadap sentimen pasar dan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi. Prajogo Pangestu, pendiri perusahaan petrokimia Barito Pacific, mencatat kerugian terbesar.

Kekayaannya anjlok lebih dari 60 sejak 27 Januari, meski ia masih menempati posisi orang terkaya kedua di Indonesia dengan kekayaan sekitar USD15 miliar. Pemegang saham pengendali Djarum Group sekaligus pemegang saham besar Bank Central Asia, Budi Hartono, kehilangan lebih dari USD5 miliar atau 31 dari total kekayaannya. Anggota keluarga Hartono lainnya juga kehilangan sekitar USD5 miliar, sementara taipan batu bara Low Tuck Kwong kehilangan 54 kekayaan hingga tersisa sekitar USD10 miliar. Penurunan kekayaan Low terjadi setelah ia dan putrinya menjual sekitar 30 kepemilikan di Bayan Resources pada bulan ini dengan harga lebih dari 80 di bawah penutupan sehari sebelumnya. Sementara itu, indeks saham utama Indonesia, IHSG, tercatat turun 38 sepanjang tahun ini, performa terburuk dibandingkan lebih dari 90 indeks yang dipantau Bloomberg.

Tekanan membesar setelah MSCI pada 15 Oktober menyatakan klasifikasi Indonesia sebagai pasar berkembang atau emerging market "tidak lagi sesuai" dan mengusulkan pemindahan statusnya menjadi standalone market. Status tersebut berpotensi mengeluarkan saham Indonesia dari indeks global yang diikuti dana pasif bernilai miliaran dolar.

Usulan itu memicu aksi jual masif pada 16 Oktober. IHSG merosot hampir 12, penurunan harian terbesar sejak Januari 1998, sehingga perdagangan sempat dihentikan selama 30 menit dan nilai kapitalisasi pasar menguap sekitar USD65 miliar.

Baca Juga:IHSG Babak Belur Dihantam MSCI, Hari Ini Merosot 3,64 ke 4.996

MSCI membuka konsultasi publik hingga 30 April 2027 dan akan mengumumkan keputusan akhir paling lambat 30 Juni 2027. Pemerintah dan Bursa Efek Indonesia (BEI) kemudian memperkuat langkah pengawasan terhadap praktik manipulasi saham pada 26 Oktober, meski para analis masih mempertanyakan apakah langkah itu cukup menjawab kekhawatiran MSCI.

Topik Menarik