Minyak Jelantah Jadi Bioavtur, Wapres: Kegiatan Sederhana dari Rumah Berdampak Luas
JAKARTA – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengunjungi Kilang Cilacap milik PT Pertamina Patra Niaga. Dalam kunjungan tersebut, Gibran meninjau langsung proses pengolahan minyak jelantah menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF), yang dikenal sebagai bioavtur.
Gibran mengapresiasi keterlibatan masyarakat, khususnya ibu-ibu dan komunitas setempat, dalam mengelola minyak jelantah. Menurutnya, inisiatif yang dimulai dari lingkungan rumah tangga tersebut menunjukkan bahwa upaya menjaga kebersihan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan penciptaan nilai ekonomi.
“Saya mengapresiasi peran ibu-ibu dan komunitas di Cilacap yang telah berkontribusi dalam pengelolaan minyak jelantah. Ini menunjukkan bahwa kegiatan sederhana yang dimulai dari rumah bisa terhubung dengan inovasi energi nasional dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tuturnya, Selasa (27/10/2026).
IHSG Awal Pekan Masih Rawan Terkoreksi Uji Area 6.157-6.209, Simak Analisa 4 Saham Berikut
Pengumpulan minyak jelantah memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekaligus membantu mengurangi risiko pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah secara sembarangan. Minyak jelantah juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku produksi SAF.
Ketua Bank Sampah Cahaya Asri, Rumdani Prapti Sumiwi, mengatakan bahwa kegiatan pengumpulan minyak jelantah awalnya dikembangkan untuk mengatasi persoalan lingkungan di Kelurahan Tegal Kamulyan, Cilacap.
“Kami awalnya tidak mengetahui minyak jelantah bisa dimanfaatkan untuk apa. Setelah mendapat penjelasan dari Pertamina Patra Niaga bahwa minyak jelantah memiliki nilai jual, kami semakin semangat mengumpulkannya. Alhamdulillah, lingkungan menjadi lebih bersih, minyak jelantah tidak berserakan, ekonomi kelompok juga meningkat, dan jumlah nasabah kami semakin banyak,” ujar Rumdani.
Bank Sampah Cahaya Asri melibatkan berbagai kelompok masyarakat dalam pengumpulan minyak jelantah. Warga dapat menukarkan minyak jelantah yang terkumpul dengan uang atau kebutuhan pangan, seperti telur.
Melalui kegiatan tersebut, Bank Sampah Cahaya Asri mampu mengumpulkan sekitar 50–60 kilogram minyak jelantah setiap bulan. Minyak yang terkumpul kemudian disalurkan melalui mitra pengumpul.
Kegiatan serupa dilakukan Bank Sampah Abhipraya di Kelurahan Kutawaru, Cilacap. Ketua Bank Sampah Abhipraya, Herry Yanto, menjelaskan bahwa kelompoknya telah melakukan pemilahan sampah sejak 2019 sebelum mengembangkan pengumpulan minyak jelantah melalui program pembinaan Pertamina Patra Niaga.
“Dulu minyak jelantah hanya dibuang, tetapi sekarang masyarakat bisa mengumpulkannya dan mendapatkan penghasilan. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pertamina Patra Niaga karena anggota kami telah mendapatkan edukasi, pembinaan, dan fasilitasi yang sangat membantu perkembangan bank sampah,” kata Herry.
Sementara itu, Direktur Bank Sampah Beo Asri, Sri Widowati, mengatakan bahwa kelompoknya telah mengelola sampah rumah tangga sejak 2012. Pada 2023, Bank Sampah Beo Asri mulai memperluas kegiatannya dengan mengumpulkan minyak jelantah yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Sri menjelaskan bahwa Pertamina Patra Niaga memberikan pembinaan, pelatihan, serta bantuan sarana dan prasarana untuk memperkuat kapasitas kelompok.
“Kami sangat berterima kasih karena Pertamina Patra Niaga tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga perhatian dan pembinaan kepada kami. Harapan kami, dukungan ini dapat terus berlanjut sehingga bank sampah dapat semakin berkembang dan meningkatkan kesejahteraan anggota serta warga di lingkungan kami,” ujar Sri.
Selain mengumpulkan minyak jelantah, Bank Sampah Beo Asri mengolah sampah plastik dan memanfaatkan sisa palet untuk membuat berbagai produk, seperti kursi, meja, dan rak.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan bahwa pengelolaan minyak jelantah membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, pendampingan berkelanjutan, serta akses penyaluran hasil pengumpulan yang memadai.
“Pengelolaan minyak jelantah membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, pendampingan yang berkelanjutan, serta terbukanya akses penyaluran hasil pengumpulan. Melalui kolaborasi tersebut, limbah rumah tangga dapat dikelola secara lebih bertanggung jawab dan memiliki nilai guna yang lebih besar,” pungkas Kitty.








