Perbandingan Kekuatan Militer Arab Saudi vs Houthi: Mengapa Raksasa Militer Sulit Taklukkan Pasukan Gerilya?
Kerajaan Arab Saudi memiliki salah satu angkatan bersenjata dengan persenjataan paling modern di Timur Tengah. Di sisi lain, Houthi Yaman hanyalah kelompok bersenjata non-negara yang tidak memiliki Angkatan Udara konvensional, armada kapal perang besar, maupun tank dalam jumlah sebanding.
Namun, perang selama lebih dari satu dekade menunjukkan satu paradoks—raksasa militer Riyadh tidak otomatis mampu menghancurkan kekuatan milisi pro-Iran di Yaman.
Baca Juga: Houthi Warning Negara-negara Lain: Jangan Gabung Arab Saudi dalam Perang Saudara Yaman!
Perbandingan Kekuatan Militer Arab Saudi vs Houthi Yaman
Anggaran Militer
Militer Kerajaan Arab Saudi jelas unggul telak dalam hal angka, terutama soal anggaran militer.Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Arab Saudi menghabiskan sekitar USD83,2 miliar untuk pertahanan pada 2025. Angka itu menempatkan Arab Saudi sebagai negara dengan belanja militer terbesar kedelapan di dunia.
Sebagai gambaran, angka tersebut lebih dari 200 kali estimasi anggaran pertahanan Yaman yang muncul dalam sejumlah basis data terbuka. Namun perbandingan anggaran antara Arab Saudi dan Houthi sebenarnya tidak sepenuhnya sepadan karena Houthi bukan negara dan tidak memiliki anggaran pertahanan resmi yang transparan.
Jumlah Personel Militer
Dari sisi personel, estimasi International Institute for Strategic Studies (IISS) yang digunakan dalam berbagai basis data pertahanan menempatkan kekuatan aktif militer Arab Saudi di kisaran 257.000 personel. Angka tersebut belum memasukkan seluruh struktur keamanan Saudi yang berada di luar angkatan bersenjata reguler.Sebaliknya, jumlah personel Houthi sangat sulit dipastikan. Perkiraan yang dikutip Reuters dan sejumlah lembaga internasional menyebut kekuatan Houthi dapat mencapai sekitar 350.000 orang pada 2024, meningkat tajam dibanding sekitar 30.000 orang pada 2015. Tetapi angka 350.000 personel Houthi tersebut merupakan estimasi luas dan tidak dapat diperlakukan sebagai jumlah pasukan aktif setara dengan data personel militer Saudi.
Houthi menggabungkan milisi, jaringan suku, pasukan lokal, mantan personel militer Yaman, serta struktur paramiliter. Karena itu, 350.000 personel bukan berarti 350.000 tentara Houthi siap tempur dalam satu waktu.
Kekuatan Udara
Perbedaan paling ekstrem terlihat dalam hal kekuatan udara.Basis data Global Firepower 2026 mencatat Arab Saudi memiliki sekitar 917 pesawat militer, termasuk 283 pesawat tempur, 81 pesawat serang, 49 pesawat angkut, 202 pesawat latih, 16 pesawat misi khusus, 22 tanker udara, serta sekitar 264 helikopter.
Sebaliknya, Houthi praktis tidak mempunyai Angkatan Udara konvensional. Kekuatan udara Houthi terutama terdiri dari drone, termasuk drone pengintai dan drone serang sekali pakai atau one-way attack UAV.
Di sinilah perang menjadi menarik. Saudi menggunakan pesawat tempur mahal untuk memburu sasaran di wilayah Yaman. Sedangkan Houthi dapat menggunakan drone yang jauh lebih murah untuk menyerang sasaran bernilai tinggi seperti instalasi minyak, pangkalan militer, kapal dan fasilitas infrastruktur.
IISS mencatat kemampuan produksi drone lokal Houthi termasuk yang paling maju dalam industri persenjataan kelompok tersebut. Drone seperti Sammad 3 diyakini diproduksi di Yaman, sementara sistem yang lebih kompleks masih bergantung pada teknologi dan komponen Iran.
Kekuataan Darat
Di darat, keunggulan militer Arab Saudi juga sangat besar.Global Firepower 2026 memperkirakan Arab Saudi memiliki sekitar 1.085 tank, 22.370 kendaraan lapis baja, 380 artileri swagerak, 557 artileri tarik, dan 327 peluncur roket bergerak.Untuk tank tempur utama, Saudi mengoperasikan keluarga M1 Abrams, termasuk sekitar 575 M1A2S.
Houthi tidak memiliki kekuatan lapis baja yang sebanding. Namun, persoalannya adalah perang di Yaman tidak berlangsung seperti perang konvensional antardua negara.
Tank Saudi sangat efektif dalam perang terbuka. Tetapi nilainya jauh berkurang ketika lawan menggunakan pegunungan, gua, permukiman, jaringan terowongan, penyamaran dan serangan rudal jarak jauh.
Kekuatan Laut
Arab Saudi juga memiliki keunggulan besar di laut. Global Firepower mencatat Saudi memiliki sekitar 32 kapal perang, termasuk 7 fregat, 9 korvet dan 3 kapal perang pemburu ranjau.Houthi tidak memiliki armada laut konvensional yang sebanding, dan—secara teori—mereka tidak perlu memilikinya.
Senjata utama Houthi di laut adalah rudal antikapal, drone udara, kapal permukaan tanpa awak atau USV, serta ranjau dan sistem serang lainnya.
IISS menyebut arsenal Houthi mencakup berbagai rudal balistik, rudal jelajah, rudal antikapal, rudal permukaan-ke-udara dan UAV.Dalam perang asimetris, sebuah kapal perang bernilai ratusan juta dolar tidak harus ditenggelamkan untuk menghasilkan efek strategis. Ancaman rudal atau drone saja dapat memaksa kapal mengubah rute, meningkatkan pengawalan atau menggunakan sistem pertahanan udara yang mahal.
Inilah salah satu bidang yang membuat Houthi jauh lebih berbahaya daripada ukuran organisasinya.
IISS menemukan bahwa Houthi memiliki berbagai kategori rudal. Sebagian rudal balistik jarak pendek dengan jangkauan hingga sekitar 200 kilometer kemungkinan dapat diproduksi di dalam negeri, meskipun komponen penting seperti sistem pemandu kemungkinan masih berasal dari Iran.
Untuk rudal balistik jarak menengah atau MRBM, situasinya berbeda. IISS menilai rudal seperti Palestine-1, Palestine-2 dan Zulfiqar terlalu kompleks untuk diproduksi sepenuhnya di Yaman dan kemungkinan besar dipasok langsung dari Iran atau berasal dari desain serta teknologi Iran.
Houthi juga memiliki rudal jelajah serang darat dan antikapal.
Menurut IISS, kemampuan produksi rudal jelajah Houthi jauh lebih terbatas. Sistem semacam itu dinilai masih sangat bergantung pada Iran, terutama karena membutuhkan mesin turbojet kecil dan pencari radar aktif yang kompleks.
Jadi, gambaran yang lebih tepat bukan bahwa “semua senjata Houthi dibuat Iran”, tetapi juga bukan bahwa “semua senjata Houthi buatan sendiri.”
Mengapa Arab Saudi Sulit Mengalahkan Houthi?
Jawabannya bukan karena Houthi lebih kuat daripada Arab Saudi. Secara konvensional, perbandingannya sangat timpang untuk Saudi.Masalahnya adalah jenis perang yang dihadapi Riyadh.1. Geografi Yaman
Kondisi geografi Yaman sangat menguntungkan perang gerilya Houthi. Pegunungan, lembah, gurun dan wilayah yang sulit dijangkau membuat peluncur rudal serta gudang senjata dapat disembunyikan.2. Serangan Udara Tak Efektif
Arab Saudi dapat menghancurkan gudang, kendaraan dan peluncur rudal melalui serangan udara. Tetapi untuk benar-benar menguasai wilayah yang dikuasai Houthi, dibutuhkan pasukan darat dalam jumlah besar yang harus bertempur dari desa ke desa dan gunung ke gunung.3. Houthi Tak Perlu Menang, Cukup Bertahan
Houthi tidak perlu memenangkan perang konvensional. Mereka hanya perlu bertahan, mempertahankan wilayah inti, menjaga kemampuan rudal dan drone, lalu membuat biaya perang bagi lawannya terus meningkat.4. Biaya Perang Arab Saudi Mahal
Terdapat ketimpangan biaya. Satu rudal pencegat atau senjata udara modern Arab Saudi dapat berharga jauh lebih mahal daripada drone Houthi yang hendak dihancurkannya. IISS mencatat negara-negara Teluk telah mengonsumsi dalam jumlah besar rudal pencegat dalam menghadapi ancaman rudal dan UAV selama konflik regional 2026.5. Houthi Punya Pengalaman Tempur
Houthi memiliki pengalaman tempur yang panjang. Mereka telah menghadapi militer Yaman, pasukan koalisi pimpinan Saudi, Uni Emirat Arab dan berbagai kelompok lokal.Bertahun-tahun perang membuat mereka beradaptasi terhadap serangan udara dan meningkatkan kemampuan rudal serta drone.
6. Dukungan Teknologi Iran
Dukungan Iran telah memperkecil kesenjangan teknologi yang dialami Houthi. IISS menilai arsenal Houthi masih bergantung pada dukungan Iran, terutama untuk sistem yang lebih kompleks.Namun pada saat yang sama Houthi telah membangun kemampuan produksi lokal untuk sejumlah rudal dan UAV.









