Turki Siap Bantu Pertahanan Saudi, Ujian Pertama Pakta Mekkah?
Turki menyatakan siap membantu memenuhi kebutuhan militer Arab Saudi saat Riyadh menghadapi peningkatan serangan dari kelompok Houthi Yaman; situasi ini berpotensi menjadi ujian besar pertama bagi pakta pertahanan Mekkah yang baru saja ditandatangani.
Bulan lalu, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menandatangani Kesepakatan Pertahanan Bersama Mekkah, yang menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara anggota tersebut dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya, di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Turki Siap Bantu Pertahanan Saudi, Ujian Pertama Pakta Mekkah?
1. Saudi Perlu Bantuan Turki
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan bahwa Arab Saudi mungkin memerlukan bantuan militer, khususnya terkait "masalah teknis", dan Ankara tidak keberatan untuk menyediakannya.Terinspirasi ISIS, Wanita Ini Hendak Mengebom Gedung Capitol New York saat Para Senator Rapat
Pernyataan tersebut muncul seiring dengan semakin seringnya serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) Houthi yang menyasar kota-kota, infrastruktur energi, dan jalur pelayaran Arab Saudi, sehingga membuka front baru dalam konflik regional yang lebih luas yang bermula dari perang AS-Israel melawan Iran pada bulan Februari. Eskalasi ini juga meningkatkan risiko terkait pasokan energi global, seiring kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran memperketat kendali mereka atas Laut Merah—jalur yang selama ini digunakan sebagai rute alternatif bagi ekspor minyak Arab Saudi di tengah blokade Selat Hormuz.
Lantas, apa makna tawaran Turki dalam praktiknya, dan akankah pakta pertahanan tersebut memicu keterlibatan militer dari negara-negara anggotanya?
2. Turki Bantu Kedaulatan Saudi
Saat berbicara kepada media Turki pada hari Sabtu, Menteri Luar Negeri Hakan Fidan menyatakan bahwa Arab Saudi mungkin memiliki kebutuhan militer akibat serangan Houthi yang terus berlanjut, dan bahwa Ankara siap memberikan bantuan berdasarkan perjanjian pertahanan dengan Riyadh serta Islamabad."Kami melihat adanya serangan yang sangat serius terhadap integritas wilayah dan kedaulatan Arab Saudi," ujar Fidan kepada saluran penyiaran Turki, NTV.Ia mengatakan Arab Saudi "mungkin memiliki sejumlah kebutuhan militer, khususnya terkait aspek teknis tertentu," seraya menambahkan bahwa Turki "tidak keberatan untuk memenuhinya."
Fidan tidak merinci bantuan apa yang mungkin diberikan oleh Turki.
3. Siapkan Perang Besar Melawan Houthi
Turki, yang memiliki kekuatan militer terbesar kedua di NATO, telah mengecam serangan Houthi dan mendesak agar serangan tersebut segera dihentikan.Nawaf Obaid, seorang peneliti senior di King’s College London, mengatakan bahwa Arab Saudi dan sekutunya sedang menyusun respons militer terkoordinasi terhadap serangan Houthi baru-baru ini; ia berpendapat bahwa posisi Riyadh tidaklah seisolasi yang terlihat.
"Ada sebuah koalisi yang sedang terbentuk untuk menghadapi ancaman ini dan menentukan cara yang tepat dalam merespons tindakan kelompok Houthi," ujarnya kepada Al Jazeera.Obaid menyatakan bahwa respons tersebut "akan segera dilakukan," seraya menambahkan: "Langkah ini akan dilakukan secara bertahap, berskala besar, terintegrasi, serta melibatkan matra darat, laut, dan udara."
Analis tersebut menyebutkan bahwa sejumlah negara telah mulai memindahkan sistem persenjataan ke Arab Saudi dan mengerahkan jet tempur ke wilayah Laut Merah; ia mengidentifikasi Turki sebagai peserta kunci dan Mesir sebagai mitra potensial yang mungkin berperan dalam operasi yang lebih terbatas. Namun, Al Jazeera tidak dapat memverifikasi secara independen klaim yang disampaikan oleh Obaid.
4. Negara Lain Tak Ingin Terlibat Langsung
Sementara itu, Mohamad Elmasry, seorang profesor di Doha Institute for Graduate Studies, mengatakan bahwa "pihak Saudi berada dalam posisi yang agak sulit"."Mereka telah menghubungi berbagai sekutu. Para sekutu memang memberikan sejumlah dukungan—seperti dukungan logistik, intelijen, dan persenjataan—namun tampaknya pihak Pakistan, Turki, Mesir, Amerika Serikat, maupun pihak lainnya tidak ingin terlibat secara langsung dalam aksi militer kinetik," ujar Elmasry kepada Al Jazeera.
5. Ujian Pertama Pakta Mekkah
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan secara resmi menamai kesepakatan tersebut sebagai Aliansi Pertahanan Mekkah pada tanggal 31 Agustus, setelah para pejabat yang bertemu di Istanbul sepakat untuk membentuk sebuah sekretariat di Riyadh, yang pada awalnya akan dipimpin oleh seorang sekretaris jenderal dari Pakistan.Prinsip pendiriannya adalah bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara tersebut akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya – serupa dengan klausul pertahanan kolektif NATO.
Saat itu, Fidan mengatakan bahwa aliansi tersebut dibangun di atas prinsip "menghormati kedaulatan negara lain, integritas wilayah, dan tidak mencampuri urusan dalam negeri", serta tetap terbuka bagi negara-negara lain untuk bergabung.
Pakta trilateral ini disepakati di tengah meningkatnya kekhawatiran negara-negara Teluk akan terseret ke dalam perang yang lebih luas antara AS dan Iran, yang telah berlangsung selama lebih dari enam bulan sejak Washington dan Israel pertama kali menyerang Iran pada bulan Februari.
Pakta militer ini juga muncul di tengah kekhawatiran mengenai jangkauan militer Israel yang semakin meluas di Timur Tengah. Israel telah membom beberapa negara di kawasan tersebut, termasuk Qatar, sejak melancarkan perang genosida terhadap Gaza pada 7 Oktober 2023.





