Bos CIA Temui Presiden Mesir saat Perang Timur Tengah Memanas, Ada Apa?
Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat (AS), John Ratcliffe, tiba-tiba menemui Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi pada hari Minggu. Kunjungan bos intelijen Amerika yang jarang terjadi ke Kairo tersebut berlangsung di tengah peringatan Amerika mengenai eskalasi cepat dalam konflik di Timur Tengah.
Kantor Presiden Mesir telah mengonfirmasi pertemuan Ratcliffe dengan al-Sisi. Menurut kantor tersebut, pertemuan yang juga dihadiri oleh kepala intelijen Mesir, Hassan Rashad, tersebut membahas konflik yang melibatkan Iran, Jalur Gaza, dan Sudan, serta serangan terhadap negara-negara Teluk dan ancaman terhadap keamanan maritim.
Baca Juga: Houthi Warning Negara-negara Lain: Jangan Gabung Arab Saudi dalam Perang Saudara Yaman!
"Sisi menekankan pentingnya penyelesaian krisis regional melalui jalur politik dan diplomasi," bunyi pernyataan pihak Kepresidenan Mesir, yang dikutip The New Arab, Senin (21/9/2026).
Pertemuan ini berlangsung setelah Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan perjalanan atau travel warning bagi para warga Amerika ke Timur Tengah, di tengah memanasnya konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman."Konflik militer ini berpotensi mengalami eskalasi dengan cepat," kata departemen tersebut.Kekerasan yang terjadi telah mengganggu lalu lintas udara dan laut serta ekspor energi, sehingga mendorong harga minyak dunia melampaui angka USD100 per barel.
Kunjungan Ratcliffe dilakukan beberapa hari setelah pemimpin de facto Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, bertemu dengan Sisi di Kairo.
Keduanya mendesak terciptanya navigasi maritim yang aman dan terjamin di Selat Bab al-Mandab, setelah kelompok Houthi menguasai wilayah pesisir Yaman dalam sebuah serangan kilat.
Media AS pekan lalu melaporkan bahwa Washington menolak permintaan Arab Saudi untuk melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi.
Washington kemudian menyetujui penjualan 48 unit jet tempur siluman F-35 senilai USD24,3 miliar kepada kerajaan tersebut. "Untuk membantu Riyadh menangkal ancaman saat ini maupun di masa depan," kata Departemen Luar Negeri AS.Kairo merupakan sekutu utama AS di kawasan tersebut dan salah satu penerima bantuan militer AS terbesar.
Mesir kerap memosisikan diri sebagai kekuatan penstabil di kawasan yang penuh gejolak, dengan tetap menjaga saluran komunikasi terbuka bersama pihak-pihak yang berseteru, termasuk Israel, Hamas, dan Iran.
Kantor al-Sisi menyatakan bahwa pada hari Minggu, "Ratcliffe memuji peran penting Mesir dalam mendukung upaya pencapaian penyelesaian damai dan komprehensif atas krisis regional."









