China Tak akan Tunduk pada Tekanan AS untuk Berhenti Beli Minyak Iran

China Tak akan Tunduk pada Tekanan AS untuk Berhenti Beli Minyak Iran

Global | sindonews | Jum'at, 21 Agustus 2026 - 19:31
share

Tidak ada indikasi China berniat mematuhi tekanan Amerika Serikat untuk berhenti membeli minyak Iran. China tetap bersikap menolak sanksi sepihak AS dan menegaskan perdagangan antara kedua negara sepenuhnya merupakan urusan mereka sendiri.

Beijing adalah pembeli terbesar minyak mentah Iran, yang menyerap sekitar 80 dari pengiriman minyak negara tersebut. Sebagian besar pasokan ini disalurkan ke kilang-kilang kecil—yang dikenal sebagai kilang "teapot"—melalui jaringan kapal tanker yang mampu menyamarkan asal-usul minyak tersebut.

China sebenarnya tidak terlalu bergantung pada minyak Iran dan secara teoretis bisa saja berhenti membelinya jika Washington memberikan tekanan yang cukup kuat.

Namun, langkah tersebut akan membawa konsekuensi politik yang besar bagi Presiden Xi Jinping, karena Beijing tidak ingin memberi kesan bersedia "tunduk atau patuh di bawah tekanan AS".

Sikap tunduk China dapat menciptakan preseden berbahaya baik di dalam negeri maupun di kancah internasional.Perselisihan ini muncul menjelang rencana kunjungan Xi ke Washington pada 24 September.

Ketegangan lain—termasuk pembatasan AS terhadap perusahaan teknologi China dan tekanan bagi negara-negara lain untuk menentukan sikap dalam persaingan kecerdasan buatan (AI)—sudah membayangi pertemuan tersebut.

Kendati demikian, sejauh ini belum ada tanda-tanda ketegangan tersebut akan menggagalkan kunjungan itu.

Bagi Washington, salah satu tujuan utamanya adalah memastikan kelancaran pasokan mineral tanah jarang (rare-earth minerals) yang krusial dari China, sementara Beijing ingin mempertahankan gencatan senjata perdagangan dan menjaga tarif tetap rendah.

Beijing juga menolak ancaman AS tersebut. Menanggapi pertanyaan dari Bloomberg pada hari Kamis, juru bicara Kementerian Luar Negeri Lin Jian menyatakan "sanksi dan taktik tekanan bukanlah solusi" serta menyerukan "pendekatan politik dan diplomasi."Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menepis ancaman tersebut.

"Bersikeras melanjutkan kebijakan yang telah gagal hanya akan berujung pada kekalahan lebih lanjut," tulis Araghchi di platform X pada hari Kamis. "Terorisme ekonomi AS mengancam ekonomi global dan kedaulatan di seluruh dunia."

China merupakan pembeli terbesar minyak Iran, dengan angka pembelian mencapai lebih dari 80 dari total ekspor minyak mentah negara tersebut pada tahun 2025, menurut data Kpler yang dikutip oleh Reuters.

AS berpendapat Beijing memiliki kepentingan kuat untuk bekerja sama dalam penerapan sanksi AS karena ketergantungannya pada pasokan energi yang melewati Selat Hormuz. AS mengklaim Tiongkok memperoleh "50 [dari] energinya dari wilayah Teluk."

Namun, sumber pasokan energi China sebenarnya jauh lebih beragam. Menurut AFP, Tiongkok mengimpor 36 minyak mentahnya dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, dan Irak pada tahun 2025, sembari juga membeli dalam jumlah besar dari produsen di luar kawasan Teluk, terutama Rusia.

Sekitar 30 impor LNG China masuk melalui Selat Hormuz pada tahun 2025, namun Beijing juga memperoleh pasokan LNG dari sumber lain serta menerima pasokan gas dalam jumlah signifikan melalui pipa dari Rusia dan Asia Tengah.

Baca juga: Iran Ejek AS Memohon Bantuan Sekutu usai Kalah

Topik Menarik