Houthi Warning Negara-negara Lain: Jangan Gabung Arab Saudi dalam Perang Saudara Yaman!
Kelompok Houthi mengeluarkan peringatan kepada negara-negara lain untuk tidak bergabung dengan Arab Saudi dalam perang saudara Yaman yang kembali berkobar. Secara khusus, kelompok pro-Iran ini meyakinkan pemerintah Presiden Donald Trump bahwa mereka tak akan menyerang kapal-kapal Amerika Serikat (AS) di Laut Merah.
Mohamed al-Bukhaiti, anggota biro politik Houthi, mengatakan kelompoknya telah dihubungi Washington setelah pasukan mereka bergerak maju dengan cepat menyusuri pesisir barat Yaman hingga mencapai Selat Bab el-Mandeb awal bulan ini.
Baca Juga: Arab Saudi Akui Ibu Kotanya Diserang Rudal Houthi, Perang Makin Meluas
Mantan Sales Mobil Ini Baru Diakui sebagai Anak Pangeran Belgia setelah 26 Tahun, Tes DNA Cocok
“Kami telah menegaskan bahwa kami tidak menargetkan Amerika Serikat maupun negara lain di selat tersebut, dengan satu-satunya pengecualian adalah Saudi,” katanya kepada AP pada hari Minggu dalam wawancara melalui Zoom dari Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai pemberontak Houthi. “Hal itu masih berlaku.”
Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan lalu mengatakan pemerintahannya telah melakukan pembicaraan dengan Houthi, tetapi tidak menyebutkan kapan pembicaraan itu berlangsung.“Houthi menghubungi kami dan mereka tidak ingin berperang dengan kami,” katanya. “Mereka jauh lebih memilih agar kami tidak terlibat, dan mereka membiarkan sebagian besar kapal melintas.”
AP kemudian melaporkan bahwa Oman menjadi tuan rumah pertemuan antara perwakilan AS dan Houthi pada akhir pekan lalu. Laporan tersebut mengutip seorang pejabat Houthi dan individu lain yang mengetahui pembicaraan tersebut. Mereka berbicara secara anonim karena tidak berwenang memberikan informasi kepada media.Namun, al-Bukhaiti hanya mengonfirmasi adanya kontak tidak langsung dengan pejabat AS melalui Oman, yang telah lama menjadi mediator. Oman sebelumnya menjadi perantara gencatan senjata pada 2025 antara Houthi dan pemerintahan Trump. Kesepakatan tersebut mengakhiri kampanye pengeboman AS terhadap kelompok pemberontak selama beberapa pekan, dengan imbalan penghentian serangan Houthi terhadap kapal-kapal AS di Laut Merah.
“Tujuan operasi militer kami bukan untuk menutup Selat Bab el-Mandeb, melainkan untuk memastikan kebebasan navigasi melalui selat tersebut bagi semua pihak, termasuk Yaman,” katanya.
Al-Bukhaiti mengatakan kelompok Houthi memiliki kemampuan untuk berperang di banyak front. “Jika ada negara mana pun yang terlibat dalam agresi terhadap Yaman bersama Arab Saudi," ujarnya.
“Hari ini, Yaman mampu melancarkan perang—bukan sekadar konflik internal, tetapi juga konflik internasional,” katanya.
Dia mengatakan serangan Houthi terhadap negara tetangga, Arab Saudi, akan terus berlangsung sampai Riyadh mengakhiri blokade selama satu dekade terhadap wilayah-wilayah Yaman yang dikuasai Houthi dan mengizinkan kapal-kapal mencapai pelabuhan-pelabuhan di Laut Merah yang dikuasai Houthi.
Setelah itu, katanya, mereka siap berunding.Al-Bukhaiti menyalahkan Arab Saudi atas eskalasi kekerasan terbaru di Yaman. Menurutnya, kekerasan tersebut pecah setelah serangan udara yang dituduhkan kepada koalisi pimpinan Saudi yang memerangi pemberontak menghantam Bandara Internasional Sanaa.
Serangan tersebut mencegah sebuah pesawat Iran yang membawa delegasi Houthi untuk mendarat. Penerbangan itu merupakan upaya Houthi untuk menantang blokade udara dan laut yang diberlakukan koalisi.
Houthi kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap Arab Saudi, termasuk serangan yang menargetkan Riyadh pada Sabtu sebelum berhasil dicegat.
Pejabat Saudi mengatakan puing-puing drone Houthi juga menewaskan seorang warga sipil dan melukai sejumlah orang lainnya.
Houthi juga menyatakan blokade terhadap pelayaran Saudi di Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah. Mereka menyerang kapal-kapal yang terkait dengan Saudi serta fasilitas minyak di dalam wilayah kerajaan tersebut, yang merupakan eksportir minyak terbesar di dunia.
Arab Saudi dan sekutunya telah lama kesulitan membendung Houthi dan mungkin terdorong untuk mencari solusi diplomatik guna menghentikan serangan tersebut.Upaya itu pada akhirnya mungkin membutuhkan konsesi AS kepada Iran, satu-satunya negara yang memiliki pengaruh terhadap Houthi. Namun, perundingan Washington dengan Teheran mengenai perang mereka sendiri telah runtuh beberapa pekan lalu.
“Kami belum menutup pintu bagi perdamaian,” kata Mahdi al-Mashat, presiden Dewan Politik Tertinggi Houthi, badan eksekutif tertinggi kelompok tersebut, dalam pidato pada Minggu untuk memperingati pengambilalihan Sanaa oleh Houthi pada 2014.
AS, yang membombardir Houthi di bawah pemerintahan Joe Biden dan Donald Trump, kali ini tidak menunjukkan minat untuk terlibat secara militer.
Kemajuan pasukan pemberontak Houthi di Yaman membuat mereka merebut kota pelabuhan penting Mokha serta sejumlah pulau strategis di Laut Merah yang memungkinkan mereka memantau lalu lintas pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb dengan lebih baik.
Sekitar 12 persen perdagangan dunia biasanya melewati selat tersebut.
Pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, yang selama ini terpecah menjadi berbagai faksi, telah menarik diri tetapi berjanji akan berkumpul kembali.Eskalasi tersebut mengakhiri gencatan senjata 2022 yang pada dasarnya telah menghentikan sebagian besar pertempuran dalam perang saudara Yaman.
Perang tersebut bermula ketika Houthi bergerak keluar dari basis mereka di wilayah pegunungan dan merebut sebagian besar wilayah Yaman bagian utara dan tengah, termasuk Sanaa, 12 tahun lalu.
Rusia Buru Putra Menkes AS yang Juga Eks Pacar Taylor Swift karena Jadi Tentara Bayaran Ukraina
Koalisi pimpinan Arab Saudi memasuki perang pada tahun berikutnya untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Perang saudara tersebut menewaskan sedikitnya 150.000 orang, menurut perkiraan PBB, dan mendorong negara itu ke ambang kelaparan.
Kini, kata al-Bukhaiti, dengan Houthi menguasai pesisir barat Yaman yang menghadap koridor pelayaran Laut Merah, keseimbangan kekuatan telah bergeser untuk mendukung pemerintahan Sanaa—mengacu pada pemerintahan Houthi.
“Pada akhirnya, (Arab Saudi) kehilangan kartu terpentingnya: pesisir barat,” katanya.







