Pertempuran di Yaman Meluas, Eskalasi Memanas dan Tidak Ada yang Mau Mundur
Kekerasan yang terus berlangsung di Yaman antara pasukan pemerintah dan pasukan Houthi kemungkinan akan berlanjut dan semakin memanas.
"Tidak ada pihak yang mau mundur. Pemerintah Yaman akan berupaya merebut kembali wilayah-wilayah yang sempat hilang. Kelompok Houthi bersikeras untuk terus maju, tidak hanya di satu lokasi, melainkan di berbagai lokasi. Jadi, situasi ini akan menjadi berdarah," ujar Hisham Al-Omeisy, penasihat senior urusan Yaman di European Institute of Peace.
Meskipun pemerintah Yaman memiliki waktu untuk menata ulang dan mengoordinasikan pasukannya, kelompok Houthi mampu memanfaatkan masalah struktural dalam koalisi yang didukung Arab Saudi untuk keuntungan mereka sendiri, "dan kita melihat dampaknya selama sepekan terakhir ini," tambahnya.
Menurut Al-Omeisy, satu-satunya jalan keluar bagi konflik yang telah berlangsung selama 12 tahun dan membawa kehancuran ini adalah melalui perundingan damai. "Tidak ada pihak yang mampu melumpuhkan pihak lawan," katanya. "Kita selalu berakhir pada kebuntuan militer. Jadi, pada akhirnya, negosiasi harus dilakukan."
Kemudian, Kelompok Houthi menegaskan bahwa Arab Saudi "tidak akan aman" selama negara Teluk tersebut terus melancarkan permusuhan terhadap kelompok bersenjata Yaman itu.Riyadh telah "memulai dan terus melanjutkan agresi serta blokade terhadap Yaman selama 12 tahun," ungkap kelompok tersebut dalam sebuah pernyataan. Mereka juga mengklaim bahwa Arab Saudi telah melancarkan 350 serangan udara dalam kurun waktu lima hari dari pangkalan-pangkalan di wilayah Khamis Mushait dan Taif, yang terletak di bagian barat daya negara itu.
Pekan lalu, otoritas Arab Saudi menyatakan bahwa kelompok Houthi menyerang target-target sipil di wilayah selatan Arab Saudi, yang mengakibatkan lebih dari 70 orang terluka dan merusak fasilitas minyak.
Setelah pasukan Houthi menguasai pesisir Laut Merah Yaman, Selat Bab al-Mandeb menjadi faktor yang "sangat penting" dalam situasi ini, menurut analis militer Elijah Magnier. Di tengah konflik yang melibatkan Selat Hormuz, "8,1 juta barel minyak melintasi Bab al-Mandeb"; jadi, ketika pasukan Houthi mengancam pelayaran Arab Saudi, mereka "mengganggu pasokan minyak ke seluruh dunia," ujarnya kepada Al Jazeera.
"Terusan Suez di Mesir sebenarnya tidak dapat menampung kapal tanker berukuran besar," sehingga "pengiriman melalui Laut Merah menjadi terbatas," yang pada akhirnya menciptakan "gangguan" terhadap pergerakan minyak di kawasan tersebut secara keseluruhan, paparnya.
Ini adalah proses yang "mau tidak mau tidak dapat dipisahkan dari apa yang sedang terjadi di Selat Hormuz."
"Kita melihat keterkaitan antara kedua titik lintas penting tersebut—baik Selat Hormuz maupun Bab al-Mandeb—yang sama-sama berdampak buruk terhadap harga minyak."








