Media Zionis: Pangeran Mohammed bin Salman Minta Bantuan Israel untuk Melawan Houthi Yaman
Sebuah laporan dari surat kabar Zionis, Israel Hayom, pada hari Minggu menyebutkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) telah meminta bantuan kepada negara-negara kawasan Timur Tengah, dan secara tidak langsung kepada Israel, terkait perang antara kerajaan tersebut melawan kelompok Houthi Yaman.
Sumber-sumber diplomatik yang dikutip dalam laporan itu menyatakan bahwa pendekatan terhadap Israel dilakukan melalui Komando Pusat Amerika Serikat (AS) atau CENTCOM dan mencakup permintaan dukungan intelijen serta bantuan lainnya, dengan tujuan mencegah penutupan Selat Bab al-Mandeb.
Baca Juga: Pangeran Mohammed bin Salman Minta Bantuan AS untuk Serang Houthi, tapi Amerika Menolak
Seorang pejabat, yang dikutip Israel Hayom tanpa disebut identitas dan asal negaranya, mengatakan bahwa serangan udara AS dapat dilakukan jika Houthi menempatkan radar dan peluncur rudal di posisi yang telah mereka kuasai.
“Syarat untuk melakukan itu adalah jika radar dan peluncur rudal ditempatkan di posisi-posisi yang telah direbut tersebut,” katanya.Pihak Kerajaan Arab Saudi belum berkometar atas laporan tentang upaya Pangeran Mohammed bin Salman meminta bantuan Israel.Sebelumnya, laporan media AS; Axios, menyebutkan bahwa Pangeran Mohammed bin Salman meminta bantuan Presiden AS Donald Trump untuk menyerang kelompok Houthi. Penguasa de facto Arab Saudi itu bahkan disebut menelepon Trump hingga dua kali. Namun, menurut laporan itu, Trump menolak permintaan Arab Saudi.
Laporan tentang permintaan bantuan oleh Arab Saudi ini muncul di tengah langkah kelompok Houthi yang memperluas jangkauan serangan rudal mereka hingga jauh ke dalam wilayah Kerajaan Saudi.
Otoritas Arab Saudi menyatakan bahwa sebuah proyektil Houthi merusak masjid di wilayah Jazan dan melukai dua orang. Selain itu, badan Pertahanan Sipil Saudi sempat mengeluarkan peringatan bagi penduduk kegubernuran Khamis Mushait sebelum akhirnya mencabutnya.
Kapal Induk Nuklir George Washington AS Sudah Tiba di Timur Tengah untuk Perang Melawan Iran
Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, sebelumnya mengatakan bahwa serangan Houthi terhadap lokasi sipil dan ekonomi di Abha, Khamis Mushait, Jizan, dan Najran telah melukai sedikitnya 73 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.
Pihak militer Houthi menyatakan serangan tersebut merupakan balasan atas lebih dari 100 serangan udara Saudi di Yaman selama tiga hari, serta mengeklaim telah meluncurkan puluhan rudal balistik dan pesawat nirawak.Sebagai balasan, pesawat-pesawat Saudi melancarkan serangan di berbagai wilayah Yaman. Juru bicara Houthi, Yahya Saree, mengatakan pasukan Saudi melakukan 54 serangan di enam provinsi dalam waktu dua belas jam—menyasar al-Jawf, Marib, Taiz, Hodeidah, Saada, dan al-Bayda—dengan pesawat yang diberangkatkan dari Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait dan Pangkalan Udara King Fahd di Taif. Arab Saudi juga mengebom bandara di Mokha setelah Houthi merebut kota pelabuhan di Laut Merah tersebut.
Pergerakan maju Houthi menyusuri garis pantai inilah yang membuat Riyadh khawatir. Pasukan Houthi merebut Pulau Perim di tengah Selat Bab al-Mandeb setelah pasukan pemerintah mundur, serta menguasai Dhubab—kota besar terakhir yang dikuasai pemerintah di pesisir barat—dan mengepung lebih dari dua ribu tentara pemerintah di Kepulauan Hanish.
Pertempuran kembali pecah pada bulan Juli setelah rudal dan pesawat nirawak Houthi menghantam Bandara Internasional Abha—menyusul serangan terhadap Bandara Sanaa—yang mengakhiri periode ketenangan relatif di bawah gencatan senjata yang ditengahi PBB. Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dan pejabat setempat, lebih dari 500 orang tewas dan puluhan ribu lainnya mengungsi.









