Liga Arab Klaim Ledakan Baru Akan Terjadi jika Situasi Palestina Tak Berubah

Liga Arab Klaim Ledakan Baru Akan Terjadi jika Situasi Palestina Tak Berubah

Global | sindonews | Minggu, 13 September 2026 - 18:22
share

Sekretaris Jenderal Liga Arab, Nabil Fahmy, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ia memperkirakan akan terjadi "ledakan baru" di kawasan tersebut jika situasi di wilayah Palestina yang diduduki tidak berubah.

Ia mengatakan bahwa sebelum serangan Oktober 2023, Israel sudah menyadari bahwa situasi tersebut pasti akan mengarah pada suatu ledakan.

Ia menyebutkan bahwa pelanggaran Israel terhadap "gencatan senjata" menghambat pelaksanaannya, sementara "pihak Palestina berkomitmen pada kesepakatan gencatan senjata Gaza".

Fahmy menyatakan keyakinannya bahwa situasi saat ini membuat penerapan solusi dua negara menjadi "lebih sulit dibandingkan sebelumnya".

AS menengahi kesepakatan "gencatan senjata" antara Israel dan Hamas pada Oktober 2025, namun Israel telah menewaskan sedikitnya 1.369 warga Palestina sejak saat itu.

Fahmy mengatakan bahwa krisis di Lebanon tidak terbatas pada Hizbullah saja, melainkan juga mencakup berlanjutnya pendudukan oleh Israel.

Kemudian, Fahmy juga mengatakan kepada Al Jazeera bahwa konflik di kawasan Teluk tidak dapat diselesaikan melalui intervensi militer dan memperingatkan bahwa "krisis ini berpotensi terus berlanjut".

Fahmy berpendapat bahwa negara-negara Arab perlu "menetapkan landasan yang jelas" dalam hubungan mereka dengan Iran di masa mendatang. Ia juga mengatakan bahwa Teheran "harus mengubah kebijakannya", seraya menggambarkan peran Iran terhadap beberapa negara Arab sebagai hal yang "sangat negatif".

Sebelumnya, hampir 250 pemukim Israel telah memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki, tempat mereka melakukan doa dan ritual di bawah perlindungan tentara Israel.

Non-Muslim diizinkan mengunjungi kompleks Al-Aqsa, namun melakukan ibadah atau doa tidak diperbolehkan berdasarkan kesepakatan status quo tahun 1967 yang mengatur situs tersebut. Kompleks tersebut dianggap sebagai situs tersuci ketiga dalam Islam dan kerap menjadi sasaran provokasi oleh Menteri Keamanan Nasional Israel dari kubu sayap kanan jauh, Itamar Ben-Gvir, yang telah memimpin aksi penerobosan ke area tersebut beberapa kali sejak menjabat pada tahun 2022.

Topik Menarik