Selat Hormuz Tak Akan Lagi Berharga dalam 2 Tahun, Gertakan AS atau Babak Baru Energi Global?

Selat Hormuz Tak Akan Lagi Berharga dalam 2 Tahun, Gertakan AS atau Babak Baru Energi Global?

Ekonomi | sindonews | Senin, 7 September 2026 - 17:34
share

Menteri Keuangan Amerika Serikat (Menkeu AS), Scott Bessent melontarkan pernyataan yang bakal mengguncang panggung ekonomi global, atau tepatnya pasar energi. Bessent memprediksi, Selat Hormuz yang merupakan jalur navigasi paling krusial bagi pasokan migas dunia akan menjadi jalur yang 'tak berharga' (worthless) bagi industri minyak dalam waktu dua tahun ke depan.

Di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Menteri Keuangan G20 di North Carolina, Bessent secara terbuka menegaskan bahwa ketergantungan dunia pada titik sempit (chokepoint) tersebut akan segera berakhir seiring masifnya pengalihan rute melalui jaringan pipa darat.

Bessent menekankan bahwa Selat Hormuz saat ini bukan lagi titik lemah bagi ketahanan energi Amerika Serikat (AS). Menurut data Energy Information Administration (EIA), impor minyak mentah AS dari negara-negara Teluk Persia telah anjlok ke level terendah dalam kurun 40 tahun terakhir, dimana hanya menyumbang sekitar 7 dari total impor minyak AS akibat melonjaknya produksi domestik dan pasokan dari Kanada.

Selain itu berdasarkan data International Energy Agency (IEA), hampir 34 minyak mentah dunia melintasi Selat Hormuz pada 2025, di mana porsi terbesar mengekor ke pasar Asia. Baca Juga: Peta Minyak Dunia Dirombak Total! Jalur Utama Lumpuh, Negara Importir Menanggung Beban Mahal

"Dalam dua tahun, Selat Hormuz hanya akan menjadi bentangan air yang tak berharga. Minyak akan dialirkan sepenuhnya melalui jaringan pipa melintasi daratan," tegas Bessent dalam wawancaranya bersama Larry Kudlow dari Fox Business.

Pembatasan lalu lintas kapal oleh militer Iran selama lebih dari enam bulan sejak perang melawan AS dan Israel pecah telah memicu lonjakan harga energi di tingkat global. Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak melampaui USD95 per barel, jauh meloncat dari posisi USD72,48 sebelum konflik pecah pada akhir Februari 2026.

Baca Juga: Selat Hormuz Sempat Lumpuh, Raja-raja Minyak Arab Garap Proyek Pipa Raksasa

Sementara itu di AS, harga BBM eceran melambung tinggi hingga USD4,09 per galon. Sedangkan untuk mengimbangi gangguan ini, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan UEA mempercepat pengoperasian jalur pipa eksisting, sementara Irak dan Turki tengah merampungkan kesepakatan pembangunan jaringan pipa baru.

Meski para pengamat menilai pembangunan infrastruktur ini memakan waktu bertahun-tahun, Washington optimis peta logistik energi akan bergeser secara permanen.

Strategi Tutup Napas Ekonomi Iran

Di sisi militer dan diplomasi, AS terus memperketat cengkeramannya di perairan Teluk. Komando militer AS mengawal kapal-kapal tanker melalui koridor selatan Oman sekaligus menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Langkah ini berjalan seiring dengan perang ekonomi yang diluncurkan Departemen Keuangan AS, yang baru saja menjatuhkan sanksi terhadap hampir 60 entitas, individu, dan kapal penyokong pemerintah Iran. Bessent mengimbau seluruh negara untuk memutuskan hubungan finansial dengan Iran atau menghadapi risiko terisolasi dari sistem dolar AS.

"Kami tidak memiliki toleransi sedikit pun. Kami akan mencekik rezim ini secara ekonomi," tegas Bessent.

Topik Menarik