Wall Street Berakhir di Rekor Tertinggi, Didorong Laporan Penurunan Jumlah Lapangan Kerja

Wall Street Berakhir di Rekor Tertinggi, Didorong Laporan Penurunan Jumlah Lapangan Kerja

Ekonomi | idxchannel | Sabtu, 8 Agustus 2026 - 07:04
share

IDXChannel - Wall Street berakhir di rekor tertinggi pada hari Jumat (8/8/2026), didorong oleh laporan penurunan jumlah lapangan kerja bulanan pertama di AS sejak Februari. Sehingga membuat para pedagang mengurangi spekulasi mengenai kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Dilansir dari laman Investing Sabtu (8/8/2026), pasar saham juga mencatatkan kinerja mingguan terbaiknya sejak pertengahan April, didukung oleh penurunan harga minyak, musim laporan keuangan yang kuat, dan pemulihan saham-saham sektor cip.

Indeks acuan S&P 500 naik 0,6 persen dan ditutup pada level rekor 7.753,92 poin. Indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi naik 1,3 persen dan berakhir di posisi 26.690,62 poin, mendekati rekor penutupan sebelumnya yang dicapai pada awal Juni. Indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average naik 0,3 persen dan ditutup pada level 54.036,52 poin.

Selama sepekan, Nasdaq memimpin kenaikan dengan lonjakan 5,2 persen, diikuti oleh S&P sebesar 3,5 persen dan Dow sebesar 3 persen. Ini merupakan pekan terbaik bagi ketiga indeks tersebut sejak 17 April.

"Laporan ketenagakerjaan menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan meredam imbal hasil obligasi, yang menjadi pendorong bagi kenaikan harga saham," ujar Mark Luschini, Kepala Strategi Investasi di Janney Montgomery Scott, kepada Investing.com.

"Sektor teknologi kembali memimpin pasar, yang membantu menghasilkan imbal hasil cukup besar bagi S&P 500 pekan ini, sekaligus mendorong pasar saham ke rekor tertinggi. Meredanya ketegangan terkait konflik Iran telah menurunkan harga minyak; hal ini berpotensi mendorong belanja konsumen dan mengurangi kekhawatiran mengenai dampak lanjutan dari tingginya biaya energi terhadap inflasi," kata dia.

"Situasi dengan tingkat perekrutan dan pemutusan hubungan kerja yang rendah masih terus berlanjut, namun untuk saat ini hal tersebut cukup untuk mendorong belanja, tanpa memicu lonjakan permintaan yang dapat menghambat penurunan inflasi dalam beberapa bulan mendatang. Jika data inflasi dalam beberapa bulan ke depan mengonfirmasi kondisi tersebut, gambaran laba perusahaan semestinya akan mendorong pasar saham mencapai rekor tertinggi baru," ujar Luschini.

(kunthi fahmar sandy)

Topik Menarik